Untuk apa menulis? Mencoba mengenal Wiji Thukul lewat ‘Nyanyian Akar Rumput’

Saya suka menulis, semua teman saya tahu itu. Ada pertemanan-pertemanan yang saya jalin, bukan atas frekuensi pertemuan tapi karena kecintaan pada kata-kata. Ide memang seharusnya dibagi, begitu alasan orang-orang untuk menulis. Pemikir adalah penyendiri, dan menulis adalah metode yang dipilih untuk berhubungan dengan dunia. Putting the ideas out there, reaching out to people.

Atau begitulah yang saya harap.

Beberapa baris dari puisi Wiji Thukul yang berjudul Mendongkel Orang-Orang Pintar (1993) menggelitik para penulis:

p. 72
mungkin pembaca terkagum-kagum
tapi dunia tak bergerak
ketika surat kabar itu dilipat

Baris ini menohok, karena itulah yang terjadi dulu maupun sekarang. Orang-orang menulis, berusaha menginspirasi atau meningkatkan kesadaran terhadap satu isu, menyuarakan protes terhadap sesuatu, lewat kata-kata baik di surat kabar atau online. Pembaca tergugah, tapi bacaan itu akhirnya ditutup, untuk kemudian dilupakan lagi.

Saya pun menulis di sini, mengekspos isi otak ke luar sana, untuk dibaca Anda-Anda, hanya untuk dilupakan setengah jam kemudian.

Lalu, apakah berarti Wiji Thukul beranggapan bahwa menulis itu sia-sia?

Beberapa tahun sebelum puisi di atas, Thukul menorehkan sebuah sajak yang lebih optimis berjudul ‘puisi untuk adik’ (1987). Dari sajak ini, terlihat bagaimana Thukul masih menaruh harap dalam bacaan dan tulisan:

p. 79
kita harus membaca lagi
agar bisa menuliskan isi kepala
dan memahami dunia

Dari sajak lain, ada kritik keras untuk pembaca dan pemikir yang tidak bersuara, termasuk melalui tulisan:

p. 73
apa guna banyak baca buku
jika mulut kau bungkam melulu

Lantas, jika tulisan tidak bisa menggerakan dunia, untuk apa kita masih menulis?

Sekali lagi, untuk mengerti Thukul bisa melalui sajaknya. Berikut penggalan puisi ‘ucapkan kata-katamu’.

p. 27
jika kau tak berani lagi bertanya
kita akan jadi korban keputusan-keputusan
jangan kaupenjarakan ucapanmu
jika kau menghamba pada ketakutan
kita akan memperpanjang barisan perbudakan

Dari sini terlihat bahwa meskipun menulis terkesan sia-sia, tidak bisa menggerakan dunia, tapi masih menjadi langkah terakhir perlawanan. Perlawanan terhadap ketakutan, terhadap tirani yang saat itu mencengkram Indonesia, yang hantunya masih tersisa hingga sekarang.

Kebebasan untuk menulis dan bersuara adalah satu dari sekian hak dasar yang masih tersisa. Kalau suara saja sudah dibungkam, apa lagi yang kita punya?

Kita butuh tulisan yang jujur, bukan jelas-jelas membela penguasa. Tulisan yang tidak tertulis di koran, yang jelas saat itu menjadi alat propaganda pemerintah. Menulis untuk menjadi ‘kabar buruk buat penguasa‘ (p. 196) dan ‘melawan kebisuan‘ (p. 210), atau untuk mencatat kekejaman yang tidak pernah ditulis dalam buku pelajaran (p. 171 atau 218).

p. 187
kubaca koran
kucari apa yang tidak tertulis

Thukul seperti orang yang sudah pahit kepalang kecewa, tapi masih menaruh secercah harapan. Meskipun suara dibungkam, ia percaya bahwa pada akhirnya, ketika sudah cukup memekakkan kuping penguasa, toh akan dijawab juga.

p 82
sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
ialah yang mengajari aku bertanya
dan pada akhirnya tidak bisa tidak
engkau harus menjawabnya

Tapi saya rasa, tujuan menulis menurut Thukul bukan cuma untuk meminta jawaban, atau sekedar menjadi desing nyamuk di kuping penguasa. Ada alasan kenapa baris ‘maka hanya ada satu kata: lawan!‘ (p. 85) menjadi potongan sajaknya yang paling diingat: karena Thukul bukan cuma berpikir dan menulis, ia bergerak. Dia percaya kata-kata baik dalam ucapan dan tulisan saja tidak cukup, tapi harus ditemani tindakan:

p. 84
nanti kita akan mengucapkan
bersama tindakan
bikin perhitungan

Sajak Thukul bukan cuma ditujukan kepada penguasa, tapi juga pada yang tertindas. Bukan cuma mengkritik, tapi juga menggugah dan mengajak.

p. 152
aku berpikir tetang
sebuah gerakan
tapi mana mungkin
aku nuntut sendirian?

Dan dia yakin, bahwa dia tidak sendirian. Thukul ditemani Sofyan-Sofyan, Sodiyah-Sodiyah, Bariyah-Bariyah, dan nama-nama terlupakan lainnya. Ketika bersatu, menghadirkan kekuatan yang ‘tak bisa dibungkam kodim / tak bisa dibungkam popor senapan / satu mimpi / satu barisan‘ (p. 100).

Thukul percaya akan kekuatan rakyat, yang bersatu, berisik, melawan, dan bergerak:

p. 193
sebab
kalau seluruh rakyat tertawa
dan buruh-buruh mogok kerja, apa jadinya?

Buruh memang kaumnya Thukul. Merekalah yang dia suarakan, bukan sebagai ‘mereka’ tapi ‘kami’.

p. 209
hari depan buruh di tangan kami sendiri
bukan di mulut politikus
bukan di meja spsi

Thukul bukan pembela buruh, dia pun termasuk mereka yang patut dibela. Cuma dia tahu, bahwa nasibnya tidak bisa disandarkan ke tangan siapa-siapa.

Meskipun kini puisinya dikenang dan dipuja, dia dulu hidup melarat. Sekedar pujian tidak bisa memberi makan.

p. 64
apa yg telah kuberikan
kalau penonton baca puisi memberi keplokan

Tapi meski begitu, kecintaannya pada puisi tidak pernah kalah oleh isi dompet atau kesulitan yang didapat dari pemerintah.

p 93. hidup ini mengecewakan
tetapi mengapa aku masih sempat berbahagia karenanya?

Karena menulis, bukan cuma sekedar membagikan pemikiran. Bukan sekedar mengkritik, pun menggugah. Selain fungsinya dalam politik, menulis adalah pelarian.

p. 95
justru hari inilah
ketika aku lapar sendiri dalam kamar 6×7 meter
di sini ini
aku bersyukur masih sempat menulis puisi

Karena meskipun kata-kata akhirnya tidak bisa menggerakkan dunia, setidaknya bisa bikin bahagia meski lapar.

Jadi apakah ‘Nyanyian Akar Rumput’ kini, dua puluh tahun setelah dia menghilang? Apakah akar rumput masih bernyanyi, tersisa gemanya saja, ataukah terabaikan dan diinjak-injak, dibabat karena hanya dianggap gangguan? Bagaimana dengan orang-orang pintar yang menulis di koran? Mungkin, kritikan tajam tak perlu lagi takut dibungkam, tapi apa menyuarakan akar rumput?

Bagaimanapun, bacaan adalah barang mewah untuk kebanyakan orang. Dan tanpa bacaan, maka tak ada tulisan. Jika yang pintar dan menulis di koran hanya mereka yang kaya, hidup dalam realita yang berbeda dengan buruh, lantas siapa yang akan menggantikan Thukul bernyanyi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s