Daun kelor

Surat itu pendek dan dibuat oleh orang yang nilai Bahasa Indonesianya ketika sekolah dulu mungkin cuma enam puluh.

Ditujukkan kepada penyewa ‘ditempat’, surat itu memberitahukan bahwa sesuai keputusan Pengadilan Tata Usaha Negara (disingkat PETUN, oleh sang penulis surat) kepemilikan tanah sudah berganti dan semua yang sekarang menempatinya harus pindah paling lambat akhir Maret ini. Semua, mulai dari pemilik tanah sebelumnya hingga pedagang-pedagang yang selama ini mencari nafkah di tanah sewaan yang sekarang berganti pemilik itu.

Pedagang yang tidak tahu menahu soal sengketa tanah. Yang selama ini hanya berharap bisa berjualan dengan damai untuk menghidupi keluarga.

Di belakangnya ada surat pernyataan bahwa penandatangannya mengerti dan bersedia mengosongkan lokasi. Tapi halaman itu masih belum ada yang menandatangani, sesuai kesepakatan bersama semua pedagang di barisan itu.

Malam ini, di atas bangku kayu yang menghadap ke gerobak di pinggir jalanan malam yang masih ramai, tukang sate Madura langganan saya menceritakan keluh kesahnya.

Sate yang selama ini mengenyangkan perut saya dan juga keluarganya selama ini terancam tidak bisa disajikan lagi karena masalah kepemilikan tanah tersebut.

Sejak datangnya surat tadi, semua pedagang yang menyewa mulai panik. Mereka sudah berusaha mencari tanah lain untuk berjualan kalau memang harus pindah, tapi bahkan tukang nasi goreng yang butuh sedikit lahan untuk gerobaknya saja pun belum berhasil mendapatkan lokasi baru.

Alasannya sederhana, hampir setiap jengkal tanah di kanan-kiri jalan ini sudah ditempati pedagang lain.

Badan tukang sate itu, yang memang sudah kurus dan makin mengurus semenjak masalah ini memanas, makin mengempis ketika dia menghela napas dan mengepulkan asap rokok yang sedari tadi dihirupnya. Matanya agak basah. Suaranya lemah, khas orang-orang yang tidak tahu lagi harus bagaimana.

“Kata pepatah dunia nggak selebar daun kelor, tapi nyatanya sempit begini.”

Kata-kata itu menghantui saya. Menyadarkan tentang betapa ironisnya dunia ini.

Dunia yang katanya luas, tapi kepemilikan sepetak tanah masih diributkan ke pengadilan.

Dunia yang katanya luas, tapi di dalamnya orang masih saja harus beradu siku untuk mencari nafkah.

Dunia yang katanya luas, tapi tidak menyisakan tempat untuk para pedagang dan gerobaknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s