Siapa Tahu Dilihat Jokowi: Tentang Sawah dan Perumahan

Processed with VSCO with 4 preset
“Fotoin Neng, kali aja diliat Jokowi.”

Bapak tua itu mendekat, kemudian berpose menunjukkan alat penyemprot pestisidanya. Setelah puas difoto, si bapak pun pindah tempat ke empang ayah saya. Dengan sebuah ember kecil, ia mengambil air untuk diisikan ke campuran obatnya.

“Emangnya sudah banyak hama?” tanya ayah saya.

“Belum sih,” jawabnya sambil menuangkan air ke tabung obat, “Jaga-jaga aja. Takut ada kupu-kupu. Nanti kalau sudah dateng kan susah lagi ngilanginnya.”

Adegan di atas terjadi tadi sore, di empang ayah saya yang dikelilingi sawah. Terletak di daerah Pule, yang mana merupakan daerah di utara Cikarang. Berbeda dengan Cikarang yang dipenuhi pabrik, daerah di bagian utara Kabupaten Bekasi, meliputi Sukamantri dan Pule tadi, diisi oleh sawah dan empang. Alih-alih pedagang kaki lima yang mencari peruntungan di jalanan Cikarang, jalanan di dekat empang ayah didominasi oleh ayam dan kambing.

Dan sekarang, perumahan.

***

Sawah di sekeliling empang ayah saya adalah sedikit dari sekian sawah di Bekasi yang belum dijadikan perumahan dengan nama yang membawa embel-embel taman, graha, atau regensi. Saya baru ke empang ayah hari ini setelah sekitar setahun tidak ke sana, dan banyak sekali bangunan menjulang di tempat yang saya tahu dulunya datar dan hijau. Saya bersukur ketika di sebelah kanan masih ada area persawahan besar yang masih ditumbuhi padi dan bukannya pondasi.

Lalu saya melihat persegi kuning bertuliskan merah. Bertuliskan bahwa sawah itu dijual.

17.000 meter persegi, katanya. Saya tidak tahu sebesar apa itu, tapi kalau dari jalanan, area persawahan yang akan dijual itu terlihat tidak berujung.

Baru kemarin rasanya saya dan teman membicarakan soal sawah yang kian tergusur perumahan. Teman saya ini berasal dari Karawang, yang terkenal sebagai lumbung padi Indonesia. Dia mengunggah foto sawah, dan saya mengomentari dengan apa yang saya lihat hari ini: bahwa sekarang sawah di Bekasi sudah tergerus perumahan.

Dia bilang bahwa sawah Karawang pun mengalami hal yang sama.

***

Thomas Malthus pernah memprediksi bahwa suatu saat laju pertumbuhan manusia akan mengalahkan laju pertumbuhan bahan makanan sehingga kemungkinan besar spesies kita akan mengalami krisis pangan.

Mungkin inilah yang terjadi sekarang. Terlalu banyak manusia. Dan orang-orang oportunis di Bekasi dan Karawang dengan cerdas menyadari bahwa ada makin banyak manusia, yang semuanya butuh tempat tinggal. Sawah pun diubah menjadi rumah.

Padahal, manusia juga butuh makanan. Dalam kasus manusia Indonesia, baik yang di Bekasi ataupun Karawang, nasi.

Entah dari mana.

Saya hanya menulis saja. Siapa tahu dilihat Jokowi.