50 books challenge in 2014

1. The Fellowship of the Ring (The Lord of the Rings, #1)

2. The Two Towers (The Lord of the Rings, #2)

3. The Return of the King (The Lord of the Rings, #3)

Trilogi Lord of The Rings ini termasuk buku yang saya selalu ingin baca, tapi nggak pernah kepikiran untuk beli karena harganya yang cukup menguji iman. Makanya ketika salah seorang teman saya kasih ini sebagai hadiah ulang tahun, saya senang setengah mati.

Apa bedanya sama film?

Saya selalu bilang kalau reading and watching are two different experiences. Entah kenapa, lebih ngena perjuangannya saat baca. Benar-benar menggambarkan bahwa ‘one does not simply walk into Mordor‘ (well secara teknis jalan sih tapi kan…). Meskipun di film Frodo yang mendapat spotlight, tapi saya lebih bersimpati ke Sam.

4. Jane Eyre

Jane Eyre ini benar-benar single strong independent woman.

5. Howl’s Moving Castle

Saya selalu cinta setiap scene yang ada di film Howl’s Moving Castle. Ketika teman saya menawarkan untuk pinjam, otomatis saya terima. Ceritanya jauh lebih rumit daripada di film.

089 - 8ncvhZx

Tonton untuk gambarnya, baca untuk ceritanya.

6. The Fault in Our Stars

Alasan baca TFIOS:

  • Kata orang-orang bagus
  • Sudah baca Looking for Alaska dan Abundance of Katherine dari pengarang yang sama, lumayan juga. Mungkin saja TFIOS ini masterpiece-nya.
  • Waktu lagi hits, hampir setiap buka instagram, ada saja yang share foto buku ini.

Apakah buku ini okay? Not okay.

Entah kenapa, buku ini tidak berbicara kepada saya. Yah, namanya juga selera. Okay? Okay.

7. Cat’s Cradle

Ini yang menasbihkan saya sebagai seorang Bokonist dan menjerumuskan saya ke buku-buku Vonnegut yang lain. Super sekali memang.

8. Bukan Pasarmalam

Orang Indonesia seharusnya pernah baca satu buku Pram seumur hidupnya.

BPM

9. Slaughterhouse V

Saya pernah menulis tentang buku ini sebelumnya, Children’s Crusade.

Selain menampilkan tentang perang, saya juga belajar banyak soal hidup dari buku ini. Pertama adalah bahwa hidup selalu berjalan apapun yang terjadi (frase ‘so it goes‘ sering sekali muncul di buku ini), dan bahwa sedemikian menyedihkannya pun, masih ada keindahan dalam hidup.

SV

Mungkin ini sebabnya saya suka Vonnegut. Dia menampilkan satir tentang hidup dan manusia, tapi pada akhirnya membuat kita mencintai hidup.

10. Midah: Si Manis Bergigi Emas

11. A History of Modern Indonesia

Satu dari sekian sedikit buku non-fiksi yang saya baca. Bedanya, ini selesai. Buku-buku non-fiksi lain hanya saya baca di bagian-bagian tertentu saja, dan kalau untuk ngepaper saja.

12. Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children (Miss Peregrine’s Peculiar Children, #1)

Jangan baca buku ini kalau Anda penakut (seperti saya). Apalagi malam-malam. Saat sendirian di kamar.

Pokoknya jangan.

13. Larasati

14. God Bless You Mr Rosewater

Be kind baby, be kind. Tapi kalau terlalu baik, siap-siap saja dibilang orang gila.

15. Divergent

Tidak terlalu beda jauh dari filmnya, tapi menjelaskan beberapa bagian yang hilang di film.

16. The Guns of August

Narasi hari-hari sebelum Perang Dunia I. Sangat detail, baca ini seperti baca novel. Recommended.

17. Fight Club

We buy things we don’t need with the money we don’t have to impress people we don’t like.

Jangan baca buku ini kalau Anda:

  • tidak suka gaya hidup Anda dipertanyakan
  • cuma suka bagian fighting dari Fight Club
  • tidak siap memikirkan kembali tujuan hidup

18. Insurgent

Kalau Divergent masih oke, Insurgent sudah mulai meragukan, dan saya bahkan tidak kuat membaca Allegiant sampai selesai.

Maafkan aku, Theo James.

19. The Time Machine

Apa yang terjadi kalau manusia benar-benar terbagi menjadi dua kelas, bourgeois dan proletariat, dan terus begitu hingga ratusan ribuan tahun lamanya.

20. Norwegian Wood

Tulisan Haruki Murakami pertama yang saya baca adalah Kafka on the Shore, dan yang kedua adalah Norwegian Wood. Sampai saat ini, mungkin ini pula yang terakhir.

Saya suka gaya menulis Murakami, bagaimana dia membawa kita terhanyut dalam setiap adegan lewat kata-katanya. Tapi entah kenapa, alur ceritanya selalu mengambang, dan buat saya, seperti ada yang hilang.

Dan seks. Sangat banyak adegan seks di bukunya, dan saya juga tidak mengerti kenapa tokoh laki-lakinya sebelas-duabelas dengan Adonis.

21. The Hunger Games (The Hunger Games, #1)

Jujur saya tidak begitu mengerti The Hunger Games saat pertama kali menonton. Bukunya membantu banyak.

22. Extremely Loud & Incredibly Close

Kalau filmnya cukup menguras air mata dan mukus, bukunya… juga sama. Salah satu buku paling indah yang pernah saya baca.

23. The Cuckoo’s Calling

Setelah baca ini, saya sadar satu hal: saya tidak begitu suka genre misteri. Dan detektif. Harry Potter tetap berjaya di hati.

24. Anna Karenina

Siapa yang tidak kenal kalimat pertama dari buku ini?

All happy families are alike; each unhappy family is unhappy in its own way.

Entah kenapa, saya mendapat kesan kalau ketidakbahagiaan karakter di buku ini ada karena mereka sendiri yang menciptakannya.

25. The Song of Achilles

Setelah baca buku ini, Anda tidak akan bisa menonton Troy dengan cara yang sama lagi.

2 thoughts on “50 books challenge in 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s