Kematian dan Waktu

Kematian duduk di sana, sendirian. Tidak ada lagi jiwa yang tersisa, tidak ada lagi pekerjaan yang harus dilakukan.

Tuhan sudah dijemputnya beberapa waktu yang lalu. Entah sudah berapa lama. Waktu tidaklah sama lagi ketika dia sendirian dalam keabadian.

Darah menetes dari lengannya. Jatuh membanjiri bumi.

Tapi ia masih di sana, duduk sendirian. Menunggu.

Tidak ada yang menjemputnya, untuk memeluk jiwanya yang sudah tua dan lelah, atau sekadar menemaninya. Tidak ada, karena ialah kematian, yang kini kesepian.

* * *

Kematian duduk sendirian. Entah sudah berapa lama.

Dia ingat jiwa terakhir yang dijemputnya. Tuhan.

Bapak tua sialan itu. Dia menciptakan kehidupan, tapi juga menciptakan kematian. Menyuruhnya selama waktu berjalan untuk menjemput jiwa-jiwa yang ingin pulang.

Tapi tidak termasuk jiwanya sendiri.

Ia ingat percakapan terakhirnya dengan tuhan. Atau dalam kasus ini, dengan siapapun.

“Bagaimana denganku?”

Orang tua itu tersenyum. Sialan. Mudah saja bagi dia untuk tersenyum. Dia hanyalah orang sinting yang menciptakan semesta dan menelantarkannya begitu saja. Dan masih dipuja orang. Sedangkan kematian, yang sesungguhnya membebaskan jiwa-jiwa dari derita dunia, malah dihujat dan digambarkan sebagai sosok menyeramkan.

Dunia memang tidak adil. Tuhan yang membuatnya begitu.

“Kau akan lenyap kalau sudah bertemu waktu.”

Klise.

Jadi di sinilah kematian, cuma bisa duduk di atas kehampaan. Menunggu waktunya tiba, seperti perintah tuhan padanya.

Ya, bertemu waktu.

Waktu.

Kapan waktunya akan tiba?

Kematian melihat ke atas. Gelap pekat. Tidak ada apa-apa lagi di semesta.

Dia berteriak, “Mana waktu?”

Sunyi.

Air mata menetes dari sudut matanya.

Dan orang kira kematian tidak punya perasaan.

“Kukira kamu tidak akan datang.”

Kematian terkejut. Di titik ini, dia bahkan tidak tahu apakah itu benar-benar suara orang lain atau hanya bagian dari ilusinya saja.

“Waktu?”

* * *

Waktu menunggu dan menunggu. Sementara kematian berlari dari ujung semesta ke ujung lainnya, menjemput nyawa-nyawa yang tidak sabar ingin segera pergi, entah ke mana.

Waktu lelah. Dan bosan.

Dia sudah menunggu kematian sepanjang hidupnya, yang juga sepanjang waktu. Tapi kematian masih belum selesai juga. Setiap ada satu nyawa yang dijemputnya, ada lagi yang terlahir di dunia.

Waktu sudah menanti kematian.

Dan di sinilah mereka. Akhirnya bertemu.

“Siap?”

“Sudah sejak lama.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s