Ada tiga fakta soal Indonesia yang sering dibanggakan orang-orang:

  1. Indonesia adalah negara dengan populasi muslim terbesar di dunia.
  2. Candi Borobudur di Indonesia adalah monumen Buddhis terbesar di dunia.
  3. Demokrasi di Indonesia disebut unik karena di sinilah Islam dan demokrasi bisa berdampingan dengan harmonis.

Kasus Tanjung Balai membuat saya mempertanyakan apakah demokrasi masih berjalan dengan baik di sini. Lebih jauhnya, bagaimana kita selama ini salah memaknai demokrasi.

Begini cerita soal Tanjung Balai, sebagai pengingat:

Bulan Agustus lalu, beberapa vihara dan taepekong di Tanjung Balai, Sumatera Utara, dibakar ratusan warga. Asal muasalnya sederhana, karena seorang warga bernama Meliana merasa terganggu dengan suara toa masjid di daerah rumahnya dan kemudian meminta suaranya diturunkan. Permintaan ini tidak salah, ada dasar hukumnya malah. Jusuf Kalla sebelum kasus ini pun sudah pernah mengingatkan bahwa suara masjid sebaiknya diturunkan.

Salah Meliana cuma satu: dia Cina dan Buddhis.

Permintaan itu dianggap sebagai penghinaan terhadap umat muslim, yang memang mayoritas di sana. Dipercik provokasi lewat sosial media, yang menyebar hoax bahwa Meliana meminta adzan dihentikan sama sekali, maka terjadilah penjarahan dan kebakaran itu.

Lalu orang-orang ribut soal toleransi antarumat beragama.

Dua bulan berlalu, dan Tanjung Balai mulai terlupakan. Sampai beredar kabar di Facebook bahwa salah satu patung Buddha di sebuah vihara di Tanjung Balai diturunkan.

Alasannya? Masyarakat resah karena patung Buddha menjadi ikon di wilayah mereka yang mayoritasnya muslim. Daripada terjadi konflik, akhirnya minoritas mengalah saja.

Saya cuma bisa menghela napas, sambil was-was bahwa nantinya akan ada tuntutan untuk menurunkan patung Buddha dari Candi Borobudur.

Banyak aktivis yang mengkritik kasus penurunan patung Buddha ini, yang dinilai tidak menyelesaikan masalah. Memang, tuntutan mayoritas terpenuhi sehingga potensi konflik bisa dihindari. Tapi ada satu sisi yang terlupakan: hak minoritas.

Dengan membiarkan penurunan patung Buddha terjadi, pemerintah sudah gagal melindungi hak minoritas.

Kita sering lupa bahwa demokrasi bukan cuma majority rules, tapi juga soal perlindungan hak minoritas.

Di sini masih banyak anggapan bahwa selama suara terbanyak berkehendak A, suara-suara lain bisa diabaikan. Demokrasi dalam artian ini menjadi mayoritas vs. sisanya. Akan selalu ada pihak yang kalah, yang tak terlibat, yang tidak dipedulikan suaranya. Pada akhirnya, demokrasi bukan dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Tapi dari rakyat, oleh rakyat, untuk mayoritas.

Kita sering lupa prinsip demokrasi Indonesia adalah musyawarah mufakat, yang sering disalahartikan sebagai voting. Musyawarah mufakat bertujuan memenuhi permintaan dan tuntutan seluruh elemen yang ada, sedangkan yang sering terjadi adalah voting: satu menang dan sisanya terabaikan.

Inilah yang salah dari demokrasi kita: prinsip majority rules yang dipegang kuat, sementara minority rights terabaikan. Selama kebanyakan orang senang, yang lain menderita pun tak apa-apa.

Kalau prinsip yang dianut masih seperti itu, ganti saja Pancasila kita. Jangan lagi berbunyi, “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”  Toh selama ini yang dipedulikan bukan seluruh, tapi cuma sebagian besar. Kalau memang hak minoritas tidak penting, maka nyatakanlah dengan jelas, supaya minoritas tahu diri dan tidak menuntut yang macam-macam.

Biarlah Indonesia tetap bangga dengan demokrasinya, yang sukses memenuhi keinginan mayoritas. Biarlah nanti anak-anak Indonesia jujur terhadap diri sendiri, supaya tidak kecewa nantinya ketika terabaikan oleh negara. Ketika janji ‘keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia’ pada akhirnya cuma diperjuangkan untuk sebagian besar saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s