Desember

Saya panik ketika menyadari bahwa kita sudah memasuki Desember.

Entah kenapa, Desember punya arti sakral untuk saya. Pertama, karena sama seperti orang lainnya, Desember berarti penghujung tahun. Di mana dalam 31 hari itu, kita akan ditagih untuk menuntaskan janji-janji palsu khas resolusi tahun baru yang kita lupakan semenjak Februari lalu.

Kedua, karena di penghujung Desember pula, saya akan berulangtahun. Menambah satu angka di kolom umur, juga kewajiban-kewajiban lainnya.

The impending sense of doom itu bertambah ketika saya ingat apa yang harus dihadapi tahun depan: sidang, wisuda, lalu mencari pekerjaan.

Sebuah tahapan hidup baru, yang tentunya jelas-jelas berbeda dengan masa-masa kuliah.

Meskipun saya sudah pernah mencicipi rasanya kerja sebelumnya, tetap saja rasa takut itu masih ada.

Dan kalau dipikir-pikir, saya familiar sekali dengan rasa takut ini. Saya selalu panik dan takut ketika akan memasuki tahapan-tahapan atau hari-hari penting. Dulu sebelum masuk kuliah, kemarin-kemarin sebelum magang, dan sekarang pun begitu lagi.

Tapi sering tidak berarti bahwa intensitas yang saya rasakan berkurang. Anggap saja seperti patah hati, berapa kali pun tetap saja sakit rasanya (sorry can’t help it).

Di sisi lain, rasa takut dan panik itu yang mendorong saya untuk mempersiapkan diri lebih baik, dan menggunakan Desember ini sebaik-baiknya.

Tanggal demi tanggal, sebagai periode persiapan. Bukan cuma angka hitungan mundur sampai muncul janji-janji palsu baru yang semangat eksekusinya padam secepat kembang api.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s