Haruskah Bob Dylan menang hadiah Nobel?

Baca baik-baik judulnya: haruskah, bukan pantaskah.

Saya tidak mempertanyakan soal apakah Dylan pantas memenangkan hadiah Nobel dalam bidang sastra meskipun dia bukan seorang penulis. Sastra dalam artian sempit hanyalah novel dan puisi, dan orang-orang yang mempertanyakan soal kemenangan Dylan semalam dengan cepat berargumen bahwa lirik lagu beda dengan puisi.

Lirik lagu, sepuitis apapun, tetap tidak lepas dari musik, kata mereka. Tapi Winston Churchill toh pernah menjadi pemenang Nobel dalam bidang sastra, dan tulisannya jelas bukan apa-apa tanpa karir politiknya.

Untuk itu saya cuma mau meminjam katanya Dylan, jaman itu berubah. Pengertian seni toh juga ikut bertambah seiring waktu, dengan adanya istilah “ninth art”. Mungkin, sastra juga harus begitu. Sudah tidak jaman lagi sastra didominasi orang-orang pongah yang hanya mau membaca ‘literature’ dan bukannya ‘genre fiction’. Keputusan panitia Nobel dalam memilih Dylan tahun ini seharusnya menjadi pengingat bahwa untuk para pecinta sastra yang katanya bisa membuat kita terbuka pada ide dan dunia, kita masih punya pandangan sempit soal apa itu sastra.

Tapi bukan itu inti tulisan ini. Seperti yang saya bilang di awal, tulisan ini mempertanyakan soal haruskah Dylan menjadi pemenang Nobel.

Mungkin, agar tidak kena cap plagiat, saya harus menulis disklaimer bahwa tulisan ini memang dibuat setelah saya membaca opini New York Times yang berjudul Why Bob Dylan Shouldn’t Have Gotten a Nobel.

Penutup opini itu sangat berbekas, “Bob Dylan does not need a Nobel Prize in Literature, but literature needs a Nobel Prize. This year, it won’t get one.

Dengan memilih Dylan sebagai pemenang Nobel sastra, ada penulis-penulis lain yang tidak jadi mendapat sorotan tahun ini. Sedangkan kita tahu, sorotan dalam bentuk penghargaan sangat penting di bidang sastra. Apalagi sekelas Nobel.

Eka Kurniawan, contohnya. Saya sendiri tidak tahu siapa dia sebelum bukunya dimasukkan dalam daftar 100 Notable Books in 2015 oleh NY Times. Saya yakin, bukan cuma saya yang langsung ke toko buku mencari Cantik Itu Luka setelah membaca itu. Belum lagi orang lain yang membaca Eka lewat versi terjemahannya, “Beauty is A Wound.”

Saya pribadi selalu menunggu-nunggu pengumuman hadiah sastra apapun, karena saya ingin membaca buku baru. Menemukan penulis baru yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Dan salah satu ciri khas hadiah Nobel adalah ini: mengangkat nama penulis yang tidak dikenal secara mainstream. Bukan karena pandangan elitis bahwa yang bestseller itu kacangan, tapi untuk mengangkat suara-suara penulis yang kurang terdengar. Nantinya, sebagai referensi soal karya mana yang dianggap mencerminkan jamannya.

Jadi, haruskah Dylan menerima Nobel? Tergantung apa yang mau kita lihat. Saya sendiri percaya bahwa untuk mengangkat nama penulis yang kurang terdengar dan menghargai sastra, masih ada Pulitzer dan Man Booker Prize.

Tapi hadiah Nobel punya tempatnya sendiri dalam bidang apapun. Nobel itu simbolis. Orang peduli soal siapa yang menang hadiah Nobel, meskipun mereka tidak peduli soal sains, sastra, atau perdamaian dunia sekalipun.

Dengan tidak memilih seorang penulis ‘sesungguhnya’ untuk menjadi pemenang, panitia Nobel sastra tentu punya tujuan sendiri. Ini tidak sesimpel, “Tapi liriknya memang bagus kok.”

Mungkin, lewat Dylan, panitia Nobel sastra punya pesan lain: bahwa sastra tidak sesempit itu, juga tidak seelit itu. Sastra bukan cuma buku dan puisi, dan bahwa lagu atau buku populer yang laku seperti kacang goreng pun bisa jadi sastra, tanpa harus dipandang kacangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s