Saya ingat membuka berita pada suatu pagi, dan malah tidak jadi membaca apa-apa. Dari satu halaman, yang saya lihat hanya judul-judul yang membuat depresi. Demo di sana, demo di sini, amuk masa di belahan bumi lain. Ketika membaca judul, saya bukannya tertarik, tapi malah tidak peduli.

Dalam buku News: A User’s Manual, Alain de Botton bilang bahwa berita dan jurnalisme punya tujuan idealis: menghapus ketidaktahuan kita tentang hal-hal kejam sehingga nantinya kita sadar dan memancing moral kita supaya nantinya hal tersebut tidak terjadi lagi.

Lalu kenapa saya malah menjadi tidak peduli?

Jenuh. Rasanya setiap membaca berita buruk semacam itu, saya makin skeptis dengan manusia.

Dalam buku yang sama de Botton pun bilang bahwa kalau ada peristiwa yang kejam terjadi, kadang tidak lagi menjadi ‘berita’ (news) untuk kita. Sudah tertebak. Semua orang juga tahu kalau di Yaman ada perang. Bahwa satu sekolah atau rumah sakit terkena bom tidak lagi mengejutkan kita. Sama halnya dengan Somalia yang terkenal dengan anarkinya. Atau Suriah.

Di bayangan kita, Somalia atau Suriah sama-sama negara yang dilanda konflik. Kita sudah menganggap perang dan kekerasan sebagai kondisi ‘normal’ di daerah itu. Tidak aneh kalau ada berita buruk yang terjadi di sana. Yang mengherankan adalah ketika Somalia dan Suriah mengirimkan kontingen untuk Olimpiade Rio 2016.

Tapi ketika kita memberitakan yang positif tentang negara-negara yang dicap gagal itu, malah dicap sebagai propaganda. Pengalihan isu. Sugarcoating. Advertorial. Apalah itu namanya.

Lalu sebenarnya, berita seperti apa yang kita butuhkan? Apa sebenarnya fungsi berita buruk? Seberapa banyak berita buruk yang harus dipublikasikan supaya kita tetap peduli dan bukannya jenuh? Mungkinkah kita akan terus peduli atau apakah kita memang akan selalu berakhir jenuh?

Setelah beberapa bulan bekerja di media digital, saya sedikit banyak bisa bicara soal trend berita buruk ini. Kalau di digital, melihat mana berita yang menarik perhatian itu mudah: tinggal cek page views. Berita yang dibaca paling banyak ada dua jenis: kalau tidak berita yang baik sekali (orang Indonesia menang awards di kancah internasional), ya berita yang buruk sekali (biasanya kekerasan terhadap minoritas, perempuan, atau anak-anak).

Berita buruk masih dibaca, hanya saja yang benar-benar mengejutkan. Harus ada eskalasi, barulah orang peduli. Ada perang? Oke itu berita. Lima tahun kemudian masih ada perang? Oh.

Contohnya adalah kasus bocah Aleppo yang beberapa minggu lalu beredar. Internet heboh karena ada video yang menunjukkan bocah lelaki yang terguncang karena terkena serangan udara di Aleppo, sampai-sampai dia cuma diam saja. Dia bahkan tidak menangis. Anak sekecil itu, yang terbentur meja saja biasanya sudah menangis, malah diam.

Video itu menjadi viral, barulah orang-orang mulai peduli soal anak-anak di Suriah.

aleppo boy google trend.PNG

Padahal konflik di Suriah sudah berlangsung semenjak 2011. Entah sudah berapa banyak anak kecil yang tewas karena konflik itu. Beritanya pun ada di mana-mana. Tapi orang baru mulai peduli semenjak ada video bocah Aleppo itu.

Dan ketika saya bilang peduli pun, artinya peduli saat itu saja. Paling lama seminggu. Lihat sendiri di media sosial Anda, apakah masih ada yang membicarakan soal Aleppo? Padahal konflik di Suriah masih berjalan, dan anak kecil masih menjadi korban. Masih ada berita soal itu. Lalu kenapa orang berhenti peduli?

Apa yang perlu terjadi supaya orang mulai membicarakan Suriah lagi?

Apakah berarti jurnalisme sudah gagal mencapai tujuannya? Atau kita yang sudah terlalu apatis?

Entahlah.

6 thoughts on “Bad news and our growing apathy

  1. It feels ironic when people make a note of themselves “caring” about an issue on social media but do they truly care?
    Anyway, I would like your short review on the book you mentioned there xD it sounds interesting!

      1. Well then, I think this would suffice. I copy this from my short review on Goodreads.

        “It could have been much shorter. The early part of the book is interesting (world news and politics), but the later parts (starting from economy) are boring, stretching for pages, and feel forced. I only finish the book because it short and for the sake of finishing it. If it were a web page it would have been abandoned in the middle.

        I hate how the author keeps telling me about myself based on what I read on the news. This is completely unnecessary and generalizing.

        There’s one sentence that is very infuriating, when speaking on celebrity and fame.
        “The exaggerated need for approval that drove them to be famous in the first place………”
        This phrase implies that one becomes a performer or celebrity due to a need for approval, which I think is demeaning and judgemental, and affected how I read the rest of the book.”

  2. Ada 2 tipe manusia, mbak. Yang pertama adalah mereka yang (benar) peduli dan yang peduli karena sedang tren. Indikator manusia yang pertama tentulah mereka yang ingin tahu lebih banyak. Biasanya mereka gak mudah terjebak dalam pemberitaan media. Mereka akan meriset sendiri benar atau gak isu tersebut kemudian dilanjutkan dengan mencari tahu apa latar belakangnya, sejarahnya, dll. Sementara indikator manusia kedua tentulah mereka yang sekedar membaca hasil share-an temannya, iba dan lalu mulai menjudge ini itu. Seringkali mengusung rasa iba, kasihan dan mengutuk ini itu tanpa tahu apa sebenarnya root of evil dari fenomena tersebut.

    Hey, cara berpikir di tulisan-tulisanmu cukup bagus. Keep it up!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s