Becak di Pilar

Ada sebuah pertigaan di Cikarang yang biasa disebut Pilar, entah apa alasannya. Bagi saya Pilar adalah tempat turun dari satu angkot dan naik ke angkot lainnya. Tempat membeli air mineral jika saya kehausan. Tempat membeli edisi khusus sebuah majalah.

Beberapa hari ini Pilar adalah pertigaan yang digenangi air hingga lebih dari mata kaki saya. Sudah dua pasang sepatu yang menjadi korban genangan air itu. Malam ini saya bertekad untuk menyelamatkan satu pasang sepatu merah yang sudah saya injak-injak seharian.

Untungnya, Pilar adalah tempat abang-abang becak mangkal. Duduk-duduk sambil menunggu penumpang.

Dengan menaiki becak, saya mengarungi genangan air yang sudah memakan banyak sepatu dan celana sebagai korban. Namun ternyata, kombinasi becak dan Pilar membawa kembali sebuah kenangan yang sudah lama tenggelam.

* * *

Setiap orang punya teman masa kecil yang sekarang tidak pernah kita jumpai lagi. Bagi saya, teman kecil itu bernama Paula.

Kami bermain dan belajar di TK yang sama, lalu pulang dengan jenis kendaraan yang sama, ke arah yang sama.

Pertigaan Pilar adalah titik perpisahan kami.

Jok becak yang masih basah mengingatkan saya akan Paula. Lebih tepatnya, akan kompetisi kami berdua.

Dulu, setiap kelas dibubarkan dan tangan guru sudah lelah disalami, kami langsung berlari ke depan sekolah. Kami langsung menuju ke abang becak jagoan kami, yang masih muda dan bertenaga. Lalu kami (dan pengasuh masing-masing tentunya) naik ke becak pilihan. Sepanjang perjalanan, kami akan berteriak-teriak, saling menyemangati abang becak jagoan masing-masing. Siapapun yang becaknya sampai di Pilar duluan adalah pemenangnya.

Saya tidak pernah ingat bagaimana hasilnya, ataupun hadiah bagi sang pemenang. Saya juga tidak yakin Paula masih ingat tentang kompetisi masa kecil kami. Saya sendiri baru ingat ketika naik becak di Pilar malam ini. Dan saya sangsi ada becak di Singapura yang bisa mengingatkan Paula.

Kami bertambah dewasa, dan jarak pun ikut bertambah. Kenangan perlahan tenggelam, bahkan bila kita melewati tempat terjadinya kenangan itu setiap hari.

Sudah bertahun-tahun lamanya sejak terakhir kali saya bertemu dengan dia. Kami memang masih berhubungan di jejaring sosial. Tapi sekarang Paula hanyalah sebuah akun Twitter yang saya follow dan Instagram berisi foto-foto Singapura yang tentunya berbeda dengan tempat-tempat yang saya kunjungi ketika bersamanya.

Sekarang saya sama sekali tidak menyesal akan keputusan saya menaiki becak dai Pilar hingga ke rumah.

Lima belas ribu yang sekarang berada di kantong abang becak itu bukan cuma berhasil mencegah sepatu saya tenggelam dalam genangan air, tapi juga membawa kembali kenangan ke permukaan.

Kenangan saya dan Paula, bersama becak masing-masing, berpacu hingga ke Pilar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s