Saya baru mulai kerja akhir Maret tahun ini, dengan status sebagai fresh-graduate. Teman-teman saya pun begitu. Tidak heran ketika kami berkumpul, yang sering dibicarakan adalah pekerjaan dan gaji.

Gaji ini sensitif, karena kadang berhubungan dengan prestis. Rasanya keren saja kalau gaji pertama sudah di atas rata-rata teman-teman.

Tenang, ini bukan mau menyombong. Gaji saya malah yang terendah dibandingkan dengan teman-teman saya. Padahal di satu jurusan kami, saya pemegang IPK tertinggi.

Soal gaji ini terungkap ketika salah seorang teman saya bercerita soal pekerjaannya yang memang lumayan berat. Yang pertama kami tanya tentu saja gajinya, apakah setimpal atau tidak. Setelah dia menyebut angka, respon saya adalah, “Ah itu masih lebih tinggi dari gue.”

Jelas saja teman-teman yang lain bertanya gaji saya berapa. Jawaban saya kemudian ditanggapi dengan, “Memangnya cukup, Dep?”

Surprisingly, yes.

Mari kita berhitung. Gaji saya ada di angka empat koma, tapi jelas masih di bawah lima juta per bulan. Pengeluaran saya yang tetap adalah kosan (750 rb per bulan), listrik dan air (paling besar 50 rb per bulan), pulsa untuk paket internet (120 rb per bulan) dan makan (anggap saja 600 rb per bulan). Setelah dipotong semua itu, saya masih punya kira-kira tiga juta. Kadang saya pakai untuk main dengan teman atau belanja, entah buku atau baju atau kebutuhan entertainment.

Sangat cukup.

Tapi ada hal-hal yang perlu jadi pertimbangan. Empat juta belum tentu cukup untuk semua orang. Untuk fresh graduate, ada beberapa hal yang sebaiknya dipikirkan dalam menimbang gaji pertama:

Pertama, budaya di kantor. Nilai apakah tempat kerja kita termasuk yang santai atau yang formal, karena itu akan sangat berpengaruh. Apalagi untuk wanita. Berpengaruh ke mana? Budget untuk membeli pakaian dan make up.

Kantor saya sangat santai, saya mengetik ini di kantor sambil mengenakan sweater dan jeans. Alhasil, tidak usah beli baju macam-macam untuk kerja. Pakai baju yang sudah ada pun cukup. Di kantor saya tidak usah pakai make up, seadanya saja. Meskipun tetap ada uang yang dikeluarkan, jelas nilainya akan beda dengan yang dituntut tampil cantik dan polished setiap harinya.

Kedua, lokasi pekerjaan. Survey berapa harga rata-rata kosan di daerah kantor, karena jelas kita ingin tempat tinggal yang dekat kantor supaya nanti tidak capek di jalan dan harus keluar uang lagi untuk transportasi. Kosan saya yang seharga 750 rb ada di Palmerah, jangan disamakan dengan yang kerja di Sudirman atau Kuningan.

Lokasi juga menentukan harga makanan. Kantor saya ada di dekat pasar tradisional, bukan di pusat bisnis. Sepuluh ribu untuk makan siang pun cukup. Ketika saya magang di Sudirman, paling sedikit mengeluarkan 15 rb untuk makan siang. Seringnya sih 20 rb ke atas.

Ketiga, gaya hidup. Ini bisa juga dipengaruhi oleh budaya kantor. Kalau orang kantor setiap makan siang mampir ke Starbucks, jelas berbeda dengan yang kantornya cuma sebulan sekali beli Chatime. Pun dengan kosan. Saya bisa survive di kosan sempit tanpa AC dengan kamar mandi di luar, tapi kan ada yang memang terbiasa dengan AC. Harganya jelas beda.

Entertainment juga termasuk gaya hidup. Saya cukup nonton TV series setiap pulang kantor, lalu baca buku di kindle setelahnya. Kalau kamu sering nonton di bioskop bersama teman, masukkan juga dalam budget bulanan karena pengeluaran nonton adalah bukan cuma untuk tiket tapi juga transportasi, cemilan, makan, dan kalap-kalap lainnya. Kalau suka nonton konser, jadikan pertimbangan juga karena jelas beda dengan saya yang pakai Spotify saja sudah bahagia.

Keempat, hedonic treadmill. Ini penting banget. Intinya sih, semakin banyak uang yang kita dapat, semakin kita level up dalam hidup, pengeluaran juga akan bertambah banyak demi ‘kebahagiaan’. Sebanyak apapun gaji, tidak akan cukup kalau masih ada yang terus kita kejar. Ini balik lagi ke diri masing-masing, dan patut jadi pertimbangan. Perubahan level hidup dari mahasiswa kere ke pekerja yang berpenghasilan itu lumayan signifikan. Kira-kira bagaimana kita menghadapinya? Apa yang akan berubah dari gaya hidup kita?

Are you in?

Intinya sih, kalau kamu fresh-graduate dan sedang mencari kerja, jangan lupa pertimbangan-pertimbangan di atas. Jangan berkecil hati kalau gaji yang ditawarkan terbilang kecil, karena mungkin saja di balik gaji besar ada kebutuhan yang besar juga.

Lagipula, kalau memang pekerjaan sesuai dengan passion, gaji tidak akan menjadi masalah kok. (Ini justifikasi dari orang yang gajinya “kecil”, tapi bahagia dengan pekerjaannya.)

10 thoughts on ““Emang cukup segitu?” Tentang gaji dan gaya hidup

  1. Sama mbak, saya juga waktu dulu pertama kali kerja, gaji saya masih terbilang kecil, tapi anehnya saya masih bisa nyisihin uang gaji sampai setengahnya. Sekarang udah gaji naik, koq susah banget buat nyisihin / nabung ya? hehehe thanks for good article😀

    1. Ya mungkin kena hedonic treadmill Mas hehe. Review lagi aja pengeluarannya, saya biasanya pakai apps Money Lover ada kok gratis di playstore. Thanks for reading!🙂

  2. Kak Dev! Secretly being a fan but now I revealed myself hahaha! Suka banget sama article ini :”) Aku juga baca tulisan kakak yang lain di blog ini, lumayan hiburan di kala balada thesis🙂
    Keep it up kak Dev!♡

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s