Bicara Buku: Islamic State dan para pendukung Rizieq

“You have moved yourself down the menu. But eventually they’re going to come after you.”

King Abdullah II of Jordan, from Black Flags: The Rise of ISIS by Joby Warrick

Banyak buku yang bicara soal Islamic State, terlalu banyak malah, sampai kita bingung sendiri soal cerita siapa yang benar. Black Flags karya Joby Warrick adalah satu dari sekian yang berusaha menelusuri jejak IS dari awal kemunculannya, sebuah karya jurnalistik yang memenangkan hadiah Pulitzer tahun lalu.

Continue reading

Jangan toleransi perbedaan

“Kapan terakhir kali kamu ditanya apa agamamu di dunia ini?”

Pertanyaan tersebut diajukan salah satu rekan saya di kantor dalam tulisannya. Membaca itu, saya tertegun dengan seberapa sering kita terobsesi dengan agama. Dalam hampir setiap formulir ada saja kolom mengenai agama.

Seringnya saya mencentang kolom “lain-lain”. Bukannya karena saya menganut kejawen atau kepercayaan lain (tanpa bermaksud menyinggung penganutnya), tapi karena agama yang saya jalani memang sering dikelompokkan sebagai lain-lain.

Saya minoritas. Dobel minoritas, malah. Saya Cina, meski kadang kelihatannya tidak begitu. Dan saya bukan Muslim, tidak pula pergi ke gereja, maupun ikut Nyepi. Saya beribadah di vihara, bukan kelenteng, dan merayakan Waisak, Asadha, Maga Puja, dan Kathina. I bet most of the people here have not even heard of the latter three – only Vesak is recognized in the country.

Agama seringkali menjadi masalah. Mau tidak mau, agama mempengaruhi siapa saya. Status saya sebagai minoritas mempengaruhi bagaimana saya di masyarakat, membuat saya memiliki realita yang berbeda dengan yang mayoritas. Silakan baca tulisan ‘Demo, panik, dan perbedaan realita‘ untuk mengerti lebih lanjut.

Seringkali, agama menjadi pembatas. Orangtua saya memang tidak pernah mempermasalahkan soal agama teman-teman saya. Saya bebas bergaul dengan siapa saja, mau berkerudung maupun yang namanya dari alkitab. Teman saya biasa menumpang shalat di rumah, dan kami dengan happy menerima kiriman kue Natal.

Tapi kadang hanya sebatas itu saja toleransi kita terhadap perbedaan.

“Kapan terakhir kali kamu ditanya apa agamamu di dunia ini?”

Saya akhir-akhir ini sering ditanya variasinya, yaitu apa agama pasangan. Ketika dijawab, kebanyakan berkomentar, “Lah kalau beda gitu terus gimana?”

Karena meskipun kita bisa hidup berdampingan dengan yang berbeda, sesungguhnya masih sulit di Indonesia untuk menerima perbedaan di bawah atap sendiri.

“Yang seagama saja bisa ribut, bagaimana yang berbeda?” begitu kata orang. Mereka lupa bahwa dari kalimat yang sama, kita bisa berargumen kalau toh ternyata agama memang bukan jaminan.

Barulah saya sadar arti dan batas toleransi perbedaan di Indonesia, dan betapa bahayanya jika kita terus-menerus menggunakan kata ‘toleransi’. Coba lihat arti kata toleransi di KBBI:

toleransi/to·le·ran·si/ n

1 sifat atau sikap toleran: dua kelompok yang berbeda kebudayaan itu saling berhubungan dengan penuh –; 2 batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan; 3 penyimpangan yang masih dapat diterima dalam pengukuran kerja;

Perhatikan poin nomor tiga: ‘penyimpangan yang masih dapat diterima’. Ketika kita menggunakan kata ‘toleransi perbedaan’, kita masih menganggap bahwa perbedaan adalah sesuatu yang menyimpang. Boleh saja ada, kadang masih bisa diterima, tapi tetap sebuah penyimpangan – sesuatu yang konotasinya negatif. Toleransi pun mengindikasikan adanya batas, karena jelas tidak semua penyimpangan bisa diterima. Seperti halnya dengan hubungan kita dengan yang berbeda agama: boleh saja berteman, tapi tidak untuk menikah.

Saya bukan ahli bahasa, juga tidak pernah belajar bahasa secara mendalam, tapi sekarang saya punya sentimen sendiri terhadap kata ‘toleransi’. Selama kita ini masih menoleransi perbedaan, tapi tidak pernah benar-benar menerimanya.

terima/te·ri·ma/ v cak menyambut; mendapat (memperoleh) sesuatu

Jangan toleransi perbedaan, itu bukan sesuatu yang negatif, bukan penyimpangan.

Sambutlah, terimalah.

 

Bicara buku: Saksi Mata, cerita dari mereka yang kita tindas

Meskipun sekarang BJ Habibie merupakan sosok yang populer, yang kisah cintanya tidak hanya menjadi satu tapi dua film layar lebar – diperankan oleh aktor kondang Reza Rahardian pula, Presiden Indonesia ke-3 itu pernah jadi sosok yang dicemooh. Di bawah kepemimpinan Habibie lah Indonesia kehilangan Timor-Timor, begitu kata orang. Dalam masa jabatannya yang singkat, Habibie berhasil menuntun Indonesia yang sedang dalam masa transisi menuju demokrasi sekaligus melepaskan satu wilayah yang problematik untuk NKRI.

Waktu saya pertama kali mendengar soal Habibie dan TimTim, rasanya waktu masih di sekolah dasar, saya tidak pernah mengerti bagaimana satu negara bisa kehilangan bagiannya sendiri. Apalagi, Indonesia selalu mengagungkan persatuan dan bangga atas cengkraman eratnya dari Sabang sampai Merauke. Lagunya saja berbunyi bahwa “itulah hak milik kita, untuk selama-lamanya.” Dengan kebanggaan seperti itu, wajar bila keputusan untuk melepaskan TimTim menjadi tidak populer di Indonesia.

Baru ketika besar, saya tahu. Kita tidak kehilangan Timor-Timor, karena wilayah itu memang bukan milik kita pada awalnya. Continue reading

Bicara buku: Introducing Discworld

Good fantasy lets us escape from reality, great one reflects reality.  Discworld karya Sir Terry Pratchett adalah yang kedua, sebuah serial fantasi yang terdiri dari lusinan buku, dengan world-building yang sangat detail dan unik, dan kadang-kadang membuat kita menertawakan atau malah merenungkan realita kita sendiri.

Saya sudah baca Discworld sejak dua atau tiga tahun yang lalu, tapi saya batasi supaya jangan sering-sering. Sedih kalau habis dibaca semua (saya juga menerapkan sistem yang sama untuk penulis lain, supaya tidak habis dibaca semua). Setelah menyelesaikan salah satu bukunya yang berjudul ‘Amazing Maurice and His Educated Rodents‘, saya baru sadar kalau Discworld memang kurang terkenal di Indonesia. Ketika saya cek di Gramedia.com, hanya tiga buku pertama yang sudah diterjemahkan, dan itu pun tersedia hanya dalam sistem print on demand yang harganya lebih mahal.

Untuk generasi saya yang tumbuh bersama Harry Potter, rasanya kehilangan sekali ketika Deathly Hallows terbit. Saya sendiri jadi mencari-cari serial fantasi lain, tapi favorit saya, Bartimaeus Trilogy karya Jonathan Stroud, akhirnya pun selesai karena memang cuma sebuah trilogi. Memang banyak serial fantasi lain, tapi seringnya kecewa ketika mencoba membacanya.

Makanya ketika saya kenal Discworld, saya bahagia. Continue reading

Bicara buku: Persahabatan dan hubungan dalam A Little Life

Saya banyak membaca, totalnya 81 buku tahun 2016 saja. Akan tetapi, saya tidak banyak menulis dan berkomentar soal buku-buku yang saya baca. Seringnya terlupakan begitu saja. Ini usaha saya untuk lebih banyak menulis soal buku-buku bacaan. Semoga bermanfaat.

Setiap saya ke toko buku di tahun 2016, pasti saya menemukan setidaknya satu buah buku ini. A Little Life karya novelis Amerika Hanya Yanagihara, yang sebelumnya juga menuliskan People in The Trees. Buku ini tidak hanya populer, tapi juga mendapat respon baik dari kritikus sastra – menjadi finalis Man Booker Prize dan National Book Award di tahun 2015. Intinya: worth a read.

(Catatan: Saya baca versi elektroniknya di kindle, karena buku fisiknya cukup tebal (lebih dari 500 halaman) dan agak berat untuk saya pribadi.)

Ceritanya dimulai dengan cukup standard: empat sahabat yang baru memulai hidup di usia dua puluhan, meniti karir di kota New York. Berteman sejak kuliah meski minat dan latar belakang yang berbeda-beda. Jude, Willem, JB, dan Malcolm, dan orang-orang lain yang hidupnya bersinggungan dengan mereka juga. Lama kelamaan, cerita berfokus pada Jude yang menderita serangan sakit dan pincang akibat kecelakaan yang tidak pernah diceritakannya, juga hubungannya dengan teman-temannya. Continue reading

Refleksi akhir tahun: Pekerjaan, rutinitas, kebosanan, dan David Foster Wallace

“Kenapa nggak cari kerja lain?” tanya Ibu saya, entah sudah yang keberapa kalinya, baik ke saya langsung maupun lewat orang lain.

Ibu saya memang tidak pernah menyatakan keberatan tentang pekerjaan saya yang sekarang, tapi juga tidak sepenuhnya setuju. Alasannya sih sederhana, uang.

Saya pernah bercerita juga soal pekerjaan dan uang di sini, spesifiknya soal gaji saya yang tidak tergolong besar. Tapi orangtua saya tidak ada yang membaca blog saya (dan memang tidak usah, sebenarnya).

Entah kenapa saya ingin menulis soal ini. Efek akhir tahun, mungkin. Continue reading

“Jokowi itu komunis kayanya,” ucap seorang ketua organisasi buruh di kota industri terbesar di Asia Tenggara.

Ketika kata-kata kehilangan makna dan hanya dijadikan alat penguasa, buruh pun bisa menyumpahi komunisme tanpa tahu apa yang diperjuangkannya.