“Bilang mama, ‘Ongkos naik.'”

Lembaran ungu lusuh itu diterima, lalu disatukan dengan tumpukan uang lainnya. Tangan si abang kemudian memisahkan lembaran dua ribuan dari yang lainnya. Selembar, dua lembar, tiga lembar.

Tapi tidak ada yang keempat. Sebagai gantinya, selembar Kapiten Pattimura disatukan dengan trio dua ribuan tadi. Alih-alih delapan ribu seperti biasa, kali ini saya mendapat kembalian tujuh ribu.

Mbak-mbak yang naik angkot yang sama dengan saya kemudian juga merasakan hal yang sama. Ketika dia mengulurkan uang lima ribuannya di depan RS Anisa, abang angkot hanya mengulurkan kembalian berupa seribu rupiah. Diiringi dengan pengertian, “Maaf ya Mbak, naik seribu.”

Ini adalah hari pertama saya naik angkot semenjak kenaikan BBM bersubsidi diumumkan. Memang, ketika harga BBM naik, sesuai hukum rimbapun yang lain juga akan naik. Apalagi tarif kendaraan umum yang jelas-jelas langsung menggunakan BBM bersubsidi. Saya pun sudah membicarakan dengan ibu saya beberapa hari sebelumnya, dengan tujuan supaya uang bulanan saya juga dinaikan. Tapi seperti perusahaan se-Cikarang, ibu saya masih keukeuh untuk tidak menaikkan uang bulanan.

Belum ada pengumuman kenaikan tarif, alasannya.

Abang angkot 42 pagi ini pun mengakui bahwa belum ada pengumuman resmi dari Organda (Organisasi Angkutan Darat). Dia malah mengakui bahwa sebenarnya ada himbauan untuk mogok sehari sebagai bentuk protes kenaikan harga BBM.

Tapi dia sendiri enggan untuk ikut protes.

“Tugas kita melayani masyarakat,” begitu alasannya kepada saya.

Tapi meskipun belum ada pengumuman resmi dari Organda, seperti yang sudah saya ceritakan di atas, tarif tetap naik seribu rupiah. Abang angkot tadi bilang, sebenarnya dia juga tidak enakkan untuk menaikkan tarif. Tapi mau bagaimana, diapun harus memikirkan kondisi keuangannya sendiri.

“Palingan ya saya beri pengertian saja kalau naik seribu. Hari pertama sih masih banyak yang belum ngerti, tapi ada juga yang udah ngerti.”

Kenaikan seribu mungkin terlihat sepele, tapi tidak untuk orang-orang yang jatahnya memang pas-pasan. Saya, buruh pabrik, dan juga anak sekolah.

“Saya sih nggak tega sama anak sekolah,” ceritanya lagi, “Mereka kan memang dikasih jatahnya masih segitu-gitu juga sama orangtuanya.”

Saya hanya diam. Saya pun merasakan hal yang sama. Ketika harus menyesuaikan budgeting bulanan dengan kondisi seperti ini. Di mana pengeluaran bertambah, sedangkan pemasukan masih susah beranjak seperti remaja gagal move on. Bukan cuma saya dan anak sekolah, ribuan buruh pabrik yang siang ini konvoi memenuhi jalanan Cikarang demi menuntut kenaikan upah pun juga memikirkan hal yang sama.

(Sebuah ironi bahwa mereka menghabiskan BBM yang kian berharga demi memerjuangkan kenaikan upah untuk menghadapi kenaikan harga BBM, salah satu bukti bahwa hidup memang suka bercanda.)

Sambil tersenyum simpul, dengan tangan di atas setir dan mata memandang ke jalanan, laki-laki di sebelah saya itu hanya bilang, “Saya cuma pesan ke anak sekolahan. Bilang mama, ‘Ongkos naik.’ Semoga mereka ngerti.”

Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s