Beberapa hari ini, ada sebuah kampanye yang sedang viral di sosial media: Wild for Life dari PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa, bukan partai) bekerjasama dengan Path Indonesia. Karena partnernya adalah Path, jelas sekali bahwa yang dituju adalah anak-anak muda pengguna jejaring sosial.

Katanya, kampanye ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang perdagangan ilegal satwa liar.

nadya-hutagalung-orangutan

“Wildlife crime threatens not only wildlife but local communities and national economies and sustains international crime cartels. Everyone has a role to play in fighting this menace, be they lawmakers, law enforcers, businesses or private citizens. The actions taken by each of us will determine the survival of the world’s wildlife,” – Acting regional director of the UN Environment Programme’s Regional Office for Asia and the Pacific, Isabelle Louis. (Dikutip dari The Jakarta Post.)

Semua orang punya peran dalam perang melawan perdagangan satwa, intinya. Sampai sini, saya setuju.

Kampanye ini didesain sedemikian rupa agar orang merasa terlibat dalam konservasi satwa liar. Lebih tepatnya: agar kita mengidentifikasi diri sebagai teman satwa liar. Ketika membuka website kampanye Wild for Life, kita bisa mengisi kuis yang akan menunjukkan satwa liar mana yang mirip seperti kita (thank Buzzfeed for this kind of quiz). Kemudian, kita bisa mengunggah foto kita sendiri untuk diedit sedemikian rupa berjajaran dengan muka satwa yang kita pilih.

Di foto akan ada tulisan, seperti ini contohnya: di pojok kiri atas “I AM DEVINA. I AM A ORANGUTAN.” dan di pojok bawah “Wildlife Crime Just Got Personal.”

Saya sangat antusias ketika pertama melihat kampanye ini. Tapi ketika fotonya sudah siap, malah tidak jadi saya bagikan di akun sosial media.

Saya malu.

Ketika melihat muka saya berdampingan dengan orangutan, juga dengan tulisan bahwa kejahatan terhadap satwa sekarang menjadi personal, yang saya rasakan bukan empati terhadap satwa (ikut merasa kehilangan atau dirugikan, dsb.). Saya malah merasa bersalah.

“Wildlife Crime Just Got Personal” buat saya berarti lain: Wildlife crime is my personal crime, too.

Kenapa bisa jadi personal crime? Memang, saya berbuat apa hingga merugikan satwa?

Mudah jawabannya: lihat saja sekeliling kita, apa yang kita konsumsi lebih mudahnya. Hampir semua barang yang kita pakai mengandung minyak kelapa sawit (statistik yang sering beredar menunjukkan setengah produk di supermarket mengandung minyak kelapa sawit). Dan sawit adalah musuh besar bagi habitat orangutan.

Munafik rasanya jika saya memajang foto bersama orangutan, padahal yang membuatnya hampir punah adalah saya sendiri. Kejahatan terhadap satwa bukan cuma perburuan dan perdagangan liar, tapi juga pembabatan hutan sistemik yang dilakukan demi memenuhi gaya hidup kita.

Saya tidak bisa menyamakan diri saya sebagai orangutan, menuntut kejahatan terhadap satwa untuk dihentikan, jika saya juga bagian dari masalah.

Menurut saya pribadi, daripada memposisikan diri kita bersama korban, lebih baik kita mengakui bahwa kitalah masalahnya.

Kalau cuma bersimpati dan prihatin terhadap satwa liar, Pak SBY juga bisa. Yang diperlukan adalah perubahan gaya hidup, meski sulit. Sekarang banyak aplikasi yang memungkinkan kita untuk meng-scan barcode produk di minimarket agar kita tahu apakah produk ini terlibat dalam pembabatan hutan liar, pembunuhan satwa, atau malah menggunakan child labor.

Tidak usah bilang, “I stand with wildlife.” Ini bukan pemilu. Buat perusahaan, yang penting adalah uang kita dan bukan suara.

Social media is powerful, but not as powerful as our power as consumer. Change is within our reach. This time, it’s in our wallet, not our phone.

 


PS: Same goes with sea turtle, yang dimasukkan dalam daftar satwa dalam kampanye ini. Kalau masih minta plastik saat belanja di minimarket, andalah masalahnya.

PSS: Untuk orang yang mengenal saya secara pribadi, kemarin ikut kampanye, dan sekarang membaca ini, saya minta maaf kalau kalian tersinggung. Tapi ini opini pribadi, jangan dianggap sebagai personal insult.

PSSS: Saya nggak bilang kalau ini slacktivism. Saya juga sering kok menandatangani petisi di internet. Yang saya tidak suka adalah angle kampanye ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s