Jumat Bersama ‘Sabtu Bersama Bapak’

Saya adalah seorang jomblo yang menggemari novel Jomblo karangan Mas Adhit (ceritanya sok akrab). Maka ketika Sabtu Bersama Bapak keluar, saya pun merasa kurang sah menjadi fans berat seorang Adhitya Mulya kalau tidak membaca novel dua ratus halaman bersampul biru ini.

Kalau saya tertawa terpingkal-pingkal saat membaca Jomblo, saya cuma bisa diam menahan tangis saat membaca Sabtu Bersama Bapak. Dan di halaman terakhir, membuang ingus.

Bukan, bukan berarti Kang Adhit kehilangan selera humornya yang cerdas dan agak tidak biasa itu. Masih ada sentilan dan selipan humor di sana-sini yang menggerakan otot di wajah sehingga membentuk senyuman. Hanya saja, nuansa buku ini memang agak lain.

Buku ini sukses memecah tangis Anda dengan bahasanya yang sederhana, dan lewat adegan-adegan sederhana pula. Tidak ada yang kelewat dramatis dan terkesan dibuat-buat. Hanya cerita soal sebuah keluarga, pada banyak Sabtu bersama Bapak.

Sebagai seorang wanita yang akan kemudian menjadi calon istri (jangan tanya calonnya siapa, tolong, jangan), Sabtu Bersama Bapak bagaikan guide dan contoh keluarga dan sosok suami idaman. Bukan cuma itu, Adhitya Mulya juga sukses memberikan gambaran tentang apa-apa saja yang harusnya dipersiapkan oleh seorang wanita untuk menjadi sosok yang nikah-able.

Untuk mereka yang memasuki usia penuh pertanyaan ‘Kapan kawin?’, buku ini layaknya sebuah kitab suci soal keluarga. Lewat video-videonya, Bapak sukses mengingatkan Saka tentang apa saja yang harus dipersiapkan seorang lelaki sebelum meminta seorang perempuan untuk menjadi istrinya.

All in all, Sabtu Bersama Bapak cocok dibaca oleh mereka yang sudah ingin berkeluarga, dan juga untuk mereka yang Sabtu-nya masih belum bersama siapa-siapa. Sebuah bacaan ringan yang tetap berbekas.

4 thoughts on “Jumat Bersama ‘Sabtu Bersama Bapak’

  1. Halo salam kenal, kebetulan saya juga merupakan fannya buku-buku karya Adhitya Mulya semenjak buku pertamanya – Jomblo.

    Untuk Novel Sabtu Bersama Bapak saya juga baru saja beli dan baru membacanya hingga halaman 70.

    Secara plot saya bilang menarik namun penggunaan dialog yang semi english yang dijumpai hampir pada semua karakter membuat karakter-karakter itu terlihat satu / sama saat mereka bedialog🙂

    1. Hi, salam kenal.

      Ya, setelah diperhatikan lagi memang terlihat bahwa karakter dalam tokoh ini berbicara dalam bahasa yang sama. Di satu sisi, mungkin karena mereka adalah keluarga yang cukup dekat sehingga berbicara dalam cara yang sama. Di sisi lain, mungkin penulis terlalu fokus kepada cerita dan pesan dalam buku ini sehingga lupa menghadirkan variasi dalam gaya bahasa.

      1. Selain karakter yang lemah. Ada sesuatu yang tidak akurat saat Pak Gunawan Garnida memberikan nasihat anaknya dengan memberi contoh tentang Albert Einstein dan Steve jobs soal iPod.

        Saat memberikan nasihat tersebut pak Gunawan berada pada tahun 1992, namun bisa memberikan nasihat kepada kedua anaknya soal Steve jobs dan iPod.

        iPod seri pertama diciptakan oleh Jobs pada tahun 2000. Mengapa kelahiran iPod sudah bisa diramalkan oleh pak Gunawan sejak tahun 1992?
        🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s