Label

Agama dan kepercayaan entah kenapa menjadi sepasang sinonim. Dan entah kenapa saya agak kurang setuju dengannya.

Karena mungkin saja seseorang mempunyai agama, tapi dia tidak percaya. Saya katakan mungkin karena setidaknya ada satu orang di dunia ini yang begitu. Yang sedang mengetik entri blog ini.

Secara hukum yang berlaku di Indonesia, saya punya agama. Tercetak jelas di KTP Republik Indonesia bahwa saya menganut sebuah agama.

Tapi saya tidak percaya.

Saya memandang agama sebagai sebuah ajaran. Saya menjalani ajaran yang terkandung dalam agama saya. Saya berusaha menjalankan latihan-latihan kemoralan, berusaha mengembangkan sifat-sifat baik (cinta kasih, belas kasih, simpati, ketenangan batin), dan prinsip lainnya.

Dua dari prinsip-prinsip itu adalah ehipassiko (datang dan buktikan) serta ketidakmelekatan.

Ehipassiko adalah sebuah prinsip, atau lebih tepatnya anjuran, untuk tidak asal mempercayai segala sesuatu. Bahkan bila sesuatu itu tertulis dalam kitab suci sekalipun.

Seperti agama-agama lainnya, kitab suci agama Buddha juga memiliki kisah-kisah yang lebih mirip karangan fiksi. Kisah-kisah yang sedikit di luar logika manusia yang hidup pada abad dua puluh satu di mana yang bisa terbang hanyalah Harry Potter (itupun harus menaiki Nimbus 2100, dan kemudian Firebolt).

Mulailah saya mengabaikan kisah-kisah ajaib itu. Toh sejak dulu saya juga diajarkan bahwa Buddha (Siddharta Gautama) bukanlah sosok yang patut dituhankan, didewakan, dipercaya, apalagi sampai disembah. Buddha adalah seorang guru, dan yang terpenting dari seorang guru adalah ajarannya.

Yang kedua adalah soal ketidakmelekatan.

Dulu saya sering merasa miris sekali bila agama saya dikategorikan sebagai ‘yang lainnya’ dalam sebuah formulir. Dulu saya menganggap bahwa adalah penting untuk melabeli diri saya ‘Buddhis’. Penting bagi orang untuk tahu soal itu.

Lalu saya melihat orang-orang fanatik dari berbagai agama yang mereka anut. Yang memamerkan status mereka sebagai penganut ajaran tertentu, mengumbarnya di hadapan umum, menganggap rendah ajaran lain, hingga yang menjurus ke multilevel marketing: selalu mencari member baru.

Saya tidak mau menjadi orang seperti itu. Melekat pada label yang pada akhirnya mencolok mata orang banyak.

Lagipula, pengalaman saya sebagai minoritas di Indonesia mengajarkan satu hal: ini negara dengan pluralisme yang tinggi, yang sayangnya masih belum bisa menyatukan yang plural tadi menjadi singular.

Teman saya seringkali kaget begitu mengetahui saya bukan Muslim, apalagi ketika mengetahui bahwa saya masih keturunan Cina. Salah satu kekagetan itu berujung sebuah pengakuan, bahwa mereka mengetahui status dan keturunan saya sebelum kami benar-benar berteman, pasti mereka sudah menjauhi saya karena stereotipe yang beredar tentang label-label yang melekat pada saya tersebut.

Entah sejak kapan, ajaran yang saya jalani adalah sebuah prinsip hidup yang saya simpan bagi diri sendiri. Yang hanya saya buka bila ada yang menanyakan. Yang saya jalani karena saya rasa masuk akal.

Pada akhirnya, ajaran tersebut adalah universal dan bukannya eksklusif untuk orang-orang yang menganut agama tertentu. Dan yang terpenting dari sebuah ajaran adalah prakteknya, yang kemudian membuahkan hasil dan dilihat orang lain. Penglihatan yang akan lebih objektif bila tidak dihalangi label-label yang membutakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s