Kita dan Jejaring Sosial

Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang senang berbagi dan bersosialiasi. Evolusi membentuk kita seperti itu. Sebuah kelompok akan bertahan lebih lama dalam menghadapi masa-masa sulit ketimbang satu individu.

Bahkan di abad dua puluh satu ini. Ketika saat Anda sendirian di kamar pun, Anda tetap bisa berinteraksi dengan orang lain lewat layar LCD tiga inci di genggaman.

Jejaring sosial memang sudah menjadi bagian yang besar dalam keseharian kita. Hal pertama yang saya dan jutaan remaja lainnya di dunia ini lakukan setelah bangun tidur adalah mengambil telepon seluler dan mengecek aktivitas di jejaring sosial. Walaupun kadang tidak ada notifikasi baru, tapi tetap saja hal itu sudah menjadi kebiasaan.

Siapa pula yang tidak pernah bosan, lalu membuka jejaring sosial, melongok sebentar, menutupnya lagi, bosan kembali, dan membukanya lagi? Saya rasa bukan cuma saya yang pernah seperti itu.

Dulu kita hanya mengenal facebook, lalu orang-orang beralih ke Twitter yang lebih ringkas, kemudian datanglah Instagram yang memungkinkan kita berbagi potongan hidup layaknya fotografer National Geographic, lalu ada path, yang dinamakan private social media, meskipun pada akhirnya tetap saja yang privasi itu bisa dilihat juga oleh publik ketika sang empunya menghubungkan akun path-nya dengan jejaring sosialnya yang lain.

Ya, privasi. Rasa-rasanya, kata itu menjadi sangat langka didengar akhir-akhir ini. 

Alih-alih menutupi hidup kita dari tatapan publik, kita malah dengan sukarela membagi-bagikannya. Biar saja semua orang tahu betapa kacaunya pikiran kita malam ini, biar saja semua orang tahu sarapan apa yang akan kita makan setelah difoto, biar saja semua orang tahu apa yang kita lakukan, ke mana dan dengan siapa kita pergi, dan perasaan kita.

Lalu kemudian, kita protes ketika orang-orang itu menilai kita dari apa yang kita bagikan ke mereka.

Lalu kemudian, kita bersabda, “Hidup-hidup gue ini kok jadi elo yang repot.”

Lalu kemudian, kita mengeluarkan senjata terakhir yang paling pamungkas, “Kalau nggak suka ya unfollow aja.”

Lalu kemudian, kita bersungut kesal saat jumlah followers kita berkurang.

Saya pribadi merasa bahwa meskipun jejaring sosial adalah tempat berbagi, tetap ada hal-hal yang tidak usah dibagikan dan tentunya, tidak usah berbagi terlalu banyak. Sekali lagi, saya sendiri jengah ketika ada orang yang berbagi foto makan paginya, lalu minumannya, lalu dessert-nya, lalu makan siangnya, dan kemudian lagi malamnya. Entah berbagi atau pamer, the classic question of to express or to impress. Apapun alasannya, saya tidak bisa ngapa-ngapain lagi selain menabung untuk membeli kuota internet tambahan.

Mau komentar, yang ada hanya memancing pertengkaran. Hal seperti itu terlalu sepele untuk dibicarakan.

Mau unfollow, idem. Malah murkanya bisa lebih parah.

Ah, sudahlah.

Tapi cerita saya tentang kita dan jejaring sosial belum selesai sampai di situ saja.

Dulu, saya juga pernah bercerita tentang stalking. Bagaimana berbagi di jejaring sosial bisa membantu kita mengetahui hampir setiap detil mengenai hidup seseorang, tanpa benar-benar mengenal orang tersebut. Tapi tetap saja, mengenal seseorang lewat layar berbeda dengan mengenalnya secara langsung. (Selengkapnya bisa dibaca di sini.)

Baru beberapa hari yang lalu saya dan keponakan saya membicarakan tentang seseorang yang cukup tenar di jejaring sosial yang sekarang sedang digandrungi remaja, ask.fm. Saya memang membuat akun ask.fm ini semenjak tahu bahwa keponakan saya bermain di sana, karena sebelumnya pernah membaca berita tentang remaja yang sampai bunuh diri karena di-bully lewat ask.fm (bagi yang belum tahu, ask.fm memungkinkan pengguna mengirimkan pesan yang completely anonymous, bagaikan memberi Stinger cuma-cuma kepada teroris di Irak sana).

Beberapa fakta tentang remaja ini: perempuan empat belas tahun, merokok, minum, punya pacar yang sudah tujuh bulan bersamanya, dengan siapa dia sudah pernah making out, dan semua itu saya tahu hanya dengan scrolling akun ask.fm-nya.

Memang, hal-hal seperti itu sudah umum di sini sekarang.

Memang, hanya karena dia melakukan hal-hal yang saya sebutkan di atas bukan berarti dia bukan anak baik-baik.

Memang, saya tidak boleh menilai dia hanya dari jejaring sosialnya saja.

Tetap saja. Dia adalah sosok yang lumayan terkenal di jejaring sosial, pengikutnya banyak, dan rata-rata adalah anak seumuran dia yang masih mencari jati diri termasuk gaya hidup. Ketika yang ditampilkan adalah sosok seperti dia dan segala aktivitasnya, maka mau tidak mau pasti ada saja yang mengikutinya.

Saya tidak mau keponakan saya sampai seperti itu. Tidak apa-apa mencoba rokok dan minum, asal jangan dijadikan kebiasaan. Tidak apa-apa punya pacar, asal jangan melakukan aktivitas seksual yang belum tentu dia secara mental ataupun biologis siap melakukannya. 

Tapi kan tidak semua remaja seumuran keponakan saya punya sosok seperti saya dalam hidupnya. Keponakan saya masih tergolong culun dibandingkan dengan teman-temannya karena dia melihat saya menjalani hidup yang biasa saja dan saya oke-oke saja dengan itu. Banyak remaja lain yang melihat orang-orang tenar di ask.fm melakukan sesuatu, lalu kepingin juga melakukannya. Apalagi setelah teman-temannya juga begitu. Tekanan pergaulan (peer pressure) itu sangat powerful untuk remaja-remaja seumuran keponakan saya.

* * *

Saya ingin menekankan bahwa saya tidak anti jejaring sosial. Saya secara aktif menulis kalimat galau di Twitter (yang ditulisnya saat sedang ngupil, bengong, atau mules) dan membagikan foto di instagram. Dan saya senang ketika bisa melihat update dari teman-teman saya di jejaring sosial.

Yang jadi masalah adalah oversharing yang terjadi di jejaring sosial, dan juga efek yang diciptakannya.

Karena kita melihat seseorang melakukan A, kita jadi kepingin juga.

Padahal, belum tentu kita suka atau butuh. Seperti kata Tyler Durden di Fight Club, “If you don’t know what you want, you’re gonna end up with a lot of things you don’t want.”

 

Karena kita melihat betapa spektakulernya kehidupan seseorang berdasarkan posting-annya di jejaring sosial, kita jadi merasa bahwa hidup kita kurang. 

Padahal, tidak setiap detik hidupnya sespektakuler momen yang dia bagikan. Ibaratnya, kita membandingkan behind the scene hidup kita dengan trailer dan special highlight hidup orang (yang sudah diedit sana sini).

Jejaring sosial memang sudah menjadi bagian dari hidup kita, tapi hidup kitalah yang seharusnya menentukan apa isi jejaring sosial dan bukannya sebaliknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s