Buku berat, buku ringan

Saya sedang mengejar ketertinggalan. Bukan, bukan soal skripsi (meskipun seharusnya begitu). Tapi soal membaca.

Di awal 2015, saya menetapkan goal bahwa saya akan membaca 52 buku tahun ini. Satu buku seminggu. Saya merasa optimis karena tahun lalu saya bisa membaca lebih dari 50 buku, dan juga karena di awal-awal, saya melahap banyak buku.

Tahun tinggal seperempat lagi, dan saya baru mencapai setengah goal saya hari ini.

Itu pun agak curang, dengan membaca novel young adult, yang di Indonesia mungkin selevel dengan novel teenlit atau novel-novel terbitan GagasMedia. Yang sekali baca habis. Yang kadang tidak dianggap sebagai bagian dari literatur yang sesungguhnya.

Bisa dibilang, saya pun sempat berpikiran begitu soal novel YA. Kalau bisa, saya menghindari membaca novel YA. Alasannya sederhana: kurang menantang. Rata-rata, novel YA bisa habis dalam waktu kurang dari sehari.

(Alasan yang sama dengan kenapa saya berhenti membeli novel Indonesia, apalagi yang sejenis YA, karena sayang sekali bila lima puluh ribu habis dalam waktu lima jam.)

Sebagai seorang pembaca, adalah wajar untuk menantang diri sendiri dengan bacaan yang agak ‘berat’, buku yang disebut sebagai literatur yang sesungguhnya. Saya bisa dengan bangga menyombongkan kalau saya sudah melahap habis The Brother Karamazov, Anna Karenina, Moby Dick, atau One Hundred Years of Solitude. Beda dengan novel populer yang hampir semua orang pun sudah membacanya.

Memang keren rasanya kalau sudah membaca novel-novel berat. Tapi apa daya, kadang otak juga butuh selingan. Reading for fun. Membaca yang cukup sekali saja, tidak perlu mengulang paragraf yang sama karena kesulitannya sama dengan jurnal ilmiah.

Pada akhirnya, novel Infinite Jest setebal 1000 halaman, yang dipuji karena kosakatanya yang unik dan ceritanya yang luarbiasa itu cuma jadi pajangan di lemari buku selama sembilan bulan ini. Karena bukannya menantang, malah mengintimidasi sampai saya sendiri pun tidak berani membuka lembaran pertamanya.

Magnum opus David Foster Wallace itu sia-sia. Kalah saing dengan novel ringan yang setidaknya masih benar-benar dibaca.

3 thoughts on “Buku berat, buku ringan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s