Sebuah pembelaan terhadap orang-orang yang tidak mau berkembang

Salah satu konten yang laku di media sosial saat ini adalah yang memotivasi perkembangan diri. Istilah singkatnya: inspiring (boleh pakai tagar maupun tidak).

Konten-konten motivational ini banyak memuat pesan-pesan positif seperti: cintai diri sendiri, terus berkembang sebagai manusia, dan pada akhirnya, kamu bisa meraih mimpi. Banyak variasinya, tapi intinya satu: hidup kamu sekarang tidak sempurna, banyak kesusahan yang mesti kamu lalui, tapi teruslah bertahan dan berusaha, maka kamu akan bisa hidup bahagia, lalu menengok ke belakang dan berpikir bahwa semua penderitaanmu akhirnya terbayar, tidak lupa dengan senyum tiga jari seperti para influencer di Instagram.

Masalah saya dengan pesan-pesan seperti itu adalah premis bahwa kalau kamu tidak bahagia dengan hidupmu sekarang, ada yang salah dengan dirimu dan hidupmu. Bahwa kamu harus berubah, harus bekerja lebih keras dan meraih mimpi. Bahwa sebagai manusia, kamu harus berkembang.

Sejak membaca The Growth Delusion karya David Pilling, saya jadi terus memikirkan tentang obsesi kita dengan perkembangan atau pertumbuhan, baik dalam konteks makroekonomi maupun personal. Buku ini banyak dikutip dalam tulisan soal degrowth, yang bilang bahwa perkembangan itu tidak selalu berarti kemajuan, karena pada kenyataannya banyak hal yang kita korbankan untuk mencapainya — hal-hal yang mungkin tidak bisa tergantikan nantinya. Dua contoh yang paling menonjol dalam buku ini buat saya adalah soal lingkungan dan kesejahteraan personal.

Soal perkembangan ekonomi dan lingkungan, saya rasa semua orang sudah tahu bagaimana ceritanya. Perkembangan ekonomi sering didasari oleh kegiatan ekstraktif yang terlalu banyak mengambil dari alam lebih dari kemampuan alam untuk memperbaikinya, sehingga jadi tidak berkesinambungan. Ditambah dengan polusi sebagai dampak aktivitas industri dan manusia, jadilah situasi saat ini di mana kita meminjam terlalu banyak dari lingkungan demi pertumbuhan ekonomi. Semua pertumbuhan ini akan sia-sia kalau tidak ada bumi yang bisa ditinggali berpuluh-puluh tahun kelak.

Perkembangan ekonomi juga tidak selalu berarti peningkatan kesejahteraan sosial dan personal. Kadang, perkembangan ekonomi yang didasarkan pada angka menghitung semua hal, baik yang berdampak bagus atau tidak bagi masyarakat. Di Indonesia, tembakau dianggap sebagai sektor industri yang berkontribusi pada ekonomi, terlepas dari dampak kesehatannya yang juga bisa menggerogoti ekonomi. Di Amerika Serikat, industri persenjataan juga dianggap menyumbang perkembangan ekonomi, tapi siapa yang mengaku masih punya hati dan bisa bilang bahwa pundi-pundi uang yang dihasilkan oleh pistol dan amunisi itu berdampak positif bagi kesejahteraan rakyat Amerika?

Belum lagi secara personal. Obsesi mengejar pertumbuhan menjadikan pekerjaan sebagai prioritas, sehingga mengurangi waktu luang untuk rekreasi dan kegiatan sosial (ngomong-ngomong, seberapapun banyak orang yang kamu tolong atau persahabatan yang kamu jalin, tetap tidak berkontribusi dalam ekonomi nasional). Kita semua pernah merasakan, sedang asik-asik bersantai lalu diinterupsi atau bahkan bubar sama sekali karena ada satu notifikasi email atau chat dari atasan. Akhirnya: stress meningkat, belum lagi harga nyawa yang benar-benar harus dibayar pekerja seperti di Jepang.

Apakah kita rela terus berkorban sebegitunya demi ekonomi nasional? Demi angka-angka yang cuma terlihat di laporan ekonomi, padahal gaji kita tetap segitu-gitu saja?

Beberapa ahli ekonomi mulai menyuarakan soal degrowth. Bahwa sudah cukuplah kita mengejar pertumbuhan dengan membabi buta, dan mulai fokus pada hal-hal yang selama ini kita korbankan. Bahwa pertumbuhan ekonomi yang kecil atau negatif itu tidak selalu buruk. Bahwa kita tidak harus terus memproduksi lebih, mendistribusikan lebih, dan mengkonsumsi lebih hanya untuk perkembangan ekonomi.

Bagaimana kalau selama ini, bukan cuma negara saja yang terus terobsesi mengejar pertumbuhan, tapi juga kita secara pribadi? Dan sama halnya dengan negara dan pertumbuhan ekonomi, kita pun telah abai terhadap hal-hal lain yang kita korbankan demi pengembangan diri dan mengejar mimpi?

Seberapa sering kamu memilih tidak melakukan sesuatu yang kamu suka atau malah memaksa diri untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya kamu tidak sedang ingin-ingin amat, cuma demi masa depan yang ada di pikiranmu sendiri? Dengan alasan bahwa kamu harus, kalau kamu ingin lebih baik?

Saya pernah terjebak dalam hubungan yang tidak enak dengan menulis. Saya suka menulis, itu jelas. Tapi kadang saya tidak ingin menulis. Saya pun menulis hanya karena ada sesuatu yang ingin saya tulis, bukan untuk mengejar ambisi besar seperti ingin menjadi seperti Toni Morrison atau Alice Munro, contohnya.

Tapi lama-lama orang-orang di sekitar saya yang punya ide soal bagaimana saya seharusnya menulis. Kalau saya mau jadi penulis hebat, kata mereka, saya harus lebih sering menulis. Saya harus disiplin. Saya harus bereksperimen dan keluar dari zona nyaman. Saya harus bikin buku, baru saya jadi penulis betulan.

Akhirnya saya malah tidak jadi menulis sama sekali. Karena dengan tekanan-tekanan seperti ini, menulis menjadi sesuatu yang harus saya lakukan dan bukannya sesuatu yang saya ingin dan senang lakukan. Saya sempat tertekan untuk menulis cerita yang lebih baik dan berbeda dari yang sebelum-sebelumnya, dan stress ketika tidak ada ide yang keluar.

Mungkin saya bukan penulis hebat, makanya saya bisa stress sebegitunya. Tapi siapa bilang saya harus jadi penulis yang hebat? Siapa yang mengharuskan saya untuk menulis lebih baik dari sebelum-sebelumnya? Memangnya tidak bisa, kalau saya hanya menulis untuk menulis saja, tanpa ada ekspektasi bahwa saya akan lebih baik dari sekarang, atau harus menjadi hebat dan sukses? Bukankah yang penting saya senang melakukannya, bahwa menulis dengan bebas membuat saya bahagia, meskipun tidak menjadikan saya hebat dan dikagumi banyak orang? Hanya karena saya bisa berkembang, bukan berarti saya harus kan?

Pertanyaan-pertanyaan di atas sekilas akan terlihat seperti sebuah pembelaan dari dari seorang yang malas dan tidak ingin berkembang. Tapi saya yakin bukan cuma saya yang merasakannya. Kalau Bank Dunia punya konsep bernama “jebakan pendapatan menengah” yang memacu negara untuk terus berkembang jadi maju, secara personal kita punya jebakan yang bernama mediocrity: medioker, kurang oke, sedang-sedang saja.

Kita berkembang karena kita ingin menjadi lebih baik. Lebih tepatnya: lebih baik daripada setidaknya separuh populasi manusia yang lain. Padahal secara statistik sederhana, tidak mungkin jika semua orang lebih baik dari semua orang lainnya.

Lalu orang-orang akan berteriak: Ya makanya kerja keras, berkembang, supaya tidak jadi setengah yang tertinggal.

Padahal, yang tidak lebih baik menurut anggapan kita belum tentu tidak sejahtera, belum tentu tidak bahagia. Mungkin saja ada hal-hal lain yang mereka punya yang tidak bisa kita mengerti hanya dengan standard yang selama ini kita pakai di otak, tidak bisa diukur dengan sukses ataupun angka di buku tabungan.

Orang yang menolak pekerjaan bergaji tujuh digit di luar negeri hanya karena mau tinggal di kota asalnya mungkin akan dicap bodoh dan terjebak zona aman, padahal mungkin saja karena dia memprioritaskan hubungan sosial dan kehidupan yang lebih nyaman. (Sebuah pertanyaan lain yang tidak bisa dijawab sekarang karena nanti jadi terlalu panjang: Kenapa sih zona aman menjadi hal yang dicemooh?) Sama halnya seperti anggapan orang kota terhadap mereka yang tinggal di desa, dengan perspektif urban memandang anak-anak kampung yang dari kecil sudah membantu ngangon kambing dengan kasihan. Padahal kita sendiri dari kecil sudah dikondisikan jadi budak kapitalis. Mungkin buat mereka: kasihan orang-orang kota, kerjanya cuma duduk kerja dari pagi sampai malam, menghirup udara penuh polusi, tinggal di kosan mahal yang besarnya cuma sepetak, mati tua di jalanan yang padat tidak bergerak demi mengejar mimpi.

Hari Senin nanti banyak yang akan kembali bekerja setelah rehat sejenak. Libur seminggu berarti banyak pekerjaan yang belum selesai dan hal-hal lain yang harus dilakukan. Sebelum memutuskan untuk lembur atau memaksa diri untuk melakukan sesuatu atas nama perkembangan pribadi: tanyalah diri sendiri apakah semua pengorbanan yang kamu lakukan akan tergantikan nanti ketika kamu sudah lebih sukses, lebih maju, lebih baik? Atau, apakah sekarang kamu mau mengorbankan sedikit dari masa depan yang belum pasti juga itu, supaya bisa menikmati hidup yang kamu punya sekarang dengan lebih rileks dan tidak tergesa-gesa?

Karena pada akhirnya tidak ada jaminan bahwa kerja kerasmu akan berbuah manis. Hidup sebegitu tidak tertebaknya, sehingga bisa saja besok kamu mati tertabrak kopaja, atau Jakarta hancur tenggelam ke dasar laut. Yang kita punya cuma saat ini, dan mimpi-mimpi serta motivasi pengembangan diri, seberapapun bergeloranya, adalah sebuah abstrak, sebuah obsesi yang terus kita kejar demi masa depan yang lebih baik.

Padahal mungkin, nanti akan selalu ada yang lebih baik yang akan kita kejar lagi. Padahal mungkin, nanti pun kita tetap merasa ada kekurangan dan kesulitan, karena hidup memang tidak pernah menjanjikan apa-apa. Padahal mungkin, sekarang pun hidup sudah baik. Tinggal soal apakah kita merasa cukup.


Photo by Thiago Matos from Pexels

Advertisements

4 thoughts on “Sebuah pembelaan terhadap orang-orang yang tidak mau berkembang

  1. Manusia berubah dan berkembang tentunya hrs mnjd lbh baik bkn lbh buruk. Kl lebih buruk berarti manusia itu merugi. Perubahan dan perkembangan yg justru mengabaikan hak-hak diri sndr, orang lain atau lingkungan bkn perubahan dan perkembangan yg baik. Perubahan dan perkembangan tdk hrs pd hal-hal yg bersifat material, seperti pekerjaan dan penghasilan yg lebih tinggi dll. Hal-hal non-material juga bs, seperti lbh rajin beribadah, lbh bnyk bersyukur dll. Hidup butuh keseimbangan. Blh mengejar sesuatu utk diri sendiri tp jgn sampai merugikan orang lain atau berbuat kerusakan pd lingkungan. Kira2 begitu pendapat saya atas tulisan ini. Trmksh atas ulasannya mengenai hal ini. Perspektif yg menarik 👍

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.