“Oh kamu jurusan Hubungan Internasional?”

Sudah bisa berapa bahasa asing? Ha. Please, belajar Mandarin saja sudah mau ke neraka buat memaki orang-orang yang menciptakan hanzi.

Sering ke luar negeri dong ya? Ke luar Pulau Jawa saja baru sekali, Pak, Bu. Jalan-jalan memahami dunia-nya anak HI cukup lewat berita atau jurnal internasional saja.

Wah seru tuh, gue juga suka belajar budaya asing. Sudah ya, kita cukup sampai di sini saja.

Tugasnya nulis paper aja ya? Gampang dong, kan nggak pakai hitungan. Yuk, Mas, ikut saya menganalisa dan memprediksi supaya bisa mempertahankan kelangsungan bangsa dan negara Indonesia yang kita cintai ini. Mikirin hari ini mau pakai baju apa saja sudah susah, apalagi mikirin masa depan negara.

Kok belajar perang segala sih? Emangnya Indonesia mau perang? Kita belajar teori perang dan damai, kita belajar menganalisa jenis-jenis perang dan damai, dan hanya karena sekarang Indonesia belum mendeklarasikan perang bukan berarti Indonesia nggak bakal kena dampak dari perang atau damai di daerah manapun.

Kok masih ada kasus ini-itu sih? Emangnya PBB nggak bisa ngapa-ngapain? Enggak, PBB nggak bisa ngapa-ngapain. Apalagi ASEAN. Sudahlah jangan bawa-bawa ASEAN.

Terus buat apa ada PBB? Jadi pada suatu hari tuhan menciptakan langit dan bumi….. Fast forward ke dunia setelah Perang Dunia II dan tinggallah lima negara besar yang nggak runtuh-runtuh amat setelah perang dan jadilah PBB.

Itu yang soal Israel-Palestina (insert any other famous international events here) gimana sih? Pertanyaan kaya begitu, dijawab pakai 10.000 kata saja belum cukup. Tapi bisa pakai satu kata: rumit.

 Ah gue pernah baca tuh, itu kan kerjaannya Israel/Illuminati (insert any other conspiracy theorist favorite suspect here). LIAT MAS ADA SAPI TERBANG!

Konspirasi teori kan ada benernya juga, cuma mereka aja yang nutupin biar kita nggak tahu. Ya terus elo tahu dari mana kalau itu ada benernya? Kalau nggak ada sumber yang jelas, lebih baik nggak usah diomongin.


[Percakapan ini benar-benar terjadi.]

Alkisah hiduplah seorang mahasiswa dari jurusan sebelah, yang menghampiri anak-anak jurusan Hubungan Internasional (termasuk saya). Tanpa tedeng aling-aling, dia bertanya,

“What do you think about Putin?”

Lalu kami menjelaskan apa yang kami tahu tentang Putin. Presiden Russia, ganteng, six pack, hal-hal seperti itu.

He’s the boss, right? Dunia ini nggak bakal jalan tanpa Putin. Dia kan pemimpin nomor satu di dunia.”

Kami cuma bertanya, dari mana dia dapat opini kalau Putin itu pemimpin nomor satu dunia. Lalu kami bilang, soal siapa yang jadi pemimpin nomor satu dunia itu pada dasarnya tergantung siapa yang bilang begitu (sumbernya).

“No! Everyone says that.”

Everyone, dia bilang. Padahal kami yang di situ saja nggak setuju, gimana tujuh miliar orang lain di dunia ini?

Kami bersyukur setelah akhirnya dia berhasil move on dari Putin, tapi kemudian dia menanyakan hal yang lain lagi.

Cue mass frustration number two.

“What do you think about China?”

Kami tanya lagi, dalam soal apa. Apakah ekonomi, militer, atau hanzi? Karena kami punya opini yang sangat kuat soal hanzi.

“Well, everything.”

Sunyi. Diam.

Lalu dia mulai berpidato soal bagaimana pihak Barat tidak seharusnya menyalahkan China soal pelanggaran HAM di sana, karena China sedang fokus untuk mengembangkan ekonominya dan tidak bisa “multi-tasking” untuk mengurusi HAM segala.

Kemudian dia bertanya lagi, “What about North Korea, then? It is a kingdom, right?

Tidak, kami bilang. North Korea bukan sebuah kerajaan meskipun garis kepemimpinannya dipilih berdasarkan keturunan.

“But it is a kingdom!”

Kami bilang, kalau kamu mau bilang bahwa North Korea adalah sebuah kerajaan, kamu harus tahu definisi kerajaan, kamu harus tahu memahami sistemnya, apa indikator bahwa sebuah negara bisa dibilang kerajaan, dan juga bukti bahwa North Korea adalah sebuah kerajaan. Kalau nggak bisa, well, sorry to say, terima saja kesalahanmu.

“You don’t have to take it personally. I’m only asking for your opinion.”

Kami cuma berpandang-pandangan. Sambil menahan tawa. Nobody took it personally. That’s just how we discuss. Kita membenarkan pandangan yang salah, tidak ada yang menyerang orangnya.

Banyak yang berpendapat bahwa dengan membaca berita saja, dia sudah bisa mengerti hubungan internasional. Bahwa untuk belajar secara formal, mengambil jurusan HI di kuliah, itu tidak diperlukan.

Semua orang bisa tahu soal apa yang terjadi di panggung internasional. Tapi mahasiswa HI mempelajarinya dengan lebih dalam. Kami belajar kenapa itu bisa terjadi, apa yang sebenarnya terjadi, lalu apa akibatnya nanti. Kami belajar soal banyak perspektif, soal banyak teori, soal banyak kasus.

People know about international events and world affairs, we make them make sense.

Begini cara membedakan antara orang sok tahu dengan orang yang sedikit tahu dan benar-benar belajar tentang itu. Tanyakan sebuah pertanyaan. Orang sok tahu akan menjawab dengan percaya diri. Orang yang sedikit tahu, dan sedang belajar, akan bilang bahwa dia tidak tahu pasti.

Pada akhirnya, tidak ada satu pendapat yang absolut kebenarannya soal hubungan internasional. Ahli Hubungan Internasional saja punya pandangan yang berbeda-beda, makanya ada banyak perspektif di HI.

There is no right answer, tapi ada jawaban yang benar-benar salah.

PS: soal mahasiswa rese tadi, kami cuma bersyukur dia bukan anak jurusan kami.

PSS: menanggapi saran Kak Opik (“Kenapa nggak diajak ikut kuliah aja?”), protokol kalau melihat dia di jalan atau di manapun adalah segera menghindar dan jangan lakukan kontak mata. Sekian.

One thought on ““Oh kamu jurusan Hubungan Internasional?”

  1. Reblogged this on Wisdom Fodder and commented:
    You read the papers and know all things international, from China’s economic growth to Russia annexing Ukraine. You are not an IR student just yet.
    A nice read in the morning. It made me chuckle.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s