Kita dan barang

Meskipun sudah ada revolusi pangan, manusia tetap mempertahankan kebiasaannya sebagai pengumpul. Tapi bukan makanan yang dikumpulkan, melainkan barang-barang lain.

Coba lihat di sekeliling Anda. Tumpukan buku, majalah, koran, kertas, uang logam, gunting, kabel, aksesoris, pakaian; semua barang yang beberapa di antaranya tidak kita butuhkan.

Inilah yang dikritik oleh Tyler Durden, sebuah tokoh dalam buku Fight Club karangan Chuck Palahniuk, yang diangkat ke layar lebar.

Kita membeli barang-barang yang tidak kita butuhkan, dengan uang yang tidak kita punya, untuk mengesankan orang-orang yang tidak kita suka.

Meskipun buku ini sudah terbit hampir dua dekade lalu, tapi kritiknya masih relevan hingga kini. Atau lebih tepatnya, sangat relevan.

Coba sekarang buka instagram Anda. Yang pertama terlihat pasti adalah foto-foto dari teman-teman. Mulai dari selfie yang satu foto bisa sampai sembilan wajah (makan tuh muka dua, ini sih sembilan), foto bersama keluarga, teman, foto pemandangan, tempat hangout terbaru, makanan, buku, busana hari ini (kerennya sih OOTD – outfit of the day), hingga barang-barang lucu yang tidak jelas fungsinya apa tapi yang penting fotogenik.

Kadang saya bertanya apakah instagram, dan media sosial lainnya, telah merubah masyarakat kita. Apakah sekarang kita lebih memilih makanan yang fotogenik ketimbang yang enak? Apakah kita menjadi lebih sadar untuk mengikuti tren tapi lupa mempertahankan gaya sendiri? Apakah kita mulai mengorbankan momen untuk mengabadikan memori dalam foto demi sekian like dari orang-orang?

Inilah yang dimaksud Tyler. Kita mulai bertingkah bukan untuk diri sendiri, tapi untuk mengesankan, bahkan memamerkan ke orang lain. Padahal kita juga tidak kenal-kenal benar dengan orang-orang tersebut.

Bukan, saya bukannya anti-instagram dan semacamnya. Saya mengerti keinginan untuk berbagi momen, yang saya pertanyakan cuma soal momen-momen yang dibagi tersebut. Apakah benar-benar Anda sukai, atau hanya untuk mengesankan orang lain saja.

“Kalau Anda tidak tahu apa yang Anda mau,” kata sebuah tokoh di Fight Club, “Anda akan berakhir dengan banyak yang Anda tidak maui.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s