“Hati-hati ya.”

“Kalau bisa nggak usah kerja, bahaya.”

“Jakarta aman kan, Ci?”

“Katanya hati-hati, masih panas situasinya.”

Di atas adalah beberapa dari sekian pesan yang saya dapatkan, menjelang, ketika, dan sesudah aksi damai 4 November kemarin. Secara resmi ini aksi damai, populernya dengan sebutan demo anti-Ahok.

Bagi orang Cina-Indonesia: 1998.

Aksi damai 4 November kemarin memiliki tujuan sederhana: mendesak Jokowi agar proses hukum Ahok berjalan tanpa intervensi, kalau bisa dipenjara secepatnya. Ahok dinilai telah menistai agama Islam dengan membawa-bawa sebuah surat di Quran (Al-Maidah 51), yang dinilainya telah dijadikan alat politik supaya orang tidak memilih dirinya yang Kristen. Jokowi dinilai sudah melindungi Ahok sebagai teman baiknya.

Lebih dari seratus ribu orang yang turun ke jalanan Jumat lalu menilai mereka sedang membela agama yang telah dinistai. Ini soal agama, katanya, bukan politik ataupun etnik. Agamapun yang dimaksud bukan Kristen, tapi Islam. Berulang kali disebutkan oleh pendemo bahwa mereka tidak punya masalah dengan orang Kristen atau orang Cina, hanya dengan Ahok dan mulut besarnya.

Makanya begitu terdengar bahwa orang Cina panik menghadapi demo 4 November ini, karena trauma masa lalu atas 1998, banyak yang mencemooh.

“Berlebihan,” kata mereka. Lalu keluarlah berbagai fakta untuk mendukung bahwa demo ini tidak akan berakhir dengan kekerasan dan keributan.

Kebanyakan yang mencemooh itu tidak sipit dan/atau putih. Mereka tidak pernah ditargetkan atau mengalami diskriminasi karena mereka minoritas. Mereka tidak pernah mengalami ketakutan yang sama.

1998 dulu pun tidak ada hubungannya dengan Cina. Yang jadi masalah adalah Suharto dan sistem politiknya. Tetap saja Cina yang kena.

Entah kenapa, pembicaraan ini mengingatkan saya dengan debat #NotAllMen dan #YesAllWomen yang sempat ramai di Twitter tahun lalu. Intinya, #NotAllMen bersikeras bahwa tidak semua lelaki setuju atau mendukung pelecehan dan kekerasan seksual terhadap wanita. #YesAllWomen membeberkan fakta bahwa meskipun tidak semua lelaki brengsek, semua wanita pernah mengalami pelecehan itu. Hanya karena lelaki tidak pernah berpartisipasi dan menjadi saksi, bukan berarti hal itu tidak terjadi.

Apa hubungannya? Sama-sama ada perbedaan persepsi karena perbedaan realita yang dialami.

Aksi damai 4 November kemarin berakhir relatif damai. Memang ada sedikit kericuhan, tapi kecil sekali skalanya dibandingkan skenario terburuk. Apa skenario terburuknya?

Bagi kalian yang mayoritas: macet, nggak ke kantor atau sekolah, hidup terganggu untuk sementara.

Bagi minoritas: diperkosa, diserang, dijarah. Demo bukan cuma menjadi gangguan dalam rutinitas sehari-hari, tapi bencana dalam hidup.

Kalau Anda nggak pernah mengalami harus ngumpet di rumah atau rumah tetangga karena merasa rumah sendiri nggak aman, bagus. Kalau Anda nggak punya anggota keluarga yang terguncang sampai sekarang karena diperkosa saat 1998, bagus. Kalau Anda nggak pernah kehilangan toko dan barang berharga karena diamuk massa, bagus.

Tapi minoritas mengalami hal itu. Pemerkosaan, penyerangan, penjarahan, itu semua bukan cuma berita. Itu pengalaman.

Kalian yang cuma tahu soal itu di berita, tidak akan mengerti. Tapi setidaknya, berempatilah. Jangan mengecilkan atau mencemooh kepanikan seseorang. Mungkin, bagi Anda semuanya aman. Itu bagus.

Tapi orang yang baik sama Anda, belum tentu baik juga ke minoritas. Apalagi dalam kondisiĀ seperti kemarin, di mana orang-orang berkumpul secara massal. Individuals are smart, but a crowd is stupid.

Tentu saja, akan banyak yang tidak setuju: masih bersikeras bahwa kepanikan itu berlebihan. Tidak apa-apa, bersyukurlah kalau bagi Anda semua itu berlebihan, dan semoga saja kepanikan tidak akan pernah menjadi normal (ini tulus, bukan sarkasme).

Satu yang harus diingat, meskipun mayoritas dan minoritas sama-sama hidup di satu negara, punya sejarah yang sama secara tekstual, realita yang dialami tetaplah berbeda.

One thought on “Demo, panik, dan perbedaan realita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s