How to Survive in A Post Break-Up World

Dunia setelah putus tidak sama kacaunya dengan dunia setelah zombie apocalypse atau ebola, tapi toh tetap saja sama-sama susah dijalani. Here’s a guide on how to survive in a post break-up world, terinspirasi dari sang mantan yang berulang tahun hari ini.

* * *

What to do after a break up, step by step:

1. Pelampiasan

Saya bukan tipe orang yang suka memendam semuanya sendirian. Setiap ada masalah, saya melampiaskan dengan menangis, cerita langsung ke teman, atau menulis. Meskipun tidak menyelesaikan masalah, pelampiasan membuat kita lega, atau bahasa gaulnya, bikin nggak nyesek.

2. Pelarian

Ketika sebuah hubungan berakhir, adalah normal bahwa segala jenis hubungan diplomatis di antara kalian akan berkurang intensitasnya. Dan ini sering menimbulkan masalah baru: kesepian. Gawatnya, sepi biasanya ditemani oleh galau. Pelarian yang baik adalah yang bisa sukses membuat kita jauh-jauh dari kesepian.

* * *

Nah, sekarang ke bagian yang penting. Moving on.

Banyak orang yang salah menyamakan moving on dengan melupakan semua yang telah terjadi dan rasa yang pernah ada (klise, I know). Menurut saya, moving on lebih kepada bagaimana kita merubah persepsi.

Gagal move on karena si mantan masih terlalu sempurna buat Anda? Coba ingat bahwa makhluk seperti Nicholas Saputra atau Dian Sastro (silakan pilih tergantung orientasi seksual masing-masing) masih ada di dunia ini.

Gagal move on karena teringat masa-masa bahagia? Coba ingat bahwa di balik masa-masa bahagia itu, ada juga masa sulit yang membuat kalian sampai putus.

Ini yang paling penting:

Gagal move on karena masih ada secercah harapan, asa, dan keinginan (pemborosan kata, I know) untuk balikan?

Always remember this: you break up for a reason.

Selama alasan itu masih ada, sulit sekali untuk menjalani hubungan yang sama dengan orang yang sama. Dicoba berapa kali pun, alasan itu akan muncul kembali.

Singkatnya: terima kenyataan dan percaya bahwa putus adalah jalan terbaik.

* * *

Bagian Terakhir: Protokol Hubungan Bilateral dengan Mantan

Dengan bangga saya ingin melaporkan bahwa saya berhasil menormalisasi hubungan dengan mantan-mantan saya.

Dan tidak, saya tidak ingin balikan dengan mereka. Saya juga bukannya masih sayang.

Saya cuma menganggap mereka sebagai teman. Dan satu hal yang sering dilupakan orang, adalah bahwa wajar saja bila kita masih berhubungan dengan mantan.

Dulu dia pernah menjadi bagian yang cukup besar dalam hidup kita, aneh bila tiba-tiba dia harus dilenyapkan dari dunia ini hanya karena hubungan kalian berakhir.

Dulu dia adalah orang yang kita sayang (atau setidaknya kita kira begitu), kecuali dia pernah membuat suatu kesalahan fatal (menculik anak kecil untuk dibawa road-trip keliling Indonesia, misalnya), aneh sekali bila kita berubah menjadi tidak peduli sama sekali terhadapnya.

Kuncinya adalah: dibiasakan. It’s not awkward unless you let it be awkward.

Saya masih sering nonton, meminjamkan buku, dan mengobrol bersama salah satu mantan saya. Karena ya memang itulah yang membuat kami dekat dulu. Hal-hal itu yang kami lakukan semasa pacaran, dan itulah yang masih menjadi common interests kita sampai saat ini.

Dan saya kaget ketika tadi di kampus, salah satu teman mantan saya berucap, “Ada salam tuh.”

Saya bingung kenapa temannya harus menitipkan salam. Toh kami pun masih berhubungan lewat chat. Saya menanyakan tentang tugas organisasi kepada dia yang memang berpengalaman dalam satu divisi tertentu, kami bergosip tentang seorang freshman yang menebarkan hawa creepy dalam jarak pandang, hal-hal seperti itulah.

Tidak ada salahnya berhubungan dengan mantan, toh tidak sering-sering juga. Dan lagi, dinamika hubungannya pasti berbeda. Yang penting adalah dibiasakan saja, dan pastikan bahwa kedua belah pihak sudah sama-sama tahu bahwa hubungan kalian tidak bisa seperti dulu lagi sehingga tidak ada salah satu pihak yang masih berharap.

“Apa nggak takut susah move on?”

Memang, ada orang yang akan selalu punya posisi spesial untuk kita.

Saya pernah menganalogikannya dengan buku.

Saya jatuh cinta kepada Harry Potter sejak pertama kali. Buku itu yang mengenalkan saya kepada indahnya fantasi dan sihir. Dan saya tumbuh bersama Harry Potter, membaca Harry Potter (iya, saya sering sekali membaca ulang Harry Potter) jelas punya feel yang berbeda dengan saat membaca buku yang lain.

Harry Potter adalah buku favorit saya, itu jelas. Tapi apakah itu berarti tidak ada buku lain yang sukses membuat saya jatuh cinta?

Tentu saja ada. Hanya saja, dengan cara yang berbeda.

* * *

Saya menyadari bahwa setiap orang berbeda-beda, dan dinamika hubungan antarmantan juga berbeda-beda. Apa yang saya tulis hanya berdasarkan pengalaman saya pribadi, yang pengalaman pacarannya masih bisa dihitung menggunakan sebelah tangan. Jadi ya, wajar saja jika masih ada yang kurang tepat. Kalau ada yang cocok, silakan dipraktikan. Kalau masih berbahagia dengan pacar, silakan putus dulu agar bisa mempraktikan.

Atau ya, biarkan saja dulu. Tidak seperti mantan pacar yang bisa direbut orang kalau sudah ditinggalkan, tulisan ini akan masih setia menunggu.

Dan iya, menunggu Anda putus. Sekian.

PS: tolong tolong tolong jangan anggap saya serius. I’ve had too many people telling me that I’m baperan (bawa perasaan) already.

2 thoughts on “How to Survive in A Post Break-Up World

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s