Pintar, atau kaya? Tentang pendidikan dan privilege

Beberapa hari yang lalu, makan siang saya dan teman-teman saya didatangi seorang tamu: percakapan serius. Biasanya yang menemani kami makan siang adalah berita selebriti, dari yang level tenar-hanya-di-kalangan-ABG-medsos hingga Taylor Swift.

Kebetulan di kantor sedang ada beberapa anak magang, kebanyakan siswa sekolah internasional dari Jakarta, dan yang satu lagi memang mahasiswa dari universitas ternama di Perancis.

Bahsan kami adalah, betapa hebatnya anak-anak ini yang meskipun baru SMA sudah bisa menulis dengan apiknya hingga layak publish, apalagi di media cukup besar seperti kami. Pun tulisan mereka seringkali masuk deretan artikel yang paling banyak dilihat dan paling banyak dibagikan di media sosial.

“Jaman sekarang, orangtua memang sudah lebih mendukung passion anak,” kata salah seorang dari kami. Dia bercerita, dulu dia hanya dihadapkan dua pilihan masa depan: yang satu pilihan ayahnya dan satu lagi pilihan ibunya.

Salah satu anak magang kami memang didukung ibunya untuk mendalami dunia jurnalistik. Mulai dari summer school sampai magang.

Ayah saya sendiri tidak setuju kalau saya jadi jurnalis. Sehingga saya mengakalinya dengan kerja kantoran di bidang jurnalistik. Selain bahaya, alasannya adalah biaya. Jadi jurnalis itu tidak akan membuat seseorang jadi miliuner. Jurnalis ternama yang sudah menang Pulitzer saja banyak yang akhirnya banting setir ke industri lain karena masalah uang.

Teman sekantor saya yang lain pun mengalami hal serupa. Kuliah di jurusan yang ditentukan orangtua, tanpa peduli passion-nya di mana. Akhirnya gelar yang didapat empat tahun itu agak sia-sia, karena sama sekali tidak terpakai di dunia kerja.

Ada lagi yang bilang, “Ya itu memang sekolahnya saja yang bagus. Kurikulumnya beda, dari kelas enam saja sudah disuruh membuat critical review puisi.”

Saya pas SD, hanya tahu menghapal puisi. Pas SMP, membuat puisi. Dan pas SMA, asal tahu kalau puisi Aku itu karangannya Chairil Anwar, aman.

Seperti yang saya bilang, anak-anak magang ini semuanya siswa sekolah internasional. Masuk SD internasional saja sudah ratusan juta, itu pun cuma uang pangkalnya saja. Belum aktivitas kurikulernya.

Tapi ya memang, harga tidak bohong.

Sorenya saya pulang ke Cikarang, di mana banyak SD negeri dan hanya satu sekolah bertaraf internasional ada. Sekolah internasional itu berada di perumahan mewah di daerah selatan, yang memang didominasi oleh orang kaya dan ekspat. Cikarang adalah daerah industri, dari buruh termiskin sampai direktur terkaya ada di sini.

Hanya saja, realita untuk mereka berbeda.

Kebetulan sekali, buku yang saya pesan sejak sebelum libur lebaran baru tiba. Salah satunya adalah kumpulan sajak Wiji Thukul, Nyanyian Akar Rumput.

uang sepuluh ribu di sakuku

di sini hanya dapat dua buku

untuk keluargaku cukup buat

makan seminggu

(Catatan, Wiji Thukul)

Inilah realita yang saya maksud.

Beberapa waktu lalu sempat ada survey bahwa Indonesia memiliki tingkat literasi (membaca) kedua paling rendah dari 61 negara, hanya lebih baik dari Botswana. Kalau Anda tidak tahu Botswana, itu membuktikan seberapa kecilnya negara tersebut di level internasional. Beda dengan Indonesia yang punya strategic partnership dengan Amerika, hubungan ekonomi kuat dengan Tiongkok, serta dianggap sebagai primus inter pares di ASEAN. Intinya, tidak seharusnya Indonesia separah itu.

Tapi seperti yang ditunjukkan Wiji Thukul di atas, bukannya orang Indonesia alergi membaca, tapi fakta bahwa buku adalah barang mahal. Rata-rata harga buku adalah lima puluh sampai enam puluh ribu, dan nasi bungkus tidak sampai sepuluh ribu. Orang bisa hidup tanpa buku, tapi tidak tanpa nasi. Keputusan yang mudah bagi sebagian orang. Terlalu mudah sampai buku tidak pernah lagi masuk dalam pilihan.

Sama seperti sekolah: kebanyakan hanya bisa masuk sekolah negeri yang gratis, yang kapasitas satu kelasnya bisa dua kali lipat kelas swasta, tapi gurunya sama-sama satu, dan biasanya kalah kualifikasi dibandingkan guru sekolah swasta yang metode pengajarannya sudah modern. Kalau sekolah saja mampunya hanya yang gratis, les dan ekstrakulikuler tidak usah ditanyakan lagi. Tidak ada uang, dan juga waktu. Pulang sekolah, bantu orang tua berjualan atau mencari pekerjaan serabutan lain.

Seringkali kepintaran bukan soal usaha atau bakat tapi privilege.

Artikel di The Atlantic membahas korelasi rata-rata penghasilan keluarga dengan jurusan kuliah. Hasilnya, cuma orang kaya yang mengambil jurusan humanities (fakultas ilmu budaya kalau di sini). Orang yang penghasilannya di bawah rata-rata cenderung mendorong anaknya masuk ke jurusan yang praktikal, bahasa sininya, “Yang terpakai di dunia kerja.”

Yang bisa mengejar passion atau ilmu secara umum hanyalah mereka yang tidak usah memikirkan soal uang.

Dan untuk mengembangkannya, butuh uang juga. Atau setidaknya, kondisi yang didukung oleh uang.

Di dunia di mana buku dan sekolah mahal, ilmu hanya jadi milik orang berpunya.

3 thoughts on “Pintar, atau kaya? Tentang pendidikan dan privilege

  1. setiap orang lahir dengan mata yang berbeda, kelak, ia pun melihat hal yang berbeda pula. Bukannya mau sombong atau pamer. Saya lulusan salah satu universitas mahal di Indonesia, tapi jangan khawatir, biayanya masih di bawah universitas anda yang menyandang peringkat pertama, tentunya. Sebagian besar teman saya pun adalah orang yang rela menghabiskan ribuan rupiahnya untuk sekedar membeli sepatu yang sedang trend. Tapi Ada juga yang seperti saya, uang pas pasan. Pas untuk menempuh pendidikan disana. Tidak lebih. Tidak ada uang untuk melihat koleksi butik yang sedang trend, atau untuk sekedar membeli makanan jepang yang digemari hampir semua orang. Namun di balik semua itu, saya menyisipkan 1/25 dari jumlah nominal uang yang teman saya habiskan untuk membeli buku yang saya butuhkan guna mendukung perkuliahan saya. saya mencintai pekerjaan saya, karena itulah saya masuk ke jurusan yang saya pilih ini. Tapi dari sekian banyak teman saya, hanya 10% yang se pemikiran dengan saya. Dan mereka adalah orang yang memiliki status keuangan yang kurang lebih sama seperti saya. Pendidikan dan passion bukan hanya karena uang atau hak istimewa yg anda maksud, karena saya juga memiliki kelainan fisik yang tidak bisa di toleransi oleh pekerjaan saya, hanya saja tidak terlalu parah. Sehingga saya pun berusaha untuk menutupi kekurangan saya dengan kelebihan saya dan akhirnya masih bisa berkerja di bidang yang saya inginkan. Kesimpulannya, anda mungkin melihat hal yang berbeda dengan saya. kalau anda tanya kepada dua buah mata saya, yang kiri mungkin menjawab: uang itu membuat orang kehilangan tujuan, karena apapun yg dia mau bisa didapat tanpa usaha. Sementara Usaha akan berbanding lurus dengan hasil. Kalau anda tanya mata kanan saya, soal membeli buku peredaran tata surya ya mahal untuk petani. Coba kalau judul bukunya “cara meningkatkan panen dalam sebulan” mungkin lain cerita. Karena ibu saya pun berjualan telur asin untuk membeli buku demi menamatkan kuliahnya. Hanya sharing dari apa yang saya lihat, berkembang sesuai passion itu bukan hanya soal uang, nona. ataupun soal privilege yang anda sebutkan. Uang bisa dicari. Namun seberapa kuat mimpi yang anda punya? Dan seberapa gigih perjuangan anda dalam meraihnya, itu adalah faktor terbesar yang paling menentukan.

    1. Saya tidak meremehkan usaha dan willpower. Cuma terkadang yang saya lihat, ketika tidak ada uang, orang bermimpi saja takut. Then again, maybe we’re seeing the world through different lenses. Bagaimanapun, dunia yang kita alami kan berbeda juga. Terima kasih sudah mau membaca dan berkomentar, semoga sukses di pekerjaan Anda. Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s