Jangan melompat sampai Hotel California

Cinta yang menginspirasi pembangunan Taj Mahal, cinta juga yang mendorong Eric Clapton hingga lagu ‘Layla’ tercipta.

Berhubung saya kebelet menulis tapi tidak tahu mau menulis apa, saya pun memutuskan untuk menulis tentang hal yang paling menginspirasi banyak manusia untuk berkarya (dan mungkin juga menginspirasi lebih banyak lagi untuk jadi frustrasi dan bunuh diri, tapi bukan itu yang mau saya bahas di sini). Dua silabel yang akrab di lidah kita, cin-ta.

* * *

1. Jatuh cintalah, jangan melompat

Seorang teman kemarin curhat kepada saya. Bukan, bukan tentang cinta. Tapi malah tentang absennya cinta dalam hidupnya.

“Gue jadi galau karena nggak ada yang digalauin.”

Katanya, entah kenapa dia tidak bisa begitu saja menyukai, apalagi sampai mencintai seseorang. Dia hanya tertarik pada fisik atau kepribadian, terobsesi selama beberapa waktu, lalu kemudian tidak merasakan apa-apa lagi. One day he just wakes up and feels nothing, as if someone has just turned off his switch.

Saya juga bingung harus berkomentar apa. Satu-satunya respon saya cuma, “Mungkin orangnya belum pas.”

Sebenarnya, saya juga pernah merasakan apa yang teman saya rasakan ini. Sejak mulai kuliah, saya sama sekali tidak merasakan ketertarikan yang lebih terhadap lawan jenis. Memang, ada beberapa teman yang dekat terhadap saya. Memang, saya sempat merespon. Lalu seperti teman saya itu, suatu hari saya bangun dan memutuskan bahwa saya tidak ingin punya hubungan apa-apa lagi dengan mereka.

Saya sampai sempat bingung dan bertanya kenapa hati saya sudah sebeku itu.

Well, mungkin itulah esensinya jatuh cinta. Kita tidak memilih kapan dan dengan siapa kita jatuh cinta, itu sih namanya melompat. Ketika kita jatuh cinta, itu terjadi begitu saja. When you fall in love, you just fall.

 

2. Neo

Sebagai penggemar berat season-season awal How I Met Your Mother, mau tidak mau saya juga terobsesi dengan konsep ‘the one’, atau kerennya, jodoh.

Masing-masing dari kita mencari jodoh dengan cara masing-masing. Ada yang setia menunggu sampai jodoh datang sendiri (padahal katanya jodoh tidak ke mana-mana, kalau tidak ada yang bergerak ya jelas saja susah bertemu), ada juga yang aktif mencari.

Buat saya, pencerahan mengenai ‘the one’ bukan didapat dari novel atau film romantis. Malahan, dari The Matrix.

Di dunia yang dikuasai robot itu, segerombolan pemberontak mencari ‘The One’, orang yang bisa menjadi penyelamat umat manusia. Di awal film, Neo-lah yang dianggap sebagai ‘The One’. Trinity, yang diramalkan akan jatuh cinta kepada sosok ‘The One’ pun tersipu malu saat bertemu Neo. Akan tetapi, juru kunci the Matrix berkata lain. Bukan Neo-lah ‘The One’ yang dicari-cari itu. Morpehus kecewa, Neo pun kecewa, dan Trinity pun galau.

Tapi, semuanya berubah ketika para agents menyerang.

Di tengah-tengah pertempuran sengit, Trinity pun yakin akan cintanya pada Neo. Lalu Neo pun dipastikan menjadi ‘The One’. Ternyata, selama ini semua orang salah mengartikan ramalan Oracle. Trinity bukan akan jatuh cinta pada ‘The One’, tapi orang yang dia cintailah yang akan menjadi ‘The One’.

Mungkin begitu juga dengan ‘the one’ atau jodoh dalam dunia kita. Yang terpenting bukanlah mencari ‘the one’ untuk dicintai, tapi karena kita mencintainya lah maka orang itu menjadi ‘the one’ untuk kita.

 

3. Hotel California

Sejak dulu saya memang suka lagu-lagu rock klasik, dan Hotel California adalah di antaranya. Bukan kebetulan ketika dosen-dosen favorit saya juga menggemari lagu-lagu serupa.

Setahun yang lalu, di subjek International Organization, dosen saya mengutip lirik dari Hotel California untuk menggambarkan keterjebakan negara dalam sebuah, well, organisasi internasional.

“You can check out anytime you like but you can never leave.”

Ketika teman saya bercerita tentang ketidakmampuannya meninggalkan hubungannya yang sudah gagal, saya cuma bilang kalau dia ada di Hotel California.

Dan ternyata, lumayan banyak teman saya yang jadi penghuni zona ini. Mereka yang memasuki sebuah hubungan dengan harapan dan doa, hanya untuk menyadari tak lama kemudian bahwa hubungan mereka tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya.

Sialnya, mereka tidak bisa pergi begitu saja. They have mentally packed up and left, but they stay anyway.

“Kasihan,” kata mereka.

Yah, sudahlah. Toh itu pilihan mereka. Kembali saya mengutip lirik dari lagu tersebut, “We are all just prisoners here of our own devices.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s