The Dictionary of Obscure Sorrows

Kata adalah simbol dari rasa. Akan tetapi, ada beberapa saat di mana kita tidak bisa menemukan kata yang telat untuk mengungkapkan apa yang kita rasakan. Bukan karena kurang mengakrabkan diri dengan KBBI, tapi karena memang tidak ada kata-kata yang tepat untuk perasaan itu.

Kadang, kita mengakalinya dengan meminjam dari bahasa lain. Ada pula yang menciptakan sebuah kata baru untuk kemudian dimasukkan dalam kamus.

The Dictionary of Obscure Sorrows adalah hasilnya. Menawarkan kata untuk mengungkapkan apa yang kita rasakan, menyederhanakan perasaan-perasaan aneh yang kita alami dalam satu deretan huruf.

Saya pribadi sangat menyukai kehadiran kamus baru ini. Seperti yang saya bilang di awal, kata adalah simbol dari rasa. Dan buat saya, rasa adalah reaksi kita terhadap dunia, terhadap apa yang kita lihat, kita dengar, dan kita alami selama kita hidup.

***

Salah satu kata yang menarik perhatian saya adalah sonder.

n. the realization that each random passerby is living a life as vivid and complex as your own—populated with their own ambitions, friends, routines, worries and inherited craziness—an epic story that continues invisibly around you like an anthill sprawling deep underground, with elaborate passageways to thousands of other lives that you’ll never know existed, in which you might appear only once, as an extra sipping coffee in the background, as a blur of traffic passing on the highway, as a lighted window at dusk.

Ketika saya magang, saya menjadi akrab dengan berbagai jenis alat transportasi massal di Jakarta. Setiap pagi dan sore, saya dipertemukan dengan lautan manusia yang sama-sama ingin menaiki kereta atau bus untuk alasan masing-masing.

Lautan manusia yang tak terhitung banyaknya, berdesak-desakan, masuk ke dalam private space satu sama lain, tapi tidak ada yang saya kenal. Tak ada komunikasi selain basa-basi, saling berbagi keluhan, senyuman, atau tatapan mata yang tak disengaja.

Kadang, kalau sudah begitu, kita lupa bahwa manusia yang kita temui itu adalah manusia juga. Kadang, mereka hanya jadi latar belakang. Kita tidak lagi memandang manusia lain sebagai sebuah individual, melainkan hanya sebagai kumpulan yang wajahnya saja kita lupakan begitu sampai di rumah.

Yang lebih parah adalah kenyataan bahwa kita sering menganggap mereka sebagai gangguan, satu hal yang sangat terasa kebenarannya saat kita akan naik bus atau kereta. Karena tempat yang terbatas, hukum rimba pun berlaku. Dan kita hampir selalu mengutamakan kepentingan kita di atas orang lain. Kita berlari-lari mengejar kereta supaya mendapatkan tempat duduk yang nyaman, memaksakan supaya tubuh kita masuk ke dalam gerbong yang padat, untuk alasan kita sendiri – supaya tidak telat, atau supaya cepat sampai di rumah. Kita tidak peduli dengan orang-orang yang tidak mendapatkan tempat duduk, atau mereka yang tidak bisa masuk ke dalam gerbong.

Kita lupa bahwa orang lain adalah manusia juga, yang sama kompleksnya dengan kita. Sama-sama punya keinginan dan kepentingan, yang mungkin lebih penting dibandingkan kita.

Sonder mengingatkan kita untuk memandang manusia sebagai manusia, bukan cuma sebagai latar belakang atau dekorasi dalam kehidupan kita yang bisa diabaikan begitu saja.

***

Di dunia di mana instagram merajalela, pasti kita pernah melihat foto yang sama berkali-kali. Tempat sama, konsep sama, hanya nama pengunggahnya saja yang berbeda.

Foto yang harusnya bagus, namun malah membuat jenuh.

Ada kata yang berhubungan dengan itu, vemodalen.

the frustration of photographing something amazing when thousands of identical photos already exist—the same sunset, the same waterfall, the same curve of a hip, the same closeup of an eye—which can turn a unique subject into something hollow and pulpy and cheap, like a mass-produced piece of furniture you happen to have assembled yourself.

Saya pribadi pernah merasakan hal ini. Ketika menjumpai sesuatu yang unik dalam kehidupan saya atau berada dalam tempat baru, dan mendapatkan foto yang (setidaknya menurut saya) indah dan layak untuk dibagikan. Hanya saja, terlalu generik.

Agak miris memang, ketika sesuatu yang unik bagi kita menjadi hal yang sudah kelewat pasaran.

Kalau sonder tadi mengingatkan saya untuk memanusiakan manusia lain, vemodalen malah menjadi sebuah tantangan.

Siapa peduli bahwa foto yang sama dan pengalaman yang sama dan tempat yang sama sudah pernah dilalui oleh ribuan orang lain? Toh memori dan momen yang ada di baliknya tetap sama berharga dan spesialnya untuk kita sendiri, yang mengalaminya.

***

Kata, baik sonder atau vemodalen, baik yang ada dalam kamus kita sendiri atau didapatkan di The Dictionary of Obscure Sorrows, punya fungsi sendiri. Ada yang menjadi pengingat, ada yang menjadi tantangan. Ada yang memotivasi, ada yang membuat sedih.

Saya percaya bahwa di balik semua maknanya, kata punya satu fungsi yang paling mendasar, menghubungkan kita kepada dunia. Mengungkapkan apa yang kita rasakan, dan sebagai refleksi tentang cara kita berinteraksi dengan dunia.

Sonder mengingatkan bahwa orang lain juga sama pentingnya bagi kita, yang kadang kita lupakan di dunia yang anarkis dan self-centered ini. Vemodalen mengingatkan bahwa meskipun kita tidak pernah benar-benar menjadi special snowflake, momen dan memori kita tidak kalah pentingnya dengan orang lain.

Orang bilang bahwa satu gambar bernilai sama dengan seribu kata. Mungkin, satu kata di sini hanya bisa merujuk pada satu jenis rasa yang spesifik. Tapi itu adalah satu rasa yang sangat kompleks, yang bisa membangkitkan perasaan-perasaan lain, dan mengungkapkan hubungan kita dengan dunia.

The Dictionary of Obscure Sorrows menyediakan kata untuk ungkapan rasa kita. Namun kadang, tetap ada rasa-rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata.

Tidak masalah.

2 thoughts on “The Dictionary of Obscure Sorrows

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s