Laki-laki tidak akan pernah mengerti bahwa kalimat ‘Kamu cantik deh’ adalah kalimat paling meragukan di jagat raya seorang wanita.

Dan sekarang, bertambah lagi satu. “Badan kamu bagus.”

Bukan, bukan karena kami pikir bahwa itu hanyalah sebuah gombalan kacangan. Bukan karena kami pikir bahwa laki-laki tidak pernah bisa tulus.

Tapi karena seorang wanita sering sekali meragukan dirinya sendiri. Termasuk soal fisik.

Saya sendiri pun begitu.

Setiap hari saya bercermin dan menyesali kenapa alis saya mistis keberadaannya, kenapa pipi saya seperti air yang menutupi 2/3 permukaan planet Bumi, kenapa ada jerawat atau komedo di hidung saya, kenapa kantong mata di bawah mata saya bahkan sudah hampir menyaingi besar mata saya sendiri.

Dan itu baru wajah.

Saya yang sering disebut kurus oleh teman-teman saja, masih merasa seperti Moby Dick ketika mandi. Ketika melihat lemak yang bergelambir di perut, ketika melihat ‘bacon belt’ yang muncul ketika saya memakai celana yang agak ketat, ketika saya duduk dan paha saya terlihat lebih berlemak ketimbang ayam di restoran fastfood, ketika lengan atas saya juga entah kenapa akhir-akhir ini makin mirip dengan paha atas ayam.

Dan semua itu makin buruk ketika saya bertemu dengan seseorang yang sudah lama tidak saya temui, dan yang pertama ditanyakannya adalah, “Devina gemukan ya?”

Tell me, how am I supposed not to care about my body and focus on inner beauty while the first thing people say about us is related to our physical appearance.

Memang, kecantikan tidak hanya dinilai dari fisik. Memang, ada hal bernama inner beauty. Tapi toh pada kenyataannya, yang dilihat pertama memang fisik.

Laki-laki boleh bilang ‘aku terima kamu apa adanya’ dan variasi lainnya. Tapi seorang wanita tetap saja ingin terlihat cantik di depan orang lain. Segala usaha dikeluarkan. Waktu dan uang habis untuk penampilan. Tapi tetap saja, ketika pujian itu disampaikan, kadang tetap sulit untuk diterima.

Karena perempuan, seperti semua manusia lainnya, selalu membandingkan behind the scene hidupnya dengan highlight hidup orang lain yang sudah dipoles, difilter, dan diedit di sana-sini.

Terlebih lagi, saat perempuan biasa seperti saya, yang menghabiskan waktu untuk mengurusi kuliah, kegiatan organisasi, dan tugas, harus menghadapi serbuan badan dan wajah model nan cantik jelita lewat majalah atau sosial media sebagai perbandingan.

Sulit untuk mencintai diri sendiri ketika makhluk seperti Dian Sastro dan Emma Watson tinggal di planet yang sama dengan kita.

Kita selalu merasa kurang, selalu menemukan ada yang salah dengan tubuh kita.

Kadang kita lupa, hanya karena orang lain cantik, bukan berarti kita tidak.

Hanya karena kita punya setitik jerawat, atau malah luka operasi sebesar kelabang dewasa di tangan, bukan berarti wajah dan seluruh kulit kita menjadi tidak menawan.

Kadang kita lupa, bahwa orang lain tidak melihat diri kita sedetail itu.

Orang lain punya perspektif berbeda.

Dan yang lebih penting, people only see what you let them to see.

People don’t know how far your body is from perfection as long as you wear it with smile and confidence.

Memang, sulit. Sulit sekali. Saya masih berjuang untuk jadi percaya diri dan mencintai tubuh saya entah sudah sejak berapa lama. Tapi kalau tidak dimulai, yang ada kita malah semakin terpuruk dalam benci.

[PS: hating your body doesn’t change anything. But you can love your body and try to treat it better at the same time.]

Dan kalaupun kita memulai sekarang, tidak akan ada ruginya.

Jerawat? Luka sebesar kelabang di tangan? No problem!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s