Anak jalanan

Sebuah sosok kecil muncul di ambang pintu angkot yang saya tumpangi. Tanpa bertanya, saya sudah bisa menebak siapa dia. Seorang pengamen jalanan.

Ketika melihat isi angkot diterangi sinar kuning bohlam, dia pun membatalkan niatnya untuk bernyanyi. Selain saya, memang hanya ada satu penumpang lainnya. Alih-alih turun dan mencari penonton di angkot lain, dia membuka pintu depan dan duduk di samping abang supir.

“Bang, nukerin uang dong dua puluh ribu.”

Dari posisi saya yang duduk di belakang supir, saya bisa melihat tangan kecil;nya mengulurkan setumpuk uang receh yang sudah diselotip rapi.

“Asli nih? Ntar palsu lagi,” tanya supir angkot.

Memang, kadang kita tidak bisa main percaya begitu saja. Bahkan kepada anak kecil sekalipun.

“Asli Bang. Saya mah nggak pernah bohong. Itu duit ngamen saya Bang dari tadi.”

Lalu transaksi itu terjadi dalam sunyi. Sampai tubuh kurus kecil itu mengeluarkan sebuah suara yang akrab dengan saya beberapa hari ini.

Batuk.

Seperti banyak orang, saya dan anak itu terkena penyakit yang datang tiap musim hujan. Batuk, pilek, flu ringan. Penyakit ini yang melipatgandakan efek gravitasi pada kepala saya sehingga sulit untuk berkonsentrasi di kelas. Penyakit ini yang juga membuat saya merasa kedinginan di dalam angkot meskipun sudah memakai tiga lapis pakaian.

Dan anak ini hanya berbalut selapis kaus kumal dan celana pendek.

“Udah pulang lu Tong*?” tanya si Abang memecah keheningan.

“Udah Bang. Ngasih duit ke emak saya.”

“Dapet berapa lu hari ini?”

“Empat puluh. Dua puluh buat emak, dua puluh buat saya.”

Saya tertegun mendengarnya. Saya tidak tahu kondisi keluarganya seperti apa sehingga dia harus mengamen sejak tadi, di hari hujan, meskipun sedang sakit, untuk uang dua puluh ribu rupiah.

Dua puluh ribu, yang dia berikan kepada ibunya. Entah kenapa, lebih terdengar sebagai semacam setoran. Seperti bukan pemberian dari anak ke ibu, tapi lebih seperti supir angkot yang menyetor uang sewa kepada pemilik angkot yang sebenarnya.

Beberapa menit kemudian kedua sosok di jok depan membicarakan soal rumah si anak itu, yang terletak di dekat Bapelkes. Apakah dia mengenal Bapak Anton yang Orang Madura atau tidak (ternyata anak itu tidak kenal). Apakah rumahnya terkena banjir atau tidak. Hal-hal semacam itu.

“Bang saya turun di depan.”

“Mau pulang lu Tong?”

“Iya Bang.”

Lalu anak itu turun setelah angkot yang saya tumpangi melewati rel kereta, yang letaknya lumayan jauh dari Bapelkes. Sebelum dia turun, dua orang pengamen remaja melewati angkot kami.

Dia menyapa, “A.”

Saya tidak tahu, apakah itu kakak laki-laki kandungnya atau bukan. Mungkin, itu adalah kakak kandungnya yang juga mengamen dan memberi dua puluh ribu ke ibu mereka. Mungkin, itu hanya pengamen yang lebih senior yang kebetulan dia kenal.

Akhirnya sosok kecil itu turun. Dia pun berlari kembali ke jalanan. Mungkin, memang di situlah tempatnya pulang.

2 thoughts on “Anak jalanan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s