Kemarin lihat di Facebook ada challenge #WeekendTanpaMall. Sebenarnya sudah lumayan lama, cuma memang saya saja yang kurang update. Maklum, Facebook selama ini hanya untuk share berita. Boleh juga lah ya untuk ditulis, daripada soal Ahok mulu.

Menurut daftar yang ada di Wikipedia, ada 76 mall di Jakarta (terhitung sampai Nov. 9, 2016). Padahal rasanya sampai ratusan saking banyaknya pilihan mall yang ada. Mau ketemuan saya teman saja bingung enaknya di mana: apakah Gandaria City, Plaza Senayan, Senayan City, Plaza Semanggi, Grand Indonesia, Central Park, atau malah yang lebih baru dan tepat di sebelah Central Park – Neo Soho?

Hidup di Jakarta memang identik dengan mall. Dan macet, tentu saja. Memangnya ngapain aja sih di mall? Lihat-lihat baju (yang belum tentu dibeli juga), lihat-lihat kosmetik, lihat-lihat buku, nonton, makan, dan ngopi. Kalau ditulis begitu, sedikit sekali memang aktivitas yang bisa dilakukan di mall. Tapi nyatanya kita bisa dari pagi sampai malam di sana.

"Mall kalau sepi itu instagrammable ya," @chnnnnny, 2016.

A photo posted by Devina Yo (@devinayo) on

Biasanya sih kalau ditanya kenapa ke mall, jawabannya sederhana: karena semua ada di sana. Kalau dulu ada frase one stop shopping place, sekarang sudah berkembang jauh. Jangankan belanja, kuliah saja bisa di mall.

Tapi keseringan ke mall itu membosankan. Jujurnya sih, memiskinkan. Lebih jujurnya lagi, nggak keren-keren amat kalau update Instagram di mall mulu.

Jadi ke mana dong kalau bukan ke mall? Coffee shop? Kasihan sama teman yang perutnya lemah sehingga nggak bisa ngopi banyak-banyak. Lagian coffee shop hits jaman sekarang rata-rata penuh terus, sehingga nggak enak kalau duduk lama-lama di sana. Harus toleransi sama sesama anak kebelet gaul yang pengen foto-foto dan update Path juga di tempat hits.

Anyway, ini ada beberapa tempat yang pernah saya kunjungi dalam #WeekendTanpaMall, boleh dicoba kalau mau sok jadi turis sehari di Jakarta. Tempat-tempat ini semuanya bisa dikunjungi dengan bus TransJakarta atau commuter line, dan tentu saja Instagrammable.

1. Museum Hopping: Kota Tua dan Museum Nasional

How to get there: TransJakarta koridor Blok M-Kota, Commuter Line stasiun Kota

Entah kenapa waktu saya SMA, rasanya semua anak pergi dengan geng-nya masing-masing ke Kota Tua. Selesai skripsi kemarin, saya pun pergi ke Kota Tua lagi. Tujuannya standard: foto-foto dan melihat-lihat.

Museum hopping ini sangat direkomendasikan karena murah, edukatif, dan Instagrammable. Tiket museum itu cuma sekitar Rp 5,000 sampai Rp 10,000.

Tips datang ke Kota Tua:

  • Pergilah pagi-pagi sekali. Saya sampai sekitar jam tujuh dan kawasannya masih sepi, bebas dari anak sekolah dan pedagang sehingga cocok sekali untuk berfoto ria. Lebih pentingnya lagi, tidak panas.
  • Pakai baju yang nyaman: menyerap keringat dan tidak panas. Saya nggak tahu kenapa tapi panas di Kota Tua itu terik sekali rasanya.
  • Karena akan banyak berjalan kaki, pakai sepatu atau sandal yang nyaman. Sayang sudah jauh-jauh ke Kota Tua tapi nggak bisa melihat banyak atau malah nggak nyaman karena kaki lecet. Kalau bisa yang mudah dilepas pasang karena di Museum Fatahillah pengunjung harus melepas alas kaki, tapi tenang saja karena akan diberi pinjaman sandal jepit.
  • Untuk wanita yang memakai make up supaya total saat difoto: pakai make up yang tahan lama dan waterproof supaya nggak luntur karena pasti bakal berkeringat banyak sekali di sana.
  • Bawa air mineral dan tissue sendiri, masih sehubungan dengan panasnya Kota Tua.
  • Sediakan uang dalam pecahan lima ribuan. Di Kota Tua ada banyak orang-orang dengan kostum unik yang bisa diajak berfoto bersama. Biasanya sekali foto dikenakan lima ribu rupiah. Harga tiket museum pun sekitar lima ribuan.

Ada beberapa museum di kawasan Kota Tua:

  • Museum Fatahillah (resminya Museum Sejarah Jakarta)
  • Museum Wayang
  • Museum Seni Rupa

Saya pribadi agak kecewa ketika datang ke Museum Seni Rupa, yang dari luar terlihat megah tapi dalamnya agak kumuh dan gelap. Museum gelap itu nggak banget, karena saya anaknya penakut. (Ini serius.)

Kalau ke Fatahillah, jangan lupa ke taman di dalamnya. Rindang sekali, dan enak untuk duduk-duduk. (Jelasnya, juga untuk foto-foto.)

Museum Wayang yang paling top: edukatif sekaligus fotogenik.

"Piye kabare, enak jamanku toh?"

A photo posted by Devina Yo (@devinayo) on

Apa cuma ada museum di Kota Tua? Tidak! Setelah haus dan lelah berjalan-jalan, saya mampir ke Kedai Seni Jakarta yang adanya di pintu masuk Kota Tua kalau kita berjalan dari arah halte Kota. Sebenarnya ada Cafe Batavia, cuma lebih mahal sehingga saya memilih ke Kedai Seni Jakarta. Minumannya enak-enak, cocok sekali untuk beristirahat setelah museum hopping.

Setelah puas dan kepanasan di Kota Tua, saatnya berangkat ke Museum Nasional. Kenapa ke sana? Karena masih satu koridor busway. Dari stasiun Kota, naiklah yang ke arah Blok M lalu turun di halte Monumen Nasional atau Monas.

Museum Nasional atau lebih terkenal dengan sebutan Museum Gajah dulunya tidak setenar sekarang. Saat saya masih SD, Museum Gajah ya memang terkenal karena ada patung gajahnya. Itu pun kecil, jadi tidak begitu impresif. Museum Nasional jadi populer karena ada patung besar, bundar di depannya yang sangat Instagrammable. (Patung bundar itu namanya Ku Yakin Sampai Di Sana, karya Nyoman Nuarta.)

Close your eyes, give me your hand, darling. #museumgajah #museumnasional #ATWJakarta

A photo posted by Devina Yo (@devinayo) on

Selain itu juga ada bangunan baru di Museum Nasional, dengan pameran yang lebih modern dibandingkan di gedung lama yang terkesan museum jaman dahulu sekali. Ada ruangan pameran khusus yang isinya barang emas berlian, mewah sekali. Membuat bangga sama tanah air (tiba-tiba nasionalis).

Kalau bosan di Museum Nasional, bisa juga mampir ke Monas. Di sana bisa melihat Jakarta dari puncaknya, belajar sejarah di museumnya, atau sekedar duduk-duduk di tamannya.

2.Wisata Gambir: Katedral, Istiqlal, dan Galeri Nasional

How to get there: TransJakarta halte Istiqlal, Commuter line stasiun Gambir, atau bus turis gratis (Jakarta City Tour)

Ambil rute ini kalau kamu anaknya visual. Atau religius. Terserah. Yang jelas rute ini irit banget: nggak usah keluar uang untuk tiket masuk, dan kalau lapar atau haus tinggal ke minimarket yang ada di Stasiun Gambir (seberang Galeri Nasional).

Saya pergi ke sini bersama Chenny, dan sekali lagi kami berangkat pagi-pagi sekali. Ketemuan di halte Monas, dari situ kami naik taksi online ke Katedral. Kenapa nggak naik TJ saja? Karena bingung transitnya di mana (jujur), lagipula kalau berdua dan pagi-pagi lebih murah dan mudah naik taksi online kok.

Kalau mau lebih berasa turis, naiklah bus double decker yang disediakan gratis oleh PemProv DKI. Kalau nggak salah adanya cuma Hari Minggu, dan agak siang jadwalnya.

Tujuan pertama kami adalah Katedral. Niatnya sih mau foto di depan pintu utamanya yang ikonik itu, tapi apa daya ada pasangan yang mau menikah. Jadilah kami harus puas memotret Katedral dari agak jauh. Karena memang banyak yang menikah di Katedral, cobalah berfoto di bagian pintu samping. Nggak kalah bagus kok.

Selanjutnya kami ke Istiqlal, yang ada persis di seberang Katedral. Karena baik saya dan Chenny nggak ada yang shalat, akhirnya kami pun cuma berfoto di luar.

"Ini kaya cilok ya Dep," – @chnnnnny. Kalau pacarnya denger nggak jadi dihalalin.

A photo posted by Devina Yo (@devinayo) on

Dari Istiqlal kami jalan kaki ke Galeri Nasional, rutenya gampang: tinggal mengikuti Google Maps. (Jaman sekarang ke mana-mana gampang ya, terima kasih Google.)

Galeri Nasional punya dua jenis pameran: pameran tetap dan pameran temporer. Jadwal pameran temporer Galeri Nasional bisa dicek di sini. Tidak usah beli tiket masuk, cuma perlu menulis nama dan kontak di buku tamu dan menitipkan barang bawaan. Boleh berfoto di dalam ruang pameran, asal jangan pakai flash.

Seperti Museum Nasional, Galeri Nasional ini juga canggih banget. Di setiap ruangan pameran tetap ada LCD yang menampilkan informasi soal karya seni yang ada di situ. Meski kadang tetap saja harus menebak maksudnya apa. Saya dan Chenny sama-sama buta seni jadi ya seadanya saja kita sok pinter mangut-mangut depan lukisan.

Saat kami ke sana sedang ada pameran feminisme dari Lenny Wichert.

Di kompleks Galeri Nasional banyak spot menarik untuk foto. Kalau tidak mau foto mainstream di depan patung taman GalNas, bisa ke belakang. Ada mural warna-warni yang nggak kalah ciamik dengan yang ada di luar negeri. Ada juga satu bangunan yang masih berkesan tradisional, semacam pendopo (iya pendopo bukan padepokan, GalNas bukan tempatnya Dimas Kanjeng menggandakan uang).

Saya dan Chenny ke Galeri Nasional tanggal 1 Oktober. Kami masih punya stok foto sampai pertengahan November ini.

Bonus: kami makan siang di Sabang 16, deket banget tinggal naik taksi atau ojek online saja dari situ. Boleh dicoba kalau mau makan roti bakar srikaya sambil ditonton presiden-presiden RI. (Makanannya lain lain biasa aja, by the way. Kopinya pun begitu.)

Big brother is watching you. Unexpected Orwellian moment. #ATWJakarta

A photo posted by Devina Yo (@devinayo) on

3. Hutan mangrove PIK

How to get there: TransJakarta, naik bus kecil ke PIK dari Halte Harmoni. Turun di depan sekolah Buddha Tsu Chi aka bangunan besar warna abu-abu yang kaya bukan ada di Indonesia deh pokoknya.

Sebagai anak selatan, Pantai Indah Kapuk (PIK) itu cuma misteri buat saya. Tapi akhirnya bulan puasa tahun ini saya kesampaian juga mampir ke PIK, naik busway pula! Kurang irit apa dari selatan ke utara Jakarta cuma modal Rp 3,500. Agak mati gaya sih kelamaan di jalan, tapi selama punya teman seperjalanan yang menyenangkan nggak akan kerasa kok.

Hutan mangrove PIK ini enak banget buat sekedar jalan nggak jelas, ngobrol sama pacar atau gebetan, atau sekedar cari biawak. (Kegiatan saya selama di sana adalah yang terakhir.)

Tempatnya hits banget di Instagram, jadi banyak spot bagus. Waktu saya ke sana sepi, jadi mungkin orang yang puasa pada malas jalan-jalan kepanasan.

#hutanmangrove #pantaiindahkapuk #mangroveforest #mangroveforestjakarta

A photo posted by Devina Yo (@devinayo) on

Meskipun tempatnya bagus, di hutan mangrove PIK nggak boleh bawa kamera profesional. Akan ada pemeriksaan tas, meskipun tas saya yang sebenarnya nggak kecil-kecil amat nggak diperiksa. Jadi mungkin bisa ngumpetin kamera kecil macam mirrorless untuk foto di hutan mangrove.

Tiket masuk hutan mangrove PIK: Rp 25,000. Untuk foreigner harganya beda, lupa tapi.

Road to nowhere #hutanmangrove #pantaiindahkapuk #mangroveforest #mangroveforestjakarta

A photo posted by Devina Yo (@devinayo) on

Tips mengunjungi hutan mangrove PIK:

  • Pakai pakaian yang adem. Karena ada di pinggir pantai, jadi hawanya panas. Lebih nggak enak lagi, panas lembab. Memang sejuk ketika ada di bawah rimbunnya mangrove tapi kan nggak selamanya kita berteduh, kadang ada panasnya juga.
  • Bawa air mineral sendiri, yang banyak. Ada kantin dan vending machine tapi nggak banyak, dan terkonsentrasi di satu titik. Daripada kehausan ya mending siapin air minum saja.
  • Ada biaya tambahan untuk kamera professional dan ada pemeriksaan tas. Jadi bawalah kamera yang kecil dan pintar-pintarlah menyembunyikannya.
  • Pakai sepatu yang nggak ribet, janganlah pakai high heels. Jalan dan jembatan yang ada banyaknya dibuat dari kayu dan bambu dan permukaannya nggak rata. Daripada jatuh karena licin atau tersandung, mendingan cari aman saja.
  • Kalau bisa bawa cemilan yang banyak buat sambil jalan-jalan.
  • Datang agak sore ketika matahari sudah nggak terlalu panas.
  • Kalau mau naik perahu segala, bawa uang yang lumayan banyak. Sekitar dua ratus ribuan, kalau nggak salah. Tapi nggak usah naik perahu pun sudah asik kok.

 

Jadi sekian tempat-tempat yang pernah saya kunjungi. Ada sih rekomendasi tempat lain untuk weekend tanpa mall, tapi rasanya kurang moral responsibility aja kalau merekomendasikan tempat padahal saya sendiri nggak pernah merasakan.

Intinya sih weekend tanpa mall itu memang kelihatan lebih ribet, padahal nggak juga karena tempatnya bisa dijangkau dengan TransJakarta saja. Selain lebih murah, feed Instagram pun jadi lebih berwarna.

 

Catatan untuk diri sendiri: jalan-jalan, gih. Jangan wacana doang. Demi blog dan Instagram yang lebih baik!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s