Tulisan ini dibuat di bawah paksaan

Ini adalah salah satu dari sekian banyak tulisan kenapa-saya-sudah-lama-tidak-menulis-lagi-di-sini. Generik sekali, dan saya juga tidak menyarankan Anda untuk melanjutkan membaca.

Karena sejujurnya sampai huruf inipun saya masih belum tahu apa yang ingin saya tulis. Saya masih tidak tahu apa yang ingin saya sampaikan lewat tulisan ini. Saya bahkan tidak tahu kenapa tiba-tiba setelah sekian lama, saya memutuskan untuk kembali menulis di sini.

Well, mungkin karena satu twit dari National Geographic Indonesia yang barusan saya lihat saat sedang melarikan diri dari paper (dan tulisan ini, kalau Anda masih belum sadar, juga merupakan sebuah pelarian).

Setelah saya menghabiskan sekitar lima menit untuk mencari link twit yang saya maksud tadi (DAN GAGAL), saya menyerah. Anggap saja bukan dari National Geographic. Tidak usah pakai referensi. Toh ini bukan paper akademis juga.

Intinya, twit tadi berbunyi, “Tidak lagi menikmati hobi? Hati-hati depresi.”

Menulis pernah menjadi hobi saya.

Entah kenapa, akhir-akhir ini, berat sekali rasanya untuk menulis. Untuk menulis di Twitter yang maksimalnya 140 karakter saja saya sudah menyerah duluan.

Menyedihkan, saya tahu.

Dan sekarang saya kehabisan kata-kata lagi. Sejujurnya, saya mengetik ini hanya untuk mengalahkan kemalasan diri saya sendiri. Membuktikan bahwa setidaknya saya masih bisa menulis, meskipun apa yang saya tulis tidak layak dibaca.

Saya butuh ini. Saya butuh memaksa diri sendiri.

Jawaban saya untuk pertanyaan “Are you able to work under pressure?” yang entah kenapa dilemparkan setiap wawancara adalah selalu iya.

Saya bisa bekerja di bawah tekanan.

Lebih tepatnya, saya cuma bekerja di bawah tekanan. Karena bila tidak ada tekanan, saya tidak akan bekerja.

Sama halnya dengan menulis.

Saya menulis paper yang dijadikan tugas semenjak seminggu yang lalu beberapa jam sebelum deadline. Selalu begitu.

Kemarin saat ujian tengah semester, ada satu mata kuliah yang ujiannya berupa paper, seperti biasa. Tapi paper yang ini tidak ditulis di rumah. Tidak juga diberikan waktu yang lama untuk mengerjakannya.

Paper ini harus dikerjakan di ruang ujian, dalam waktu dua setengah jam.

Saya menulis sekitar seribu kata dalam waktu satu setengah jam.

Karena saya terpaksa.

Kalau orang bilang jangan lakukan sesuatu karena terpaksa, saya malah sebaliknya. Saya pasti mengerjakan sesuatu karena terpaksa. Karena kalau tidak terpaksa, tidak akan saya kerjakan.

Kalau di surat perjanjian, biasanya ada pernyataan bahwa surat tersebut dibuat dengan kesadaran penuh sang pembuat dan tanpa di bawah paksaan.

Well, here it goes. My statement.

Tulisan ini dibuat di bawah kesadaran penuh dan di bawah paksaan. Tapi saya suka dipaksa. Karena paksaan inilah yang membuat saya menulis.

Yah, meski paper saya belum tersentuh, setidaknya ada satu tulisan yang sudah selesai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s