Curhatan Seorang Introvert: Mingling

Ketika kita membicarakan orang lain, adalah wajar untuk berasumsi bahwa entah di belahan dunia mana, ada juga orang yang membicarakan kita. Setiap orang yang pernah bergosip pasti juga pernah setidaknya bertanya-tanya tentang apa yang kira-kira dipikirkan atau digosipkan orang tentang kita.

Saya juga begitu.

Dan pertanyaan tidak akan terjawab kalau tidak benar-benar ditanyakan. Dalam satu hari, saya bertanya kepada dua orang tentang apa yang dibicarakan orang tentang saya.

Kurang lebih, jawabannya sama.

“Gue pertamanya mikir Devina itu pilih-pilih teman banget. Kaya nggak mau gabung sama yang lain.”

Padahal saya pikir, teman saya sudah lumayan banyak. Padahal saya pikir, saya sudah berusaha ramah dengan menyapa orang-orang. Padahal saya pikir, saya sudah berusaha mingle dengan teman-teman yang lain.

Seperti manusia lainnya, saya juga punya kelompok orang-orang yang paling dekat dengan saya. Orang-orang yang pertama kali saya kabari jika ada masalah, yang saya terror lewat chat atau SMS kalau sedang bosan, yang saja minta menemani makan siang, yang kamar atau kontrakannya saya hantui jika harus menunggu rapat atau acara.

Teman-teman saya yang lain juga punya orang-orang mereka sendiri.

Dan menurut saya, itu natural. Itu bukan suatu hal yang harus dipermasalahkan. Makanya saya paling tidak suka kalau ada yang bilang, “Ih jangan geng-gengan dong.”

Kelompok-kelompok pertemanan kecil seperti ini memang tidak bisa dihindari, tapi bukan berarti kami ‘geng-gengan’. Mungkin, geng-gengan adalah versi ekstrim dari sebuah kelompok pertemanan, di mana eksklusifitas menjadi prioritas dan mingling bukanlah sebuah pilihan.

Dalam kasus saya pribadi, yang jadi masalah adalah saat saya harus bergabung dengan kelompok orang lain.

Meskipun kadang malu-maluin, apalagi ketika sedang bersama teman dekat saya, saya adalah seorang pemalu.

Selain itu, ada rasa takut untuk masuk ke dalam ranah orang. Seakan-akan saya crossing the line, merusak privasi kelompok lain, melanggar kedaulatan mereka.

Takut tidak mengerti inside jokes, takut salah bicara, dan yang paling seram, takut dikira sok akrab.

Fear of rejection adalah sesuatu yang selalu menghantui saya setiap harus bergabung dengan orang lain, orang-orang selain teman dekat saya. Saya takut masuk ke dalam kelompok orang, dan karenanya, sangat bersyukur bila ada yang menarik saya ke dalam.

Dan ini tidak cuma terjadi pada saya.

Bisa saja, orang-orang yang kita kira sombong, yang sepertinya melihat kita pun tidak mau, ternyata juga mengalami hal yang sama.

Karena tidak semua orang diberkahi bakat untuk merangkul orang lain, beberapa malah butuh ditarik untuk bisa merasa diterima.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s