Putih, Kuning, Hitam, Besar, Sipit, Lalu Kenapa?

Beberapa orang membaca buku sebagai hobi. Beberapa membaca untuk belajar sesuatu. Tapi buku tidak hanya menawarkan pengetahuan, sudut pandang, dan kesenangan.

Beberapa buku meninggalkan bekas merah di pipi.

Americanah adalah sebuah buku yang sangat jujur, seperti seorang teman yang kadang kita hindari karena kita tahu seberapa tajam kata-kata yang dilontarkannya. Kejujuran yang menyengat, sekaligus menyegarkan.

Lewat cerita seorang Ifemelu, Americanah mengajarkan kita untuk tidak lagi pura-pura buta. Pura-pura tidak menyadari hal yang jelas-jelas mencolok mata seperti perbedaan warna kulit. Dalam kasus Ifem, rambut. Dan dalam kasus banyak orang Cina-Indonesia, mata.

Kali ini, saya tidak akan membahas Americanah dalam konteks review buku. Tapi bagaimana cerita soal rasisme di Amerika terhadap orang-orang kulit hitam membuat saya teringat akan rasisme di rumah.

Americanah membuat saya tergelitik untuk membahas masalah ras di Indonesia.

***

Saya adalah Cina, meskipun kelihatannya tidak begitu.

Saya tidak tahu bagaimana sejarah dari pihak keluarga ibu saya, tapi kakek ayah saya adalah seorang yang datang langsung dari Cina daratan ke Indonesia. Dia menikah dengan orang Indonesia, membuat keluarganya sendiri di Indonesia. Salah satu anaknya, yaitu kakek saya, bahkan terdaftar sebagai tentara untuk Indonesia.

Tapi entah kenapa, kakek saya dan turunannya masih dianggap sebagai orang asing di sini. Sebagai bukan bagian dari Bangsa Indonesia, meskipun ayahnya sudah ada di sini sejak sebelum Sumpah Pemuda.

Rasisme di Indonesia adalah perkara unik, seperti di Americanah. Diskriminasi yang terselubung, prasangka yang langsung tercipta begitu mata kita memproses sosok yang berwarna kulit berbeda, yang kita berusaha tutup-tutupi, tapi nyatanya jelas-jelas ada dan mewarnai dan membayangi perilaku kita.

Saya sudah bilang bahwa saya tidak kelihatan seperti Cina pada umumnya. Kulit saya tidak putih, dan mata saya tidak sipit. Hampir tidak ada orang yang tahu bahwa saya punya marga Cina ketika pertama kali berkenalan. Bahkan ketika saya memajang nama marga saya di hampir semua akun sosial media, yang lucunya malah dikira sebagai akhiran tidak jelas.

Sebagai seorang Cina terselubung, saya bisa menyusup ke kehidupan orang-orang yang bisa dibilang sebagai warga Indonesia asli. Sesuatu yang mungkin agak sulit bagi teman-teman saya yang bermata kelewat sipit.

Ini baru saya sadari ketika seorang teman saya bilang dengan jujur, bahwa kalau saja dia tahu bahwa saya Cina, mungkin dia tidak akan dengan mudahnya berkenalan, mengobrol, hingga berteman dengan saya seperti sekarang.

Pengakuan yang mengagetkan, tapi entah kenapa menarik buat saya.

Saya tanya kenapa.

Lalu dia bilang, “Karena kalian beda, dan kalian suka menjaga jarak.”

Entah mengapa, saya mengerti alasannya. Dia rasis, memang. Tapi saya tidak menyalahkan dia karena rasismenya.

Karena saya tahu, kadang rasisme itu berjalan dua arah.

***

Sejak kecil, keluarga saya tinggal di tempat yang sama. Sebuah pemukiman dalam satu gang, yang mana hampir semua penghuninya saling mengenal dan menyapa. Di mana ketika Lebaran tiba, saya mendapat kiriman opor dan ketupat. Dan ketika Tahun Baru Imlek datang, ucapan selamat datang berbondong-bondong dari orang-orang yang jelas bukan Cina.

Keluarga saya mengajarkan saya untuk berbaur dengan siapa saja, berteman dengan siapa saja. Untuk berdampingan dengan orang lain tanpa pandang warna kulit.

Tapi tetap saja, ada hal-hal yang tidak bisa diucapkan terang-terangan, dan jarang sekali dibahas. Hal-hal yang dibisikkan, tapi diketahui semua orang.

Meskipun keluarga saya memperlakukan orang-orang dengan sama, baik mereka Cina atau bukan, saya tetap diajarkan bahwa ada perbedaan.

Dan pesan yang paling kuat, adalah bahwa hanya karena kita harus hidup berdampingan meskipun berbeda, bukan berarti bahwa perbedaan di bawah satu atap diperbolehkan.

Batas antarras, setipis apapun itu, tetap ada.

Pengalaman saya mungkin berbeda dengan orang keturunan Cina lainnya, yang budayanya lebih kental. Bahkan, ada sebutan khusus untuk orang Cina dan orang yang bukan Cina.

Sebutan yang bersifat merendahkan, yang mungkin sekelas dengan n-word di Amerika sana.

Inilah yang saya maksud dengan rasisme dua arah.

Orang Indonesia masih menganggap orang keturunan Cina sebagai orang asing, karena ada kelompok-kelompok yang masih mengeksklusifkan diri, merasa superior, dan tidak mau berbaur.

Mungkin, karena latar belakang sejarah di mana terjadi penindasan terhadap minoritas. Di mana kaum-kaum berkulit putih dan bermata sipit dibunuh dan ditargetkan secara masal.

Mungkin juga karena pengalaman historis di mana orang-orang yang dianggap asing ini selalu dianggap menumpang, dan karenanya berhutang kepada pribumi yang lebih berhak di tanah Indonesia ini. Di mana kesempatan dipersulit, dan seringkali harus diperlicin.

Ada alasan-alasan yang memang melatarbelakangi sifat itu.

Tapi kita semua tahu bahwa itu tidak harusnya dijadikan pembenaran.

***

Jujur saja, saya tidak bisa menyimpulkan tulisan ini dengan baik. Mungkin, saya hanya ingin bercerita tentang apa yang Americanah berhasil ungkit dari benak saya.

Bahwa rasisme masih ada, baik yang terang-terangan maupun yang terselubung. Bahwa perbedaan fisik akan menjurus kepada perbedaan perlakuan.

Bahwa perbedaan akan selalu ada.

Mungkin sudah saatnya kita terang-terangan mengakui perbedaan itu, berusaha jujur tentang stereotipe dan prasangka yang selama ini hanya berani kita ungkapkan dalam bisik dan tawa. Dari belakang pula.

Perbedaan memang ada, sudah saatnya kita berhenti pura-pura buta, dan belajar berbicara. Tentang perbedaan, dan hal-hal serta batas yang diciptakan olehnya.

Mungkin, sudah terlambat buat kita untuk merubah persepsi tentang perbedaan. Bagi kita, perbedaan berarti batas, berarti perbedaan perilaku pula.

Mungkin ada saatnya nanti di masa depan, ketika kita sudah tinggal nama di batu nisan, saat seseorang menyebut perbedaan, dan ditanggapi oleh, “Lalu kenapa?”

Ketika kita tidak lagi buta, dan memandang perbedaan sebagai mana adanya. Berbeda secara fisik dan sebagian gaya hidup, tapi tidak menjurus kepada hal-hal lainnya.

Karena memang perbedaan tidak harusnya jadi masalah.

3 thoughts on “Putih, Kuning, Hitam, Besar, Sipit, Lalu Kenapa?

  1. “saat seseorang menyebut perbedaan dan dijawab ‘lalu kenapa’? karena perbedaan tidak seharusnya menjadi masalah”

    I think I will quote you one of these days. Sebagai sesama Chinese yang besar di lingkungan multi kultural, your writing really leave marks. nice one.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s