Interplanetary Relations

International Relations itu menarik. Sebagai cabang ilmu sosial, IR selalu berkembang. Dulu IR cuma mempelajari hubungan antarbangsa, lalu antarnegara, lalu muncullah aktor bukan negara yang juga patut diperhitungkan dalam dunia internasional, sampai mencangkup ke individual.

Dan sekarang, dengan perkembangan sains dan teknologi, IR mempunyai tantangan baru. Bukan, aktor di IR belum bertambah dengan kehadiran alien, tapi sekarang IR dan hukum internasional sebagai produknya harus merambah ke luar angkasa.

Setelah hampir seluruh pelosok bumi sudah dijamah manusia, kita mengalihkan perhatian ke luar angkasa. Karena bumi yang semakin tidak memadai untuk manusia, baik karena polusi atau ledakan populasi, para ilmuan sedang mencari alternatif planet yang bisa kita sebut rumah.

Tujuan utama sekarang adalah Mars.

Mars One adalah proyek penempatan manusia secara permanen di (jelasnya) Mars mulai tahun 2024, dan akan terus bertambah setiap dua tahun.

Kenapa ini jadi penting?

Karena ada perjanjian internasional yang mengatur soal luar angkasa, Treaty on Principles Governing the Activities of States in the Exploration and Use of Outer Space, Including the Moon and Other Celestial Bodies yang mengikat secara hukum semenjak 10 Oktober 1967. Perjanjian ini tidak menentang eksplorasi ruang angkasa, tertulis di pembukaan bahwa pembuat dan penandatangan perjanjian ini percaya bahwa

exploration and use of outer space should be carried on for the benefit of all peoples irrespective of the degree of their economic or scientific development

artinya adalah, ruang angkasa dan segala isinya adalah bebas untuk dipergunakan untuk kepentingan umat manusia. Hanya saja, apapun hasil penelitian ruang angkasa harus dipublikasikan ke dunia internasional (tidak menjadi hak milik negara penyelenggara saja) dan alangkah baiknya jika penelitian ini diadakan atas dasar kerja sama internasional (bukan cuma satu negara saja).

Yang menarik adalah Pasal II

Outer space, including the moon and other celestial bodies, is not subject to national appropriation by claim of sovereignty, by means of use or occupation, or by any other means.

Kenapa menarik? Pada dasarnya, pasal ini bilang kalau ruang angkasa tidak bisa diklaim sebagai milik satu negara. Bulan, Mars, sampai batu di Pluto pun tidak bisa diklaim sebagai bagian dari satu negara. Semuanya adalah milik bersama sebagai manusia. Dan yang paling penting, sampai saya tebalkan, adalah bahwa ruang angkasa tidak bisa ditempati atau diduduki (occupation di sini diartikan sebagai pendudukan suatu wilayah di mana wilayah tersebut dan seluruh isinya secara tidak langsung berada di bawah kekuasaan aktor, di sini negara, yang melakukan okupasi).

Terlepas dari pertanyaan yang lebih sederhana, apakah proyek Mars One ini sesuai hukum internasional atau tidak (apakah frase ‘permanent settlement‘ digunakan agar bisa berkilah dari istilah ‘occupation‘), ada permasalahan lainnya soal koloni manusia di Mars sehubungan dengan IR.

Bagaimana tatanan hidup dan berpolitik manusia-manusia yang akan menempati Mars? Mereka akan membangun masyarakat sendiri, meskipun cuma sedikit. Mungkin awalnya hidup mereka terkontrol oleh NASA (yang mana merupakan milik Amerika Serikat), tapi bagaimana nantinya tatanan kehidupan dan pemerintahan mereka jika misi ini sukses dan koloni manusia terus bertambah? Apakah mereka akan membuat satu negara sendiri, otomatis lepas dari negara mereka di bumi? Apakah nantinya mereka akan hidup di bawah satu bendera internasional yang mewakili semua ras manusia di bumi? Hukum apa yang dipakai untuk mengatur hidup di sana? Siapa yang akan menjadi penyedia keamanan dan kesejahteraan sebagai pengganti negara? Kalau NASA jawabannya, apakah itu tidak berarti bahwa koloni di Mars adalah perpanjangan pemerintahan AS dan bukannya milik umat manusia secara keseluruhan?

Sebagai pecinta science-fiction dan manusia biasa mendukung sekali proyek Mars One karena alasan sederhana: proyek ini, terlepas dari semua manfaatnya nanti untuk manusia, keren banget. It’s like porn for nerds.

Akan tetapi, proyek ini harus ditinjau lagi dan dibicarakan dalam framework hukum internasional. Tidak mungkin proyek ini akan terus berjalan dengan damai atas nama kepentingan umat manusia. Pada dasarnya, saya percaya bahwa negara terlalu rakus kekuasaan untuk tidak memanfaatkan proyek ini untuk kepentingannya sendiri. Hal-hal seperti ini, yang tidak pernah dibicarakan karena kalah kepentingannya dengan yang lain, bisa menjadi masalah besar nantinya.


Perhatian: kalau ada kesalahan dalam, well, apapun, feel free to comment. Saya menyadari bahwa tulisan ini sangat awam dan saya pun bukan ahli sama sekali dalam baik IR ataupun hukum internasional. Terima kasih sudah membaca.

6 thoughts on “Interplanetary Relations

  1. There is already life on Mars . they might have a say in the regulatory laws needed for further puplic knowledge human settlements but with the disclosure of the planets fake red Photoshop being slowly removed by NASA I’m guessing that maybe interplanetary relations between earth Mars and solar governing body may have already been discussing these matters along with agreements on Luna governance as well . lol oh if only I was kidding .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s