Children’s Crusade

Perang memang tidak pernah membosankan untuk dibahas. Baik secara akademis maupun lewat hal-hal lainnya.

Senior saya menulis cerita pendek soal prajurit dalam perang, saya menulis cerita pendek soal istri prajurit perang, kemarin kelas saya menonton bersama film tentang perang, dan kebetulan sekali bahwa buku yang terakhir saya baca adalah soal perang.

Slaughterhouse V, karangan Kurt Vonnegut, adalah sebuah novel pendek yang menceritakan kisah hidup seorang penjelajah waktu bernama Billy Pilgrim, dengan mengambil Perang Dunia Kedua sebagai klimaksnya.

Berbeda dari bahasan lain soal Perang Dunia Kedua, yang biasanya cuma seputar bom atom dan holocaust, Vonnegut mengangkat sebuah pengeboman besar-besaran yang tidak pernah saya dengar sebelumnya.

Mungkin karena pengeboman itu terjadi di Jerman. Mungkin karena bom yang digunakan tidak semodern bom atom. Mungkin karena yang dibom hanyalah sebuah kota kecil bernama Dresden. Lebih mungkin lagi karena pengeboman itu sendiri masih kontroversial.

Pengeboman yang terjadi di pertengahan Februari itu memakan 25.000 korban jiwa. Ironisnya, seorang prajurit Amerika yang menjadi tahanan perang di novel itu pernah berkata, “Jangan khawatir, mereka mengirim kami ke Dresden. Tidak akan ada bom di sana.”

Betapa polosnya dia.

Well, tentu saja dia masih polos. Dia hanyalah anak-anak.

Dia, seperti kebanyakan prajurit lainnya, hanyalah anak kecil yang dipakaikan seragam, dipersenjatai, lalu disuruh berperang.

Mereka adalah bagian dari children’s crusade.

Vonnegut juga mengangkat kritik ini dalam novelnya. Bahwa perang itu kejam bukan karena ia memakan banyak korban. Perang itu kejam karena kebanyakan korban yang dimakannya tidak tahu apa-apa.

Meskipun Billy Pilgrim (dan Vonnegut sendiri) selamat dari pengeboman di Dresden dan bisa hidup sampai tua (Vonnegut bahkan meraih dua atau tiga dolar dari setiap orang yang tewas), tapi tidak mengubah fakta bahwa banyak anak-anak lain yang mati karena perang.

Setidaknya menurut manusia, karena makhluk Traldamadorian akan berkata lain soal konsep hidup, kematian, dan waktu (satu lagi hal yang menarik dari buku ini).

Perang memang menarik. Indah, sekaligus kejam. Perang mengubah kehidupan, bahkan menghentikan beberapa. Perang diwarnai kekuasaan, tapi dimainkan oleh yang tak berdaya.

So it goes.

One thought on “Children’s Crusade

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s