Kebebasan untuk berucap, “Selamat Tahun Baru!”

IMG_20150717_144714 cropped

Entah kenapa, malam pergantian tahun baru 2016 ini mengingatkan saya tentang kisah tentang sebuah hari tahun baru, entah berapa lama sebelum malam ini. Bukan tahun baru masehi, karena sebagai keturunan Tionghoa, saya dan keluarga merayakan pergantian tahun lain dengan lebih meriah: Tahun Baru Imlek.

Saya masih duduk di bangku sekolah dasar, dan saat itu sedang membicarakan Imlek dengan keluarga saya. Ke rumah siapa saja kami akan pergi, makanan apa saja yang akan disediakan, siapa saja yang akan datang, hal-hal trivial yang tidak saya ingat.

Lalu saya ingat kalau saya harus bersekolah saat Imlek. Saya mulai panik, karena saya tidak mau bolos sekolah ataupun kehilangan kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga dan memburu angpao.

Lalu ayah menenangkan saya, “Tenang saja. Tahun ini kan Imlek jadi hari libur.”

Saat itu saya tidak tahu bahwa sebuah perubahan besar telah terjadi di Indonesia. Orde Lama telah berakhir setelah 32 tahun lamanya, dan Soeharto telah mundur. Soeharto, orang yang memerintah dengan cengkraman militer. Soeharto, orang yang memerintahkan pembunuhan komunis. Soeharto, orang yang membiarkan atau malah menyusun secara sistematis penghapusan budaya Tionghoa di Indonesia lewat Pedoman Penyelesaian Masalah Cina. Yang membuat saya dan kebanyakan orang-orang yang lahir saat zamannya tidak memiliki nama Tionghoa (Keputusan Presidium Kabinet Nomor 127 Tahun 1966, 127/U/Kep/12/1966), dan tidak bisa berbicara satu pun dialek Tionghoa. Yang membuat bangsa Indonesia pada umumnya kesulitan membedakan antara vihara dan kuil karena sejak dikeluarkannya Peraturan Kementerian Dalam Negeri No. 455.2-360/1988, kebanyakan kuil atau klenteng harus menyamar menjadi vihara supaya masih bisa berdiri, karena Konghucu dan kepercayaan Cina lainnya sudah dilarang oleh SE Mendagri No. 477/74054 tahun 1978 tentang Pembatasan Kegiatan Agama, Kepercayaan dan Adat Istiadat Cina.

Yang membuat Imlek sebagai salah satu hari raya paling penting menjadi terabaikan karena bukan hari raya nasional. Jangankan bersenang-senang mencari angpao memakai baju baru, yang ada anak-anak seperti saya malah takut harus membolos sekolah dan ketinggalan pelajaran.

Imlek yang saya bicarakan tersebut, kemungkinan besar terjadi pada tahun 2000an. Ketika Orde Baru telah berakhir, dan ketika para pengganti Soeharto pontang-panting membereskan setumpuk masalah yang ditinggalkan si Bapak Besar. Salah satunya adalah masalah yang ditimbulkan Pedoman Penyelesaian Masalah Cina itu.

Pada tahun 2000, Presiden Abdurrahman Wahid yang berasal dari partai Islam menerbitkan Keppres No 6 tahun 2000, yang membuat Imlek menjadi hari libur bagi yang merayakan. Lalu didukung oleh Presiden Megawati Soekarno Putri, yang kemudian mendeklarasikan Imlek sebagai Hari Libur Nasional sehingga bisa dinikmati oleh seluruh bangsa Indonesia.

Sudah lebih dari satu dekade, dan adik-adik sepupu saya menganggap Imlek sebagai liburan yang ada setiap tahun. Mereka tidak pernah mengalami kecemasan harus meninggalkan sekolah karena Imlek, atau kasus ekstrimnya, merasa harus menyembunyikan identitas sebagai seorang keturunan Tionghoa agar tidak dipersulit saat ingin melakukan hampir apa saja.

Ini adalah perubahan-perubahan besar, yang kadang suka kita abaikan.

Pergantian angka di ujung tahun memang kadang tidak signifikan, dari 2015 ke 2016, dari satu Kamis ke Jumat, namun masih sama-sama 24 jam dalam satu hari, yang tidak ada bedanya dengan hari yang lain.

Pergantian tahun Imlek yang sesuai kalender Lunar pun pada dasarnya sama saja. Akan tetapi, kebebasan merayakannyalah yang patut untuk diperingati.

2 thoughts on “Kebebasan untuk berucap, “Selamat Tahun Baru!”

  1. Salam kenal,

    Belasan tahun hidup dikelilingi orang-orang yang homogen dan lahir menjelang reformasi membuat saya merasa biasa saja menjadi seorang Tionghoa. Hingga tiba saatnya saya pindah, menimba ilmu di lingkungan baru, memasuki replika Indonesia yang kaya akan suku budaya. Saya baru benar-benar sadar bahwa ternyata saya termasuk golongan minoritas. Ternyata bagi sebagian orang, saya tampak ‘berbeda’ pada awalnya.
    Tulisan ini mengingatkan akan berbagai rintangan yang pernah dihadapi kaum Tionghoa (yang saya sendiri tidak pernah merasakan diskriminasi secara langsung). Tulisan yang jujur dan berani. Saya salut.

    Tambahan, tulisan ini membuat saya makin kangen dengan perayaan Imlek dan cap go meh.
    Dan syukurnya, saya masih bisa salah satu jenis bahasa Tionghoa🙂 #curcol

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s