Neraka Kecil di Angkot

“Pulang ke mana, Neng?” adalah pertanyaan yang sangat normal. Terdengar tidak berbahaya, dan wajar sekali ditanyakan oleh seseorang yang kebetulan bersama Anda dalam sebuah perjalanan di atas angkutan umum perkotaan.

Tidak aneh pula ketika ditanya seperti itu semalam, saya menjawabnya.

Tapi ternyata, pertanyaan yang terkesan harmless itu menuju hal-hal lain yang cukup membuat saya tidak nyaman. Dalam perjalanan yang memakan waktu tidak sampai sepuluh menit itu, sempat beberapa kali saya berpikiran untuk turun dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki saja. Tapi karena sudah malam dan sayapun lelah secara fisik, akhirnya saya memutuskan untuk duduk diam, pura-pura tidak mendengarkan, dan bertahan dalam neraka kecil di dalam angkot bernomor 18 itu.

* * *

Saya menggunakan transportasi umum hampir setiap hari. Saking seringnya, bahkan beberapa supir angkot mengenali saya. Saya pernah menceritakan tentang enaknya naik kendaraan umum, tapi di tulisan ini, saya akan bercerita soal sisi lainnya.

Tentang bagaimana, setiap saya menaiki kendaraan umum, selalu ada kemungkinan bahwa mobil bercat oranye itu akan menjadi sebuah neraka kecil bagi saya.

Dan tidak, saya tidak melebih-lebihkan.

Memang, apa yang terjadi kepada saya dan mungkin ribuan perempuan lainnya hanya kata-kata. Jarang sekali ketika godaan usil yang sering dilemparkan laki-laki di angkot berujung pada tindakan nyata. Secara fisik, saya memang tidak kenapa-kenapa. Tapi secara mental, saya merasa sangat terganggu dan tidak nyaman.

Kejadian seperti ini sering sekali terjadi. Terlalu sering, malah. Bahkan, saking seringnya sudah dianggap biasa.

Tapi tidak seharusnya begitu.

Hanya karena ini biasa terjadi, bukan berarti ini seharusnya dianggap normal.

Hanya karena ini biasa terjadi, bukan berarti laki-laki bisa menggoda perempuan seenaknya di angkutan umum.

Hanya karena ini biasa terjadi, bukan berarti laki-laki punya hak untuk itu.

* * *

25 Juni 2014 adalah hari di mana saya merasakan sakitnya patah tulang. Tapi bukan itu yang berbekas di otak saya hingga kini. Bukan itu hal terburuk yang terjadi hari itu.

Saya menaiki angkot 42 dari daerah Pilar hingga kampus. Seperti biasa, saya duduk di depan.

Ketika sudah sampai setengah perjalanan, supir angkot yang relatif lebih muda ketimbang supir lainnya yang sudah bapak-bapak menanyakan saya akan turun di mana.

Di President University, saya bilang.

“Wah anak kuliahan, hebat dong,” katanya.

Saya cuma diam dan tersenyum.

“Pulangnya jam berapa?”

Sore, saya bilang.

“Boleh jemput nggak?”

Saya bilang tidak usah.

“Kenapa? Malu ya dijemput sama supir angkot?”

Saya cuma diam.

“Ah, dasar wanita, hanya melihat dari luarnya saja.”

Saya tertegun. Ini bukan drama. Saya benar-benar mengingat kata-katanya satu per satu.

Berani-beraninya dia bilang begitu.

Dia bilang, wanita hanya melihat dari luarnya saja. Padahal, dia sendiri pasti menggoda saya karena melihat dari luar saja.

Tapi entah kenapa, fakta bahwa dia pun menilai saya, seorang wanita, dari luar saja luput dari perhatiannya.

Atau mungkin, memang sudah tidak terpikirkan lagi baginya, juga banyak lelaki lain.

Adalah wajar bagi mereka untuk menganggap wanita sebagai objek, lalu wajar pula kalau mereka marah ketika objek yang seharusnya berada di bawah kuasa mereka itu menolak mereka.

Inilah yang terjadi di balik gerakan #YesAllWomen yang sempat ramai di Twitter beberapa waktu lalu. Karena hal yang sama, logika yang sama, juga diadopsi di salah satu negara yang kita anggap lebih maju, Amerika Serikat.

Apa yang terjadi di sana lebih ekstrim dari yang saya alami. Ketika seorang laki-laki yang membunuh beberapa wanita yang menolak cintanya malah dibela dengan dalih, “Wanita yang dibunuhnya kejam karena menolak cinta lelaki itu.”

* * *

Inilah dunia yang kita tinggali. Di mana entah atas dasar apa, laki-laki merasa punya kekuasaan dan hak atas wanita. Di mana laki-laki merasa berhak untuk mengganggu wanita lewat godaan usil. Di mana wanita seringkali merasa tertekan, bahkan dalam melakukan kegiatan sehari-hari sekalipun.

Di mana angkutan umum, bisa menjadi sebuah neraka kecil bagi wanita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s