Saya tidak tahu kenapa saya masuk jurusan hubungan internasional, tapi baru-baru ini, saya teringat akan percakapan yang membuat saya tidak jadi masuk jurusan lain.

Waktu SMA, saya aktif sebagai pengasuh sekolah minggu. Kebetulan, salah satu pengurusnya yang saya panggil Om Jun, adalah teman SMP ibu saya. Karena baik saya dan kakak saya sama-sama aktif di vihara tersebut, kami cukup akrab dengan Om Jun.

Ketika saya akan mendaftar masuk universitas, banyak yang menyarankan saya untuk masuk jurusan akuntansi. Setidaknya, masih ada hitung-hitungannya, sesuatu yang saya pahami dengan baik.

Tapi entah kenapa, saya juga ingin masuk hubungan internasional.

Saya bertanya pada banyak orang. Kepada teman kakak yang merupakan mahasiswa angkatan pertama jurusan hubungan internasional di kampus kami, kepada senior yang bisa dibilang primadona akuntansi, dan terakhir, pada Om Jun.

Jawabannya sederhana, tapi mengena.

Dia cuma bilang, “Pilih jurusan di mana kamu bisa berkembang.”

Tiga tahun kemudian, dan kalimat itu baru terlintas lagi di otak saya di tengah kesibukan mencari tempat magang.

Banyak pilihan yang tersedia, dan seperti biasa, saya selalu hilang arah di tengah pilihan. Akankah saya magang di perusahaan ternama yang bisa mendongkrak CV dan jumlah nol di rekening tabungan, atau di lembaga penelitian, atau malah di institusi pemerintah. Semua pintu telah tersedia, tinggal masalah saya mau mendobrak yang mana.

Setidaknya, kini saya tahu tempat seperti apa yang ingin saya pilih.

2 thoughts on “

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s