Saya berterimakasih sekali kepada fitur ‘unfollow‘ di Facebook. Pasalnya, ‘teman’ Facebook saya ada sembilan ratus orang, yang tidak semuanya saya ingin dengarkan pendapatnya. Akui saja, kita punya setidaknya dua puluh teman di Facebook yang sering sekali pasang status tidak penting, upload foto tidak penting, dan berbagi postingan dari situs tidak penting.

Tapi sekarang, apalagi di musim panas menjelang pemilu ini, saya mulai unfollow orang-orang yang sebenarnya teman saya di kehidupan nyata, yang saya peduli akan kabarnya, tapi pendapatnya sangat bertolakbelakang dengan saya. Apalagi soal politik dan agama.

Makanya saya sangat tertohok dengan satu paragraf di artikel “War Goes Viral” oleh The Atlantic.

homophily

Pada dasarnya, di artikel itu dibilang bahwa meskipun pada awalnya kita berharap bahwa akses internet bisa membuat orang lebih kaya pengetahuan dan lebih terbuka terhadap pandangan baru, kenyataannya lain. Malah, kita malah semakin terkungkung dalam satu pandangan yang sama. Memang, semuanya ada di internet. Tapi internet bukan televisi atau koran, di mana semua informasi dan opini dihadapkan ke kita. Di internet, kitalah yang memilih mana fakta dan opini yang mau kita baca.

Akhirnya, itu-itu saja. Adalah sifat manusia untuk tinggal dalam zona amannya, begitupun soal pemikiran. Kita cenderung setuju, mengikuti, dan membaca orang-orang yang kita sukai, yang memang sudah sejalan dengan kita. Orang-orang yang berbeda pandangan? Tinggal klik unfollow saja.

Sikap seperti ini disebut dengan ‘homophily‘, yang tidak ada hubungannya dengan homophobia.

Apakah ini buruk?

Berdasarkan pengalaman pribadi, tidak juga. Fitur unfollow menyelamatkan banyak pertemanan. Tidak jaman lah sekarang memutuskan pertemanan cuma karena beda pendapat di Facebook, apalagi untuk hal yang memang di luar kontrol kita.

Saya dan teman pernah punya pendapat berbeda soal isu politik yang sedang hangat. Saya berkomentar, dia membalas, dan saya pun tahu bahwa sia-sia saja saya berbicara panjang karena pendapatnya akan tetap berbeda. Bagaimanapun, nilai dan norma yang ditanamkan pada kami sedari kecil sudah berbeda. Debat di Facebook tidak akan mengubah itu. Untuk ketenangan batin, unfollow saja.

Tapi menurut The Atlantic dan banyak situs lain, sikap seperti itulah yang berbahaya. Bukannya berdiskusi, kita malah menghindar. Bukannya mencoba memahami, ide yang berbeda itu menjadi asing, lalu kemudian bisa saja kita kemudian benci.

Ini yang berbahaya. Inilah yang menyebabkan banyak ‘haters‘ dan ‘die-harders‘. Karena fakta dan opini yang kita ikuti sifatnya begitu-begitu saja, akhirnya kita makin yakin dengan sikap kita sendiri. Kadang, menjurus ekstrim. Mungkin, inilah sebabnya orang tidak bisa netral-netral saja ketika membicarakan sesuatu. Apalagi politik, duh.

Dalam skala besar, homophily sangat berbahaya. Perbedaan pendapat sudah ada sejak dulu, tapi internet memperlebar jurang perbedaan ini. Dulu, orang dengan mudah bisa terpapar fakta atau opini yang bisa membuat dia berubah pikiran. Sekarang? Kemampuan untuk memilih konten dan algoritma pencarian di Google atau Facebook membuat kita makin tertutup. Diskusi untuk memahami semakin jarang, digantikan oleh debat yang hanya bertujuan untuk menyerang.

Mungkin, slogan ‘get out of your comfort zone‘ harusnya bukan cuma diterapkan dalam travel atau karir. Dalam keseharian berinternet pun begitu. Ini pun catatan untuk saya sendiri. Ketika ada fakta atau opini yang berbeda, apalagi di Facebook, cobalah untuk berdiskusi. Jangan kemudian dihilangkan.

Setidaknya, kita berusaha mengerti. Supaya tidak menjadi asing, lalu kemudian kita benci.

2 thoughts on “Tentang Facebook, internet, dan ketidakterbukaan pikiran

  1. Yep, saya setuju mengenai dampak positif dari diskusi. Karena faktanya melalui diskusi kita bisa melahirkan kesimpulan baru, kalaupun tidak tentulah memperkaya komposisi pemikiran kita. Tapi, siapa dulu yang diajak diskusi? Apakah teman/relasi kita di facebook mampu dan/ bersedia untuk berdiskusi dengan sehat dan disertai referensi valid? Apalagi kalau berdikusi dengan para bigot dan fundamentalis ABC. Yah jatuhnya malah diskusi gak sehat bin melebar.

    Pada akhirnya saya pribadi juga memfilter siapa2 saja yang menjadi teman di sosmed saya (khususnya FB). Nice article, Devina.

    1. Ya, itu juga salah satu concern yang jadi pertimbangan. Apalagi kebanyakan orang bisa dengan mudah menganggap sanggahan kita terhadap opininya sebagai personal insult. Memang rumit. Thanks for reading!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s