Hi there, I’m back

Hai, setelah sekian lama tidak menengok blog ini, akhirnya saya datang kembali untuk meniupkan debu dan menyapu sarang laba-laba yang terkumpul semenjak lebih dari sebulan yang lalu. Bukan, saya bukannya lupa akan keberadaan blog ini. Bukan pula bahwa saya tidak punya sesuatu untuk ditulis. Selama kita masih hidup, pasti akan terus ada sesuatu untuk ditulis dan diceritakan.

Masalah sebenarnya adalah bahwa saya juga punya hal-hal lain yang bukannya saya ingin tulis, tapi memang wajib ditulis.

Well, khusus di post ini saya akan menuliskan apa yang ada di pikiran dan hidup saya selama ini. Sekedar peringatan, mungkin beberapa bagian akan mengandung curhatan. Bagi kalian yang tidak peduli dengan hal-hal remeh seperti ini, silakan tutup tab ini dan pindah ke lain hati.

1. Paper

Inilah yang saya maksud dengan hal-hal yang wajib ditulis tersebut. Sebenarnya sebagai mahasiswi jurusan hubungan internasional, sudah jelas sekali bahwa paper adalah teman terindah dan paling setia sejak semester satu hingga lulus. Tapi ya, kadang-kadang mereka datang seenak hati. Tambahkan dengan manajemen waktu yang jelek serta penundaan, dan Anda akan mendapatkan sesosok mahasiswa/i yang bermata panda, bau kopi, dan bertingkah seperti zombie menjelang deadline.

2. Zombie

Mungkin teman-teman yang belajar bersama saya tahu bahwa saat ini saya sedang mengurusi zombie apocalypse untuk President MUN 2014 (check the website, it’s very cool). Zombie memang salah satu karakter fiktif yang populer, tapi terus terang saja saya selama ini tidak pernah membaca buku ataupun menonton film tentang zombie. Sebagai komite yang baik, tentu saja saya harus research. Untungnya, research kali ini bisa dilakukan lewat membaca novel.

Nah, ketika saya mencari bahan research di reddit, seseorang menyarankan untuk membaca cerita pendek karangan Chuck Palahniuk (pengarang Fight Club, yang diangkat menjadi film yang dibintangi Brad Pitt) yang berjudul Zombie. Memang, zombie dalam cerita ini berbeda dengan zombie yang ada di World War Z dan sejenisnya, yang tujuan utamanya adalah memakan otak dan bahkan bagian tubuh manusia lainnya.

Zombie-nya Palahniuk adalah kita, manusia-manusia yang menjalani rutinitas seperti biasa. Kalau Anda pernah merasakan dan bertanya untuk apa sih Anda menjalani hidup yang rasanya begini-begini saja dan tidak ada ujungnya, bacalah cerita itu.

3. Why do we fall

Teman-teman saya juga tahu bahwa saya menggemari suatu kutipan dari film Batman Begins, sebuah pertanyaan tentang kenapa kita jatuh, yang mengingatkan bahwa kita jatuh agar kita bisa belajar bangkit.

Kali ini saya yang diserbu pertanyaan, “Kenapa jatuh?”

Saya tersandung, jatuh, dan entah bagaimana berhasil mematahkan tulang tangan kiri saya. Dan tidak, saya tidak sedang naik motor ataupun jatuh dari tangga. Saya sedang berjalan di tanah samping lapangan basket kampus, tersandung, dan jatuh hingga patah tulang.

Sulit dipercaya. Tapi memang begitulah kejadiannya.

4. Tangan kanan kiri

Pernah dengar ungkapan ‘tangan kanan’? Tangan kanan adalah orang yang paling dekat, bisa dipercaya, dan selalu siap membantu. Nah semenjak saya jatuh, saya baru menyadari kalau saya punya seorang tangan kanan kiri yang hebat. Dia yang menemani saya dari pertama saya jatuh, duduk di UGD sampai saya operasi, membelikan susu dan cheetos keesokan harinya, dan masih setia membantu saya di kampus.

Kalau ini bukan definisi tangan kanan kiri, saya tidak tahu lagi apa artinya ungkapan tersebut.

5. Pemimpin

Mungkin ini tidak berhubungan dengan kehidupan pribadi saya ataupun empat poin lainnya di atas. Tapi berhubung inilah yang sedang ramai dibicarakan, mau tidak mau saya pun kepikiran dan ingin berkomentar.

Saya pikir mimpi rakyat Indonesia itu sederhana. Kita tidak ingin economic miracle dengan pertumbuhan di atas 10% seperti China, maaf, Tiongkok. Kita tidak ingin perkembangan di kemampuan militer yang hebat seperti Amerika. Tidak, yang kita inginkan bukanlah hal yang muluk-muluk seperti itu. Kita cuma ingin pemimpin yang baik dan jujur.

Karena itulah, setiap kali pemilihan umum berlangsung, yang dilihat adalah orangnya, bukan programnya. Entah karena kita percaya bahwa setiap program adalah baik tapi implementasinya bergantung berat terhadap pemimpin, atau karena kita sudah terlanjur kecewa dengan program itu sendiri. Yang manapun, ujungnya sama, politik kita menjadi tokoh-sentris. Yang dilihat bukan program, bukan ideologi, tapi sosok yang memimpin itu sendiri.

Baiknya, masyarakat Indonesia menjadi kenal akan (calon) pemimpinnya.

Tidak baiknya, black campaign soal si calon pemimpin. Seakan-akan tidak ada materi kampanye lain yang lebih ampuh ketimbang menjelek-jelekan lawan. Kita berada di suatu titik di mana orang lebih semangat menjelek-jelekan calon pemimpin lain ketimbang mempromosikan apa yang sebenarnya baik dari calon pemimpin pilihannya.

“Gue pilih A karena si B [insert any gossip/rumour/fact here], bukan karena si A itu sendiri.”

Apakah pola seperti ini salah? Tidak juga. Bagaimanapun, siapa sih yang mau dipimpin orang yang kita pandang jelek?

 

Segitu saja ocehan saya kali ini. Apabila ada poin-poin yang tidak Anda setujui, feel free to give comment or suggestion!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s