The Judge

Sekarang, tidak perlu sekolah hukum untuk menjadi hakim. Buatlah akun sosial media, amati halaman beberapa orang, dan kita pun menjadi hakim mereka.

Okay, sebelum lebih jauh lagi, here is a confession: I judge people.

Sering sekali, hampir setiap hari malah – dan dalam beberapa waktu tertentu, bisa lebih sering dari minum obat, saya membuka halaman sosial media, entah itu ask.fm atau instagram, lalu melihat dan membaca apa yang dibagikan oleh orang lain.

Scrolling, scrolling, scrolling.

[It’s funny how one person’s life can be compacted into one page navigated by your finger.]

And with scrolling, comes the judging part.

Meskipun saya mengerti bahwa people are people, bahwa adalah pilihan mereka untuk membagikan apa yang mereka suka di sosial media, bahwa adalah pilihan mereka untuk melakukan apapun yang mereka suka, makan apapun yang bisa dimakan, memakai apapun yang bisa dipakai, bergaul dengan siapapun yang mereka inginkan, dan yang terpenting, bahwa semua itu adalah bukan urusan saya, tetap saja…

“Ih liat deh, apa banget sih ini orang.”

“Maksudnya apa coba kaya gitu?”

“Dia nggak malu apa ya?”

“Pengen populer banget sih.”

Kata-kata itu, semuanya, keluar dari mulut saya. Atau setidaknya, terlintas di benak.

Tak peduli berapa banyak hashtag #nojudge yang beredar, tetap saja, saya menghakimi seseorang.

***

Adalah sebuah thread di reddit yang membuat saya tersadar bahwa orang yang saya hakimi tersebut adalah manusia juga. Seorang individu yang punya nilai sendiri, yang punya alasan sendiri. Orang yang kita cap sebagai hipster atau attention seeker karena, sebut saja, membawa mesin tik ke taman, bisa saja punya alasan sendiri yang kita tidak tahu. (Kalau penasaran dengan cerita lengkap typewriter-guy, bisa cek di sini.)

The reason we don’t know simply because it is cropped out of the picture (literally).

Kalau kata report yang baru saya baca dua minggu lalu untuk subject Diplomacy and Technology, salah satu sifat internet yang lumayan dominan adalah bahwa ia bisa melepaskan sebuah konten dari konteks. Fitur anonim yang ada di forum-forum memang membuat kita bebas mengekspresikan pendapat tanpa diskriminasi. Orang bisa menilai sebuah konten tanpa bias terhadap siapa yang mengatakan atau membuatnya.

Akan tetapi, konten yang tidak memiliki konteks juga berbahaya. Kita tidak tahu latar belakang kenapa konten itu bisa ada. Ibaratnya, ketika kita melihat sebuah gambar, kita hanya melihat sepotong saja. We don’t know the whole story.

Anonimitas dan dekontekstualisasi membuat kita semakin mudah untuk menghakimi orang. Pertama, kita bisa mengatakan apa saja tanpa pertanggungjawaban besar karena orang tidak tahu siapa kita yang sebenarnya. Kedua, tanpa konteks, kita tidak punya informasi cukup untuk mengerti konten. Dan entah kenapa, otak kita selalu bisa mencari alasan kreatif yang berujung pada penghakiman negatif. Yang ketiga, karena kita seringkali lupa bahwa yang kita hakimi itu, adalah manusia juga.

Seperti kasus typewriter guy tadi.

Dalam dunia nyata, ketika kita melihat seseorang membawa mesin tik di taman, pasti kita pun bertanya. Layaknya seperti di internet. Bedanya, ada papan tanda yang menjelaskan bahwa dia membawa mesin tik karena dia menjual cerita. Kita jadi tahu alasannya. Bukannya mencibir dan menghujaninya dengan cap hipster, kita mungkin tertarik dan kagum dengan kreatifitasnya.

Tapi ketika fotonya memegang mesin tik di taman beredar di internet, hujatan dan meme-lah hasilnya.

***

Tidak, dalam tulisan ini saya tidak menghakimi orang-orang yang sering menghakimi orang lain. Karena saya pun masih bersalah dalam hal itu.

Sejujurnya saya pun tidak tahu apa maksud saya menulis ini. Mungkin hanya sebagai refleksi, lebih mungkin lagi karena frustrasi dengan skripsi. Okay, mari pakai alasan pertama. Sebagai refleksi.

Meski saya sering menghakimi orang, saya pun kadang masih kesal jika menjadi obyek penghakiman orang lain.  Memang sih, seharusnya kita hidup sesuai dengan prinsip lama, ‘Jangan lakukan apa yang kita tidak mau orang lain lakukan ke kita.’

Tapi kan susah. Namanya juga manusia. #SorryNotSorry #NoJudge

Seringkali, saya memilih untuk menerima bahwa menghakimi dan dihakimi adalah sesuatu yang tidak bisa dicegah lagi. Saya berkomentar dan orang pun berkomentar soal saya, sama-sama tidak menganggu hidup satu sama lain selama masih dalam proporsi tertentu.

Satu hal yang sering dilupakan orang adalah kenyataan bahwa hanya karena kita dikomentari sekali, bukan berarti kita dibenci oleh orang tersebut. Tidak usah dibesar-besarkan.

Setidaknya, sampai dibuat menjadi meme.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s