Aku selalu benci hujan. Dingin, basah, merepotkan. Membatalkan semua janji dan rencana, membuatku harus lari-lari menyelamatkan jemuran. Belum lagi soal petir dan kilat yang menyeramkan.

Sampai ketika, aku bertemu dengannya di bawah hujan, di pinggir jalanan kota yang ramai dan becek. Aku yang sibuk menyelamatkan diri dengan map plastik, dan dia yang menawarkan payung transparannya.

Dan segelas teh hangat.

Dan perbincangan dan tawa.

Lalu kemudian, cinta.

Bertahun-tahun, dan hujan tidak pernah menjadi musuhku lagi.

Selalu ada tangan hangatnya yang bisa kugenggam, jaket besarnya untuk menghalangi butiran air, dan tawanya yang mengalahkan gelegar petir.

Hujan yang membuatku jatuh cinta, dan dia yang membuatku mencintai hujan.

Aku terdiam di sampingnya, sampai kemudian kusadari rintik hujan telah jatuh membasahi gundukan tanah.

Hari ini, hujan terasa dingin lagi.

3 thoughts on “

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s