Dressed for Success

Forgive me Father for I have sinned. Saya adalah satu dari sekian banyak perempuan yang menghabiskan hampir setengah jam setiap hari dengan berdiri di depan lemari baju, mengeluarkan setumpuk, mencoba satu, melepasnya lagi, coba lagi, rinse and repeat.

Itu adalah ritual saya setiap pagi sebelum ke kampus.

Banyak orang yang dengan sinis menanyakan, meskipun tidak langsung ke saya, “Ke kampus aja kok gaya banget sih?”

Tidak, saya tidak menghabiskan waktu lama memilih pakaian supaya nanti bisa di-upload ke jejaring sosial dan diberi hashtag #ootd (outfit of the day). Saya memilih pakaian yang bisa membuat saya terlihat rapi, lucu, cantik, atau apalah untuk diri saya sendiri.

Ada yang bilang bahwa, “Fashion is a way to show people who you really are without having to speak.

Mungkin benar, kadang kita bisa menilai seseorang dari gaya berpakaiannya. Tapi saya pribadi kurang sreg dengan itu. Saya senang memakai jeans belel atau dress motif bunga atau rok tulle ala balerina. Di satu hari saya bisa muncul ke kampus sebagai wanita dan di hari lain saya bisa dikira sebagai gembel nyasar.

Outfit saya pada satu hari tertentu tidak mewakili siapa saya yang sebenarnya. (Saya pernah kok, pergi ke kampus menggunakan dress dan kardigan cantik, lalu pulang dengan kaus bola dan celana pendek pinjaman).

Buat saya, dressing up lebih sebagai motivasi.

Ketika saya tahu saya akan punya setumpuk kegiatan hari itu, baik kelas, rapat, atau kegiatan lainnya, saya akan berusaha untuk dress up lebih dari biasanya.

Kenapa? Saya akan lebih bersemangat bila melihat diri saya di cermin menggunakan pakaian yang bagus ketimbang kaus belel yang biasa saya pakai untuk di rumah. Sesederhana itu saja.

Lagipula, siapa juga yang tidak bersemangat atau senang ketika mendengar komentar “Ih, cantik deh hari ini!”

Kadang, saya dress up untuk menghargai orang-orang yang akan saya temui hari itu. Datang ke acara organisasi bukan sebagai panitia atau peserta bukan alasan untuk tidak berpakaian rapi. Dengan menggunakan pakaian rapi, saya berusaha menunjukkan bahwa saya menghargai kerja keras dan acara mereka.

Alasan lain untuk dress up? Well, tentu saja supaya baju-baju lucu yang dibeli secara impulsif saat bosan di kelas akhirnya terpakai. Dengan sukses menangkis komentar beli-baju-mulu-mending-kalau-dipakai dari sang ibu tercinta (yang sebenarnya sama seringnya beli baju).

2 thoughts on “Dressed for Success

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s