Run Forrest Run!

Pukul enam pagi, dan saya sudah terbangun setelah tidur lumayan panjang disertai mimpi buruk. Rencana di Hari Minggu ini adalah santai-santai, dan santai belum lengkap tanpa silver queen kopi, internetan tanpa arah, dan dilanjutkan dengan menonton ulang film atau video apapun yang sebenarnya sudah saya tonton sebelumnya.

Pagi ini, saya melihat satu thread di /r/askreddit yang menanyakan soal film yang selalu kita nikmati setelah entah berapa kali kita tonton. Kita semua punya film yang kita suka, film favorit, film-film yang kita anggap keren dan luar biasa karena mind-blowing, dan ada juga film-film yang kita suka simply because of its beauty, film-film yang kita tonton berulang-ulang tanpa bosan.

Buat saya film itu adalah Forrest Gump.

Mungkin, karena penampilan Tom Hanks yang luar biasa sebagai Forrest Gump.

Mungkin, karena kita semua diam-diam berharap akan menjadi pasangan epic seperti Forrest dan Jenny.

Mungkin, karena kita semua, di masa-masa terpuruk kita, bermimpi menjadi seorang Lieutenant Dan, yang akhirnya bisa berdiri kembali setelah kehilangan sepasang kaki.

Mungkin, karena cerita yang lucu dan sekaligus menyentuh. Forrest Gump membuat saya tertawa, dan berakhir dengan tumpukan tissue penuh ingus dan air mata.

Atau mungkin, karena pernah terbesit di otak kita semua pada suatu sore, ketika hidup sedang pikasebeleun-nya, untuk lari, lari, dan terus berlari. Cuma Forrest yang benar-benar berani untuk lari dari kenyataan dengan berlari keliling Amerika.

Saya selalu iri dengan yang terakhir. Fakta bahwa ketika Forrest ingin melakukan sesuatu, dia bisa langsung melakukannya. Tanpa pikir panjang, yang untuk sebagian dari kita selalu berujung pada over-thinking.

Forrest tidak seperti kita, yang mungkin langsung merasa menjadi idiot dan membatalkan semua rencana hanya karena ditanya, “Are you stupid or something?”

Saya tahu ini cuma film, fiksi, dan hidup kita mungkin tidak berjalan seperti Forrest Gump. Tapi film ini menawarkan sesuatu yang membuat kita memikirkan ulang jalannya hidup, tentang pilihan dan nasib.

Tagline film ini adalah ‘The world will never be the same once you’ve seen it through the eyes of Forrest Gump,‘ dan beginilah hidup menurut Forrest:

Jenny, I don’t know if Momma was right or if, if it’s Lieutenant Dan. I don’t know if we each have a destiny, or if we’re all just floating around accidental-like on a breeze, but I, I think maybe it’s both. Maybe both is happening at the same time.

Kadang kita terlalu sibuk memikirkan masa depan dan pilihan-pilihan mana yang seharusnya kita ambil supaya bisa mengantarkan kita ke sana. Tapi seperti kata Forrest, “Shit happens,” menghalangi jalan yang sudah kita pilih, membuat kita harus memikirkan pilihan yang lain, lagi. Ada pula kebetulan-kebetulan, little miracles, di luar mimpi atau harapan kita, yang pada akhirnya malah membawa kita ke tempat yang kita harapkan. Hidup berjalan tanpa bisa kita duga, melawan semua perkiraan, dan kadang membuat semua prediksi dan pilihan kita menjadi percuma. Kadang saya merasa bahwa hidup suka bercanda, dan ketika kita berusaha merasionalisasi semuanya dengan meyakinkan diri bahwa ada alasan di balik semua peristiwa, hidup cuma tertawa sambil berkata, ‘We’ll see.’

Seperti Forrest, saya masih tidak tahu apakah kita semua punya nasib masing-masing atau hanya jiwa-jiwa yang melayang tanpa arah. Yang manapun, intinya sama, pilihan-pilihan yang kita buat, alasan-alasan di baliknya, kadang tidak bisa berbuat banyak ketika hidup berjalan. What could go wrong, will. Apapun pilihan yang kita ambil, tidak ada jaminan bahwa itu akan sukses dalam jangka panjangnya. Orang sejak dulu sudah berambisi besar untuk mati sebagai pahlawan seperti Lt. Dan, malah berakhir sebagai veteran cacat dan harus gigit jari karena malah Forrest yang agak sintinglah yang menjadi pahlawan. Kita bisa menentukan mimpi dan pilihan, tapi kita tidak punya kuasa atas apa yang terjadi pada kita nanti. Alasan-alasan di balik semua pilihan yang kita pikirkan matang-matang pada akhirnya hanya berakhir sia-sia. Hidup itu rumit dan tidak terduga, tidak usah dipersulit lagi dengan terlalu memikirkan segala sesuatu, menimbang semua alasan dengan rasionalitas dan logika yang dengan mudahnya bisa diputarbalikkan kenyataan.

Kalau ada satu hal yang saya pelajari dari Forrest Gump, adalah kenyataan bahwa hidup itu tidak bisa ditebak, dan karenanya, lakukanlah apa yang ingin kita lakukan. Karena hidup, tidak seperti kita, tidak butuh alasan.

Ketika Anda, suatu sore nanti, duduk dan terbesit pikiran untuk berlari, berlarilah.

Run Forrest Run!

STMJ

Hampir semua anak jurusan saya kenal istilah STMJ. Untuk angkatan saya, STMJ berarti Semester Tujuh Masih Jomblo, karena kami sedang berada di semester tujuh, dan sebagian besar masih jomblo.

Lalu ada beberapa yang terkenal atas kejombloannya, salah satunya adalah saya sendiri.

Entah kenapa, kejombloan seseorang selalu jadi topik yang asik diperbincangkan. Dua jomblo paling terkenal seangkatan, Chenny dan Dora, sering sekali menjadi bahan ejekan teman-teman. Tapi ini bukan termasuk pem-bully-an, semua jomblo tahu bahwa ini hanya bercanda. Bahkan kadang, para jomblolah yang mulai menertawakan diri mereka sendiri.

Saya dan Chenny punya bercandaan sendiri, yang lama-lama menjadi trending di jurusan saya. Kami sering sekali bercanda dengan menghubungkan hampir segala sesuatu dengan status jomblo, cinta, pacar, hati, dan urusan-urusan semacamnya. Istilahnya, baper (bawa perasaan).

Entah kenapa, yang saya dan Chenny anggap hanya sebagai bercandaan, ternyata mulai mengkhawatirkan bagi banyak orang. Teman-teman, bahkan dosen sayapun, mulai menanyakan apakah kami sebegitu depresinya kepingin punya pacar.

Jawabannya? Tidak. (Saya sih tidak, entah kalau Chenny.)

Setelah tujuh semester menjomblo, saya menikmati status quo.

Alasan klasiknya, karena saya menikmati kejombloan saya. Jomblo bukan berarti sendiri, karena toh saya selalu punya teman-teman untuk makan bareng maupun teman yang mau menyediakan kamar atau kosannya sebagai suaka tempat menunggu rapat. Mau nonton film terbaru pun, selalu ada teman yang siap menemani. Pulang malam? Ada yang rela mengantarkan supaya selamat sampai di rumah. Ngepaper? Jangan tanya, jomblo-jomblo malah sangat kompak menyemangati satu sama lain kala deadline melanda.

Intinya, saya tidak kesepian meskipun secara status sendiri.

Alasan kedua, adalah karena saya bangga dengan siapa saya ketika saya menjomblo.

Ketika saya menjomblo, saya tidak punya pacar. Tidak punya tempat bersandar, atau lebih tepatnya, tempat bermanja. Saya menjadi mandiri, saya terbiasa untuk tidak mengeluh. Saya menjadi pribadi yang lebih dewasa dan kuat.

Saya belajar mengatasi masalah tanpa masalah, saya belajar memilih yang mana yang harus dianggap masalah, dan yang mana yang sebenarnya tidak usah dipermasalahkan.

Saya belajar mengenal diri sendiri dengan lebih baik. Saya tahu batas kemampuan saya. Saya tahu bagaimana mengatur perasaan dan emosi. Saya belajar menahan diri, karena toh saya tidak punya orang yang bisa dijadikan pelampiasan (dan tidak, saya tidak mau sembarangan melampiaskan emosi ke teman-teman saya).

Intinya, saya belajar jadi wanita yang lebih kuat. Yang tidak butuh seorang pacar supaya bisa berdiri tegak.

Dan saya bangga.

Karena dengan bisa berdiri sendiri, nantinya saya tidak akan menjadi beban untuk pasangan saya kelak. Malah, saya ingin bisa jadi pasangan yang menyediakan support.

Behind a great man, there’s always a great woman. Tapi wanita-wanita hebat inilah yang berjuang sendirian. Dan perjuangan saya untuk menjadi a great woman di balik a great man, dimulai dari sekarang.

STMJ

Mencari Kunci

“Kamu sedang apa?” tanya suara itu pada suatu ketika. Sebuah pertanyaan sederhana, yang ternyata tidak bisa dijawab dengan sederhana pula.

Manusia hidup untuk mencari kebahagiaan, begitu kata mereka. Oleh karena itulah aku sebagai salah seorang manusia yang hidup di muka bumi berada di sini. Di titik yang kucapai setelah sekian waktu mengejar kunci kebahagiaan. Dan dia, salah seorang manusia juga, dengan seenaknya melemparkan pertanyaan itu padaku.

“Aku mencari kunci kebahagiaan,” aku merasa bangga dengan jawaban tersebut. Singkat, padat, dan mengandung makna yang menurutku mendalam.

“Untuk apa?” tanyanya lagi. Masih dengan nada penuh ingin tahu, ekspresinya masih polos dan lugu, bukan mengejek. Tapi entah kenapa kepolosannya itu membuatku kesal.

“Untuk apa, katamu? Ya untuk berbahagia!”

Lalu dia menempatkan dirinya di sampingku. Di atas sebuah bangku kayu tua yang kusinggahi di tengah perjalanan mencari kunci kebahagiaan. Bangku tua yang kududuki sebentar, untuk melepas lelah, sebelum aku berjalan lagi menyusuri kehidupan yang antah berantah.

“Sudah berapa lama kamu mencari kunci kebahagiaan itu?”

“Seumur hidupku, mungkin.”

“Oooh.”

Lalu kesunyian canggung meliputi kami. Mau tidak mau, aku mengajukan sebuah pertanyaan kepadanya demi memecahkan kesunyian.

“Memangnya, kamu tidak pernah berusaha mencari kunci kebahagiaan?”

“Tidak.”

“Kamu tidak mau bahagia?”

Dia terkekeh, “Mau. Tentu saja mau. Tidak ada manusia yang tidak mau bahagia. Kecuali masokis yang memang harus diperiksa kesehatan mentalnya.”

Aku tersenyum. Ternyata selain bertanya, dia juga bisa melucu.

“Lalu kenapa kamu tidak mencari kunci kebahagiaan juga?”

Sekarang gilirannya tersenyum, menimbulkan kesan misterius, tapi juga bijaksana. Entah mengapa.

“Logikanya, ketika seseorang mencari sesuatu, berarti dia belum menemukan sesuatu itu kan?”

Aku membenarkan logikanya. Tapi masih belum mengerti ke arah mana kata-katanya akan membawaku.

“Kamu ingin bahagia… makanya kamu mencari kunci kebahagiaan, benar kan?”

Sekali lagi aku mengangguk.

“Sudah berapa lama kamu mencari?”

“Seumur hidupku, tadi kan sudah kujawab.”

Aku mulai tidak sabar. Aku tidak suka pertanyaannya yang bertele-tele. Aku tidak suka dia yang datang begitu saja, mengangguku yang sedang mengumpulkan energi untuk pencarianku selanjutnya. Tapi yang paling aku tidak suka adalah, firasatku sendiri bahwa entah bagaimana, dia punya petunjuk tentang kunci kebahagiaan yang selama ini aku cari.

“Dalam pencarian itu, apa kamu pernah, bahkan sekali saja, merasa sudah menemukan kunci tersebut? Apa dalam perjalananmu, kamu merasa bahagia?”

Aku mengingat ulang perjalananku. Saat sekolah, guruku mengiming-imingi bahwa aku akan memegang kunci kebahagiaan bila belajar dengan keras dan masuk jurusan yang tepat di universitas favorit. Saat kuliah, orang-orang menjanjikan bahwa kunci kebahagiaan sudah kuamankan bila aku belajar dengan keras, lulus dengan IP di atas tiga, dan mendapat pekerjaan yang terpandang. Aku mengikuti kata orang-orang, menuruti syarat yang mereka ajukan demi mendapatkan kunci kebahagiaan.

Tapi toh nyatanya aku masih di sini. Duduk di kursi kayu tua, beristirahat sejenak dari perjalananku dalam mencari kunci kebahagiaan. Bersama seseorang yang nampaknya malah tidak peduli dengan segala pencarianku.

“Aku capek.”

“Aku tahu,” katanya, dengan penuh pengertian. Tangannya menggenggam tanganku. Hangat. Sudah lama sekali rasanya semenjak aku merasa seperti ini. Semenjak aku duduk diam, bersama seseorang ataupun sendiri. Hanya diam.

Tentram sekali.

“Lalu aku harus bagaimana?” tanyaku pada akhirnya.

Aku lelah. Jujur, kadang aku merasa putus asa dalam pencarian ini. Ada kalanya selama perjalananku di mana aku ingin berhenti. Tapi aku takut. Aku takut bahwa bila aku berhenti, maka aku tidak akan pernah bahagia.

“Berhentilah mencari.”

“Tapi…..”

“Kamu tahu kenapa aku tidak pernah sibuk mencari kunci kebahagiaan itu?”

Aku diam. Menanti jawaban yang dari pertanyaanku sebelumnya. Pertanyaan yang malah membawa jawaban pada masalah hidupku sendiri.

“Karena aku tidak butuh mencari kunci kebahagiaan. Aku sudah bahagia.”

Aku memandangnya heran. Dia berlawanan sekali dengan doktrin-doktrin yang ditanamkan orang pada diriku semenjak lahir. Tapi entah kenapa, dalam hati, aku tahu bahwa dia mungkin benar.

“Kamu terlalu sibuk mencari kunci kebahagiaan, tanpa kamu sadari bahwa pintunya tidak pernah terkunci. Pintu kebahagiaan itu selalu terbuka. Tinggalah kamu yang menentukan apakah kamu mau masuk ke sana.”

Dan di atas bangku kayu tua itulah, pencarianku benar-benar terhenti. Aku sudah menemukan kebahagiaan, tanpa harus repot-repot mencari kuncinya.

Mencari Kunci

Label

Agama dan kepercayaan entah kenapa menjadi sepasang sinonim. Dan entah kenapa saya agak kurang setuju dengannya.

Karena mungkin saja seseorang mempunyai agama, tapi dia tidak percaya. Saya katakan mungkin karena setidaknya ada satu orang di dunia ini yang begitu. Yang sedang mengetik entri blog ini.

Secara hukum yang berlaku di Indonesia, saya punya agama. Tercetak jelas di KTP Republik Indonesia bahwa saya menganut sebuah agama.

Tapi saya tidak percaya.

Saya memandang agama sebagai sebuah ajaran. Saya menjalani ajaran yang terkandung dalam agama saya. Saya berusaha menjalankan latihan-latihan kemoralan, berusaha mengembangkan sifat-sifat baik (cinta kasih, belas kasih, simpati, ketenangan batin), dan prinsip lainnya.

Dua dari prinsip-prinsip itu adalah ehipassiko (datang dan buktikan) serta ketidakmelekatan.

Ehipassiko adalah sebuah prinsip, atau lebih tepatnya anjuran, untuk tidak asal mempercayai segala sesuatu. Bahkan bila sesuatu itu tertulis dalam kitab suci sekalipun.

Seperti agama-agama lainnya, kitab suci agama Buddha juga memiliki kisah-kisah yang lebih mirip karangan fiksi. Kisah-kisah yang sedikit di luar logika manusia yang hidup pada abad dua puluh satu di mana yang bisa terbang hanyalah Harry Potter (itupun harus menaiki Nimbus 2100, dan kemudian Firebolt).

Mulailah saya mengabaikan kisah-kisah ajaib itu. Toh sejak dulu saya juga diajarkan bahwa Buddha (Siddharta Gautama) bukanlah sosok yang patut dituhankan, didewakan, dipercaya, apalagi sampai disembah. Buddha adalah seorang guru, dan yang terpenting dari seorang guru adalah ajarannya.

Yang kedua adalah soal ketidakmelekatan.

Dulu saya sering merasa miris sekali bila agama saya dikategorikan sebagai ‘yang lainnya’ dalam sebuah formulir. Dulu saya menganggap bahwa adalah penting untuk melabeli diri saya ‘Buddhis’. Penting bagi orang untuk tahu soal itu.

Lalu saya melihat orang-orang fanatik dari berbagai agama yang mereka anut. Yang memamerkan status mereka sebagai penganut ajaran tertentu, mengumbarnya di hadapan umum, menganggap rendah ajaran lain, hingga yang menjurus ke multilevel marketing: selalu mencari member baru.

Saya tidak mau menjadi orang seperti itu. Melekat pada label yang pada akhirnya mencolok mata orang banyak.

Lagipula, pengalaman saya sebagai minoritas di Indonesia mengajarkan satu hal: ini negara dengan pluralisme yang tinggi, yang sayangnya masih belum bisa menyatukan yang plural tadi menjadi singular.

Teman saya seringkali kaget begitu mengetahui saya bukan Muslim, apalagi ketika mengetahui bahwa saya masih keturunan Cina. Salah satu kekagetan itu berujung sebuah pengakuan, bahwa mereka mengetahui status dan keturunan saya sebelum kami benar-benar berteman, pasti mereka sudah menjauhi saya karena stereotipe yang beredar tentang label-label yang melekat pada saya tersebut.

Entah sejak kapan, ajaran yang saya jalani adalah sebuah prinsip hidup yang saya simpan bagi diri sendiri. Yang hanya saya buka bila ada yang menanyakan. Yang saya jalani karena saya rasa masuk akal.

Pada akhirnya, ajaran tersebut adalah universal dan bukannya eksklusif untuk orang-orang yang menganut agama tertentu. Dan yang terpenting dari sebuah ajaran adalah prakteknya, yang kemudian membuahkan hasil dan dilihat orang lain. Penglihatan yang akan lebih objektif bila tidak dihalangi label-label yang membutakan.

Label

Fantine dan mimpi

“I had a dream of my life would be, so different than this hell I’m living. This life has killed the dream I dream.”

Fantine, dengan rambut cepak asal dan gusi yang masih mengucurkan darah segar, menyanyikan lagu tersebut setelah hubungan seks yang dilakukannya demi uang.

Tokoh yang diperankan Anne Hattaway dalam film Les Miserables itu menjual segalanya. Rambut, gigi, dan bahkan tubuhnya. Semua demi menghidupi anaknya, setelah dia dipecat dari pekerjaan yang dia punya, sebagai buruh, karena ketahuan memiliki anak tersebut di luar nikah.

Seperti judul filmnya, dia sengsara.

Dia tentunya tidak pernah membayangkan betapa menyengsarakannya hidup. Tidak ada yang pernah memimpikan hidup yang sengsara. Kita semua, seperti Fantine, tentunya memiliki gambaran lain tentang hidup. Kita menginginkan masa depan yang indah, di mana kita bisa hidup enak dengan keluarga tanpa perlu menjual rambut, gigi, atau tubuh.

Tapi mimpi memang tidak selalu terwujud.

Dan ketika yang terburuk telah terjadi, hidup telah menghancurkan mimpi yang kita mimpikan. Menyisakan sisa-sisa gambaran tentang hidup yang lain, yang tidak akan pernah kita miliki.

Fantine dan mimpi

Tanpa Gesekan

Di pelajaran fisika SMA, saya paling menyukai soal tentang gaya yang bekerja di dalam sistem yang licin, alias sistem yang tidak punya gesekan. Alasannya sederhana saja: lebih mudah dihitung.

Tapi guru saya bilang bahwa nyatanya dalam semua sistem pasti terjadi gesekan. Dua benda yang berdempetan akan menghasilkan gesekan. Tidak ada yang benar-benar licin.

Kemudian saya bertemu seseorang dan mengalami gesekan-gesekan tersebut. Bertemu dengan yang lain dan mengalami gesekan-gesekan yang berbeda. Gesekan selalu ada di antara dua orang yang berhubungan. Entah dalam hubungan apapun. Gesekan itu muncul sebagai konflik, yang besarnya berpengaruh dalam kelancaran hubungan orang-orang yang terlibat.

Sama seperti tidak ada sistem yang benar-benar licin, tidak ada hubungan yang berjalan mulus tanpa gesekan.

Dua orang yang tidak memiliki konflik hanyalah mereka tidak pernah berinteraksi. Hubungan tanpa konflik hanyalah milik orang-orang yang tidak pernah saling mengenal.

Tanpa Gesekan

“Oh, the Places You’ll Go!”

Ke manakah tujuan Anda dalam menjalani hidup?

Banyak orang memasang target dalam hidup, lalu berusaha keras untuk mencapainya. Seperti pelari yang berusaha hingga sampai garis finish.

Ibarat pelari, saya bisa disamakan dengan Forrest Gump. Ia adalah tokoh dalam film yang dibintangi oleh Tom Hanks. Gump melakukan banyak hal hanya karena dia ingin. Bukan karena mengejar sukses, bukan karena uang, bukan karena ambisi, bukan karena target apapun.

Suatu hari dia mulai berlari. Dia berlari tanpa henti. Dia berlari melintasi banyak negara bagian. Dia berlari dan menjadi terkenal. Orang mengikutinya. Mereka ikut berlari bersamanya. Perbedaannya adalah, orang-orang itu berlari karena suatu alasan.

Gump berlari hanya karena dia ingin. Dan ketika dia sudah tidak ingin, dia berhenti. Sesederhana itu.

Saya seperti Gump yang berlari hanya karena ingin. Saya berlari, tapi saya tidak tahu untuk apa saya berlari dan ke mana saya berlari.

Saya hidup tanpa memiliki target. Mungkin saya punya, tapi target bagi saya hanyalah target. Bunga tidur, pikiran iseng, ide yang hinggap di kepala lalu hilang begitu saja. Target saya adalah mobil di tempat parkir. Dia ada sebentar, pergi entah ke mana, lalu digantikan dengan yang lain. Tidak pernah ada satu yang selamanya di sana.

Banyak orang yang bekerja keras mencapai targetnya. Lalu mereka kecewa karena tidak berhasil. Atau mereka berhasil, tapi tetap kecewa karena apa yang mereka capai tidak semanis dengan yang dibayangkan.

Mungkin saya belum memiliki target yang dipunyai banyak orang itu. Tapi tidak berarti saya tidak melakukan apa-apa. Saya berusaha dalam apapun yang saya lakukan, lalu saya menikmati apapun yang saya dapatkan. Tidak ada kekecewaan, karena apa yang saya dapat pastinya setimbang dengan apa yang saya telah kerjakan.

Mengejar target adalah perjalanan yang mulia, tapi sering berujung pada kekecewaan. Mengejar target bukan  pula kewajiban. Semua orang bisa berhenti dalam perjalanan itu dan menikmati apapun yang mereka punya sekarang.

Mengejar target atau tidak, semua adalah pilihan. Dan seperti Gump, pilihan tidak harus mempunyai alasan.

Berlari saja, entah ke tempat yang sudah ditargetkan atau nikmati sajalah ke mana pun langkah membawa kita pergi. Di mana pun itu, selalu ingat bahwa tempat yang telah kita capai adalah hasil langkah-langkah yang kita tempuh dalam hidup. Mungkin saja, kita akan berakhir di tempat yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

“Oh, the Places You’ll Go!”