Orang gila berpita

Hari itu hujan, itu yang saya ingat. Saya sedang berjalan dari rumah ke jalanan utama, tempat saya bisa menaiki angkot yang akan membawa saya ke kampus, mengenakan jaket bertudung hitam dengan payung di tangan. Langkah kaki saya percepat karena ada angkot yang sudah menunggu saya di seberang jalan.

Detail kedua yang saya ingat adalah orang gila berpita.

Ya, orang gila. Saya tidak tahu apa istilah yang benar untuk merujuk kepada sosok-sosok yang sering kita lihat di pinggir jalan. Sejak kecil, saya hanya mengenalnya dengan julukan ‘orang gila’. Seperti anak-anak kecil lainnya, saya mengaku bersalah karena ikut menyanyikan ejekan ‘orang gila’ setiap sosok kumuh, berambut acak-acakan, dengan baju usang ataupun setengah telanjang lewat di depan tempat kami bermain.

Beranjak dewasa, saya terbiasa untuk mengacuhkan sosok-sosok tersebut. Mau berbuat apa juga saya bingung. Memberi uang, yang ada malah langsung dimakan dan bukannya dipakai untuk membeli makanan. Saya jarang bepergian membawa makanan, dan karenanya tidak bisa memberi makanan saat saya menemukan orang gila. Lagipula, saya masih teringat saat saya dan ibu saya memberikan sebungkus nasi kepada sesosok orang gila, lalu dibuang olehnya begitu saja.

Tapi orang gila pada siang itu tidak bisa saya abaikan begitu saja. Bayangkan saja sosok orang gila yang biasa Anda temui di pinggir jalan: berkulit hitam legam, berbaju usang dan kadang setengah telanjang, dengan rambut awut-awutan.

Lalu bayangkan sosok tersebut menggunakan pita rambut berwarna merah muda.

Mulanya saya tidak tahu kenapa sosok itu terus terbayang. Mungkin karena sangat absurd, ketika melihat sosok yang tidak bisa menjaga kebersihan diri malah menggunakan pita rambut. Merah muda, pula. Kontras sekali dengan tubuh yang ditempelinya.

Orang gila berpita itu tidak pernah saya temui lagi, sejak sudah berminggu-minggu lamanya. Pertemuan yang hanya sekali, lalu terbayang. Sejak pertama melihatnya, saya ingin menulis tentang sosok itu. Hanya saja saya bingung harus menulis tentang apa. Tidak mungkin saya hanya mendeskripsikan soal orang gila berpita rambut merah muda. Memang mungkin saja, tapi saya selalu merasa bahwa ada yang kurang.

Pagi ini saya melihat sesuatu yang lain. Bukan, saya tidak bertemu dengan orang gila lainnya. Tapi sebuah foto essay, dibuat oleh Andrea Star Reese, seorang fotografer asing, tentang perlakuan yang diterima oleh orang gila di Indonesia.

Yang dia lihat adalah orang-orang gila yang dirawat, entah oleh keluarganya atau di institusi kesehatan. Judulnya, ‘Shocking Photos Of Indonesia’s Mentally Ill Patients Show Their Disturbing Living Conditions‘. Memang, untuk orang-orang yang berasal dari negara lebih maju, perlakuan kita terhadap orang gila sangat mencengangkan. Lihat saja istilah yang dipakai, ‘mentally ill patients‘ atau pasien sakit jiwa. Tidak beda jauh, tapi jelas lebih halus dengan julukan umum yang dipakai di sini: orang gila.

I am continuing this documentation because conditions remain critical, progress is slow, and Indonesia’s government does pay attention to the International press. International and National NGO’s are using my photographs and reports to further their efforts. I cannot leave this story,” kata sang fotografer.

Miris sekali ketika kita menyadari bahwa harus orang asing yang peduli terhadap sosok-sosok ini, yang biasa menjadi gangguan bagi kita di jalanan, sosok-sosok yang telah terbiasa untuk kita abaikan. Harus seorang asing yang bilang kepada kita bahwa perlakuan kita terhadap mereka harus berubah, sedangkan bagi kita, itu adalah hal biasa.

Mungkin, semua menjadi biasa karena kita tidak tahu apalagi pilihan yang kita punya. Keluarga penderita memasung mereka supaya tidak mengacau dan menyusahkan masyarakat sekitar. Sisanya, belajar mengabaikan karena tidak tahu apalagi jenis interaksi sosial yang pantas untuk dilakukan.

Saya tahu satu hal dengan jelas: tidaklah pantas memasangkan pita rambut kepada sosok orang gila, apalagi hanya untuk sebuah ejekan. Orang lain yang melihat orang gila berpita hari itu pun juga tahu hal yang sama. Hanya saja, kami sama-sama bingung harus berbuat apa.

Anak-anak pun terus menyanyikan ‘orang gila’, tanpa ada orang dewasa yang menghentikannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s