STMJ

Hampir semua anak jurusan saya kenal istilah STMJ. Untuk angkatan saya, STMJ berarti Semester Tujuh Masih Jomblo, karena kami sedang berada di semester tujuh, dan sebagian besar masih jomblo.

Lalu ada beberapa yang terkenal atas kejombloannya, salah satunya adalah saya sendiri.

Entah kenapa, kejombloan seseorang selalu jadi topik yang asik diperbincangkan. Dua jomblo paling terkenal seangkatan, Chenny dan Dora, sering sekali menjadi bahan ejekan teman-teman. Tapi ini bukan termasuk pem-bully-an, semua jomblo tahu bahwa ini hanya bercanda. Bahkan kadang, para jomblolah yang mulai menertawakan diri mereka sendiri.

Saya dan Chenny punya bercandaan sendiri, yang lama-lama menjadi trending di jurusan saya. Kami sering sekali bercanda dengan menghubungkan hampir segala sesuatu dengan status jomblo, cinta, pacar, hati, dan urusan-urusan semacamnya. Istilahnya, baper (bawa perasaan).

Entah kenapa, yang saya dan Chenny anggap hanya sebagai bercandaan, ternyata mulai mengkhawatirkan bagi banyak orang. Teman-teman, bahkan dosen sayapun, mulai menanyakan apakah kami sebegitu depresinya kepingin punya pacar.

Jawabannya? Tidak. (Saya sih tidak, entah kalau Chenny.)

Setelah tujuh semester menjomblo, saya menikmati status quo.

Alasan klasiknya, karena saya menikmati kejombloan saya. Jomblo bukan berarti sendiri, karena toh saya selalu punya teman-teman untuk makan bareng maupun teman yang mau menyediakan kamar atau kosannya sebagai suaka tempat menunggu rapat. Mau nonton film terbaru pun, selalu ada teman yang siap menemani. Pulang malam? Ada yang rela mengantarkan supaya selamat sampai di rumah. Ngepaper? Jangan tanya, jomblo-jomblo malah sangat kompak menyemangati satu sama lain kala deadline melanda.

Intinya, saya tidak kesepian meskipun secara status sendiri.

Alasan kedua, adalah karena saya bangga dengan siapa saya ketika saya menjomblo.

Ketika saya menjomblo, saya tidak punya pacar. Tidak punya tempat bersandar, atau lebih tepatnya, tempat bermanja. Saya menjadi mandiri, saya terbiasa untuk tidak mengeluh. Saya menjadi pribadi yang lebih dewasa dan kuat.

Saya belajar mengatasi masalah tanpa masalah, saya belajar memilih yang mana yang harus dianggap masalah, dan yang mana yang sebenarnya tidak usah dipermasalahkan.

Saya belajar mengenal diri sendiri dengan lebih baik. Saya tahu batas kemampuan saya. Saya tahu bagaimana mengatur perasaan dan emosi. Saya belajar menahan diri, karena toh saya tidak punya orang yang bisa dijadikan pelampiasan (dan tidak, saya tidak mau sembarangan melampiaskan emosi ke teman-teman saya).

Intinya, saya belajar jadi wanita yang lebih kuat. Yang tidak butuh seorang pacar supaya bisa berdiri tegak.

Dan saya bangga.

Karena dengan bisa berdiri sendiri, nantinya saya tidak akan menjadi beban untuk pasangan saya kelak. Malah, saya ingin bisa jadi pasangan yang menyediakan support.

Behind a great man, there’s always a great woman. Tapi wanita-wanita hebat inilah yang berjuang sendirian. Dan perjuangan saya untuk menjadi a great woman di balik a great man, dimulai dari sekarang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s