Mencari Kunci

“Kamu sedang apa?” tanya suara itu pada suatu ketika. Sebuah pertanyaan sederhana, yang ternyata tidak bisa dijawab dengan sederhana pula.

Manusia hidup untuk mencari kebahagiaan, begitu kata mereka. Oleh karena itulah aku sebagai salah seorang manusia yang hidup di muka bumi berada di sini. Di titik yang kucapai setelah sekian waktu mengejar kunci kebahagiaan. Dan dia, salah seorang manusia juga, dengan seenaknya melemparkan pertanyaan itu padaku.

“Aku mencari kunci kebahagiaan,” aku merasa bangga dengan jawaban tersebut. Singkat, padat, dan mengandung makna yang menurutku mendalam.

“Untuk apa?” tanyanya lagi. Masih dengan nada penuh ingin tahu, ekspresinya masih polos dan lugu, bukan mengejek. Tapi entah kenapa kepolosannya itu membuatku kesal.

“Untuk apa, katamu? Ya untuk berbahagia!”

Lalu dia menempatkan dirinya di sampingku. Di atas sebuah bangku kayu tua yang kusinggahi di tengah perjalanan mencari kunci kebahagiaan. Bangku tua yang kududuki sebentar, untuk melepas lelah, sebelum aku berjalan lagi menyusuri kehidupan yang antah berantah.

“Sudah berapa lama kamu mencari kunci kebahagiaan itu?”

“Seumur hidupku, mungkin.”

“Oooh.”

Lalu kesunyian canggung meliputi kami. Mau tidak mau, aku mengajukan sebuah pertanyaan kepadanya demi memecahkan kesunyian.

“Memangnya, kamu tidak pernah berusaha mencari kunci kebahagiaan?”

“Tidak.”

“Kamu tidak mau bahagia?”

Dia terkekeh, “Mau. Tentu saja mau. Tidak ada manusia yang tidak mau bahagia. Kecuali masokis yang memang harus diperiksa kesehatan mentalnya.”

Aku tersenyum. Ternyata selain bertanya, dia juga bisa melucu.

“Lalu kenapa kamu tidak mencari kunci kebahagiaan juga?”

Sekarang gilirannya tersenyum, menimbulkan kesan misterius, tapi juga bijaksana. Entah mengapa.

“Logikanya, ketika seseorang mencari sesuatu, berarti dia belum menemukan sesuatu itu kan?”

Aku membenarkan logikanya. Tapi masih belum mengerti ke arah mana kata-katanya akan membawaku.

“Kamu ingin bahagia… makanya kamu mencari kunci kebahagiaan, benar kan?”

Sekali lagi aku mengangguk.

“Sudah berapa lama kamu mencari?”

“Seumur hidupku, tadi kan sudah kujawab.”

Aku mulai tidak sabar. Aku tidak suka pertanyaannya yang bertele-tele. Aku tidak suka dia yang datang begitu saja, mengangguku yang sedang mengumpulkan energi untuk pencarianku selanjutnya. Tapi yang paling aku tidak suka adalah, firasatku sendiri bahwa entah bagaimana, dia punya petunjuk tentang kunci kebahagiaan yang selama ini aku cari.

“Dalam pencarian itu, apa kamu pernah, bahkan sekali saja, merasa sudah menemukan kunci tersebut? Apa dalam perjalananmu, kamu merasa bahagia?”

Aku mengingat ulang perjalananku. Saat sekolah, guruku mengiming-imingi bahwa aku akan memegang kunci kebahagiaan bila belajar dengan keras dan masuk jurusan yang tepat di universitas favorit. Saat kuliah, orang-orang menjanjikan bahwa kunci kebahagiaan sudah kuamankan bila aku belajar dengan keras, lulus dengan IP di atas tiga, dan mendapat pekerjaan yang terpandang. Aku mengikuti kata orang-orang, menuruti syarat yang mereka ajukan demi mendapatkan kunci kebahagiaan.

Tapi toh nyatanya aku masih di sini. Duduk di kursi kayu tua, beristirahat sejenak dari perjalananku dalam mencari kunci kebahagiaan. Bersama seseorang yang nampaknya malah tidak peduli dengan segala pencarianku.

“Aku capek.”

“Aku tahu,” katanya, dengan penuh pengertian. Tangannya menggenggam tanganku. Hangat. Sudah lama sekali rasanya semenjak aku merasa seperti ini. Semenjak aku duduk diam, bersama seseorang ataupun sendiri. Hanya diam.

Tentram sekali.

“Lalu aku harus bagaimana?” tanyaku pada akhirnya.

Aku lelah. Jujur, kadang aku merasa putus asa dalam pencarian ini. Ada kalanya selama perjalananku di mana aku ingin berhenti. Tapi aku takut. Aku takut bahwa bila aku berhenti, maka aku tidak akan pernah bahagia.

“Berhentilah mencari.”

“Tapi…..”

“Kamu tahu kenapa aku tidak pernah sibuk mencari kunci kebahagiaan itu?”

Aku diam. Menanti jawaban yang dari pertanyaanku sebelumnya. Pertanyaan yang malah membawa jawaban pada masalah hidupku sendiri.

“Karena aku tidak butuh mencari kunci kebahagiaan. Aku sudah bahagia.”

Aku memandangnya heran. Dia berlawanan sekali dengan doktrin-doktrin yang ditanamkan orang pada diriku semenjak lahir. Tapi entah kenapa, dalam hati, aku tahu bahwa dia mungkin benar.

“Kamu terlalu sibuk mencari kunci kebahagiaan, tanpa kamu sadari bahwa pintunya tidak pernah terkunci. Pintu kebahagiaan itu selalu terbuka. Tinggalah kamu yang menentukan apakah kamu mau masuk ke sana.”

Dan di atas bangku kayu tua itulah, pencarianku benar-benar terhenti. Aku sudah menemukan kebahagiaan, tanpa harus repot-repot mencari kuncinya.

2 thoughts on “Mencari Kunci

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s