Musik, dan suara-suara yang terabaikan

Saya selalu percaya, music drowns our thoughts. Mendengarkan musik menjadi terapi sehari-hari bagi banyak orang untuk meredakan stress di tengah tumpukan pekerjaan, atau hanya untuk mengusir sepi. Buat saya pun begitu. Sepasang headset di telinga untuk menemani saat berjalan kaki ataupun di kendaraan umum, meredam bisingnya jalanan, atau kadang, panggilan usil dari lelaki pinggir jalan.

Tapi ada saatnya di mana musik disimpan dan kabel headset dirapiikan. Karena mau bagaimanapun, penggunaan headset cenderung mengisolasi kita dari sekitar. Dan kadang, suara dan cerita di sekeliling kita pun tidak kalah menariknya dibandingkan balad Bob Dylan.

* * *

Sebagai pembaca, saya sangat haus akan cerita. Termasuk yang saya dengarkan di perjalanan dari kampus dan rumah atau sebaliknya, baik yang sengaja diceritakan maupun yang tidak.

Kalau saya memakai headset sepanjang perjalanan, mungkin saya tidak akan menjadi pendengar setia kisah hidup seorang supir angkot 42. Abang yang satu ini menerangkan bahwa menjadi supir angkot adalah pilihannya, bukan karena terpaksa. Gelar ekonomi yang dia dapat mendorong dia menjadi sales pada masa-masa awal kelulusannya. Akan tetapi, pekerjaan itu dia tinggalkan demi menjadi supir angkot.

“Terlalu banyak tuntutan, kan ada target ini itu,” jelasnya. Dia menekankan bahwa sayang sekali kalau hidup stress hanya untuk mengejar rupiah. Saya hanya bisa mengangguk setuju.

Tiba-tiba, setelah puas bercerita tentang perjalanan karirnya, dia pun bercerita soal asmaranya. Si abang ini ternyata sudah hampir menikah, tapi gagal karena perbedaan agama. Sekali lagi, dia menyayangkan kenapa manusia harus dipisahkan oleh perbedaan.

Tapi saya sudah sampai di tempat tujuan. Dengan selembar lima ribu rupiah dan ucapan terima kasih, saya menutup pintu dan membawa pulang cerita dan sebuah pertanyaan.

Kalau abang yang sebelumnya dengan lancarnya menceritakan kisah hidupnya, ada lagi yang kisahnya bocor karena percakapan di telepon. Suatu siang saya pulang, duduk di depan, dan menjadi saksi berakhirnya kisah cinta supir angkot di sebelah saya. Lelaki berusia dua puluhan, yang kira-kira seumuran dengan kakak kandung saya.

Berbeda dengan tipikal supir angkot yang sering berhenti untuk menunggu penumpang, abang yang satu ini membawa mobil hampir tanpa berhenti sedikitpun. Tapi bukannya tanpa gangguan, karena handphone-nya terus berdering.

Kalimat pertama yang saya dengar adalah, “Apa lagi yang mau kamu jelasin?”

Deg. Klasik sekali.

Saya dan ribuan orang Indonesia lainnya yang pernah merasakan terjebak di depan televisi bersama ibu masing-masing langsung tahu bahwa kalimat tersebut berasal dari sebuah dialog klise dalam sinetron Indonesia yang akhirnya tidak pernah berujung bahagia.

Benar saja, selama 15 menit berikutnya si abang angkot berulangkali mengucap ‘udah nggak ada lagi yang perlu diomongin’ kepada mantan pacarnya yang ternyata ketahuan selingkuh. Meskipun tidak mau mendengarkan penjelasan mantannya dan membicarakan kelanjutan hubungan mereka, si abang angkot tetap sigap mengangkat telepon dari mantannya meskipun dia sendiri yang memutuskan percakapan beberapa saat lalu.

Ah, well. Manusia.

* * *

Dunia punya banyak sekali cerita untuk mereka yang mau mendengarkan.

Memang kadang dunia bisa menjadi terlalu overwhelming sampai-sampai kita tidak punya pilihan selain menutup kuping dan hanyut dalam dunia kita sendiri, dunia yang diciptakan oleh musik, deretan lagu yang kita pilih sendiri daripada suara bising di sekitar. Bebas saja. Semua orang merdeka untuk memilih kenyamanannya sendiri.

Saya suka cerita, apalagi yang datang dari orang yang tak disangka. Seorang yang benar-benar asing, lalu kemudian membagikan satu bab kisah personalnya. Cerita menjadikan sebuah sosok dengan muka yang lalu lalang di belakang sebagai sebuah karakter di dunia saya.

Tapi ketika yang ditawarkan orang di sekitar hanya godaan usil dan merendahkan, selalu ada musik untuk meredamnya. Kadang, memang ada suara-suara yang pantas untuk diabaikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s