Salam

Siang itu saya dan Chenny berada di kontrakan F4, yang dinamakan begitu oleh pemiliknya sesuai alfabetis dan numerik, bukan karena kegantengan penghuninya. Sementara kami sedang berleha-leha, salah satu penghuninya, Reza, sudah dengan gantengnya siap berangkat ke kelas.

“Sudah ya, assalamualaikum,” katanya sambil keluar dari kosan.

Dengan refleks saya pun menjawab, “Iya.”

“Walaikumsalam woi, bukan ‘iya’,” sahut Chenny kemudian.

Saya cuma cengengesan.

Selama ini saya memang akrab dengan kata ‘assalamualikum’, ‘walaikumsalam’, dan sejenisnya. Tapi jarang sekali saya menggunakannya.

Saya kira, karena saya bukan Muslim, saya tidak punya hak untuk mengucap salam dengan cara tersebut.

Saya kira, karena saya bukan Muslim, saya tidak boleh menggunakan jargon tersebut. Saya takut dicap sembarangan atau tidak sopan.

Dan memang, selama ini ada semacam keengganan untuk mengadopsi kata-kata yang dianggap monopoli sebuah agama tertentu. Seperti ada sekat yang memisahkan kita, membatasi di mana dan dengan siapa kata-kata itu sepatutnya digunakan. Dan ini terjadi dua arah. Teman saya yang Muslim tidak akan menelepon saya dan memulai percakapan dengan mengucapkan ‘assalamualaikum’. Pernah, beberapa kali, teman saya sampai meminta maaf karena dia menyapa saya dengan kata tersebut.

Bukan, bukan karena eksklusifitas atau diskriminasi yang disengaja. Tapi karena memang tidak dibiasakan. Agama di Indonesia memang perihal yang lucu. Kita bisa berteman dan bertetangga dengan orang yang berbeda agama dengan kita, tapi sulit sekali untuk membangun rumah tangga dengan orang yang berbeda agama. Kita bisa hidup mendengar adzan dari masjid terdekat dan terbiasa merelakan tayangan televisi kesayangan kita dipotong adzan maghrib, tapi masih berat bagi lidah untuk mengucap ‘assalamualaikum.’

Ketika kita hidup di negara Muslim terbesar di dunia, adalah wajar bahwa kita menjadi akrab dengan kata-kata tersebut. Bagaimana tidak. Kecuali Anda tinggal di lingkungan yang sangat eksklusif, Anda mungkin akan mengalami hal yang sama dengan saya. Teman saya Muslim, tetangga saya Muslim, hampir semua orang yang berpapasan dengan saya setiap hari juga Muslim.

Setelah kejadian di kontrakan itu, barulah saya sadar. ‘Assalamualaikum’ hanyalah sebuah salam. Dan tidak seperti salam dari penguntit kita, sepatutnya dibalas. Jangan sampai, hanya karena salam itu menggunakan bahasa yang berbeda, yang diasosiasikan dengan satu agama yang berbeda dengan yang ada di KTP kita, salam itu menjadi tak berbalas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s