Kekayaan dan Buku

“Kekayaan adalah masuk ke dalam toko buku, mengambil yang Anda minati dan membawanya ke kasir tanpa melihat harganya dahulu,” kata seorang bijak, entah siapa.

Sebagai seseorang yang suka melarikan diri ke dunia-dunia di antara lembaran buku, saya mengamininya.

Saya adalah seorang pembaca sejak kecil. Meskipun saat itu yang saya baca hanyalah komik macam One Piece, Doraemon, dan Shinchan, tapi kebiasaan membaca itu terbawa hingga sekarang. Semenjak saya kuliah di universitas yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, kebiasaan membaca saya pun berubah. Yang tadinya hanya membaca buku terjemahan, sekarang beralih ke buku yang berbahasa Inggris. Untuk memperbaiki kemampuan saya yang, mengutip kata-kata seorang senior, seperti anak kecil dan juga untuk mendapatkan esensi sebenarnya dari cerita dan kata-kata yang kadang hilang ketika diterjemahkan.

Masalahnya cuma satu: buku berbahasa Inggris berarti impor, dan buku impor mahal harganya.

Jelas sekali saya tidak bisa begitu saja melenggang masuk ke toko buku, melihat-lihat apa yang bagus, lalu membawanya ke kasir. Kebiasaan berbelanja saya adalah membuka beberapa toko buku online, mencari-cari judul buku yang saya suka, lalu membandingkan harganya. Lebih bagus lagi kalau ada diskon. Seringkali, saya harus puas dengan buku versi mass-market paperbound, yang lebih kecil dan kertasnya lebih tipis. Saya juga mencoba menelusuri instagram dengan mencoba mencari berbagai macam kombinasi hashtag. Kadang saya mendapatkan buku bekas dengan harga miring. Buku apapun tidak masalah, yang penting kata-kata di dalamnya tetap sama.

Kebiasaan ini dimulai semenjak penghujung tahun 2013, dan untungnya di tahun 2014 ini menjadi makin membaik.

Percaya atau tidak, sebuah jejaring sosial membantu saya membaca. Kalau Anda lihat di sidebar blog ini, akan ada widget yang menunjukkan buku-buku terakhir yang saya baca. Rekam jejak itu berasal dari Goodreads, situs yang memang sudah populer sejak cukup lama tapi memang saya saja yang baru kenal. Di awal tahun 2014, saya sudah menargetkan bahwa saya akan membaca minimal 50 buku. Sejauh ini sudah 22, hampir setengah dari target.

Orang-orang di sekitar saya juga membantu saya membaca. Di awal tahun saja, saya sudah mendapatkan trilogi Lord of the Rings dari seorang teman dekat. Ada teman lain yang rela membawa buku-bukunya dari Depok untuk dipinjamkan ke saya. Minggu ini seorang dosen favorit memberikan sebuah buku sebagai hadiah karena saya sudah menjadi murid yang cukup kooperatif semester lalu. Dan kakak saya pun menawarkan untuk membelikan satu set buku Game of Thrones yang saya pikir sama jauh di angan-angannya dengan Daenerys dan Iron Throne-nya.

Saya memang tidak kaya, saya tidak bisa membeli buku sesuka hati. Malahan, saya sampai menjual beberapa koleksi lama yang tidak pernah saya baca lagi demi membeli buku baru. Tapi setidaknya, saya masih bisa membaca buku.

2 thoughts on “Kekayaan dan Buku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s