Tidak ada Eichmann di Cikarang

Siapapun yang pernah membaca soal Holocaust pada Perang Dunia II pasti pernah mendengar nama Adolf Eichmann. Meskipun bukan orang yang mencetuskan genosida terhadap orang Yahudi, Eichmann menjadi sosok penting dan monumental.

Jurnalis Hannah Arendt dalam tulisannya mengenai sidang Eichmann di Jerusalem, yang berjudul  Eichmann in Jerusalem: A Report on the Banality of Evil (artikel asli diterbitkan oleh The New Yorker, 1963), mengamati bahwa Eichmann dengan tenangnya mengeksekusi program genosida tanpa mempertanyakan soal kemoralan dan efeknya. Eichmann dengan gamblang menyatakan bahwa dia melakukan semua kejahatan tersistematis itu karena perintah. Oleh Arendt, sikap ini disebut sebagai ‘banality of evil’, ketika suatu bentuk kejahatan dianggap biasa saja dan menjadi normal, diterima secara umum tanpa dikaji lebih lanjut.

Banality of evil seringkali hanya dikaitkan dengan kepatuhan atas perintah, yang memang benar dalam konteks Eichmann, tapi juga sikap atau penerimaan dari masyarakat ketika kejahatan itu dilakukan, yang memungkinkan terjadinya kejahatan itu untuk berlangsung tanpa banyak perlawanan dari lingkungan.

Dua puluh tahun setelah akhir Perang Dunia II, Indonesia punya genosidanya sendiri. Banyak versi yang berbeda-beda soal apa yang sebenarnya terjadi saat itu, dimulai dari dugaan kudeta oleh PKI dan penculikan para jenderal Angkatan Darat pada malam 30 September 1965 dan bulan-bulan sesudahnya. Continue reading

Advertisements

Landslide

Saya adalah tempat sampah buat teman-teman saya.

Sering sekali saya mendapat chat atau telepon, yang cuma dimulai dengan, “Dev, lagi sibuk nggak?” atau malah cuma, “Dev.” Ini datang dari orang yang sudah berminggu-minggu tidak pernah mengobrol dengan saya. Orang-orang yang biasanya hang out dengan temannya yang lain, tapi ketika sedih atau butuh, sayalah yang dihubungi. Continue reading

Home

IMG_20170902_224547_390

What is it called when you get a sombre realization that as you grow up and life goes on, you spend more and more time away from a place you call home? How going home used to be a mundane, trivial routine that we did every day, and now becomes only an occasional thing. How home isn’t the place you go home to at the end of the day, only at long weekends or holidays.

Amazingly, how a place never loses its warmth and familiar feeling, despite distance and time. How despite the other, countless nights you spend at other places, your bed at home is still the most comfortable among all? How despite the little changes, it’s still the same place you spend most of your life in?

I hope the Dictionary of Obscure Sorrows can come up with an answer.

Saya lihat, saya datang, saya Instagram: Tapi untuk siapa?

 

Perkenalkan, saya pengguna berat Instagram dengan handle @DevinaYo, sejak 2012. Saya termasuk salah satu pengguna pertama Instagram di Android. Sepertama apa? Selevel saya daftar supaya dikabari ketika Instagram sudah bisa diunduh di Android, ketika teman-teman saya kebanyakan belum tahu apa itu Instagram. Seniat itulah saya sama Instagram, niat yang masih bertahan hingga sekarang.

instagram for android.jpg

Banyak bio singkat di Instagram yang berembel-embel “visual diary”. Zaman sekarang, label visual diary itu bohong. Kebanyakan akun di Instagram lebih mirip galeri ketimbang diari: dikurasi habis-habisan untuk menampilkan yang terbaik. Continue reading

Bicara Buku: When Breath Becomes Air – What makes a life worth living?

Life wasn’t about avoiding suffering.

– Paul Kalanithi in When Breath Becomes Air

When Breath Becomes Air is a memoir by Paul Kalanithi, posthumously published in early 2016 and made it as a finalist for Pulitzer Prize in 2017.

Since young, Kalanithi had always wondered about life, death, mind, and everything else in between. His decision to become a neurosurgeon was an attempt to answer these questions. As a resident in a busy hospital and a neurosurgeon for that matter, Kalanithi must decide which life he must prioritize first, which to be saved, and whether they should be saved.

Dealing with brain, which controls almost all of our bodily function, Kalanithi must use not only technical but also moral judgment in doing his work. Continue reading

This Town

It’s funny how things never change in this old town.

This is one of those places which somehow always manage to float outside time, whose people seem to stay the way they were, exactly as you remember when you were ten years old, cruising the streets on top of your bicycle with your child gang. Defying the general rule of schools, which always dramatically improve after you graduate, your alma mater stays the same. The classrooms even look intact, preserved in time. You’re only slightly disappointed when you check the third desk on the left and found no ‘math sucks’ doodle you carved years ago. Continue reading

Bicara Buku: Islamic State dan para pendukung Rizieq

“You have moved yourself down the menu. But eventually they’re going to come after you.”

King Abdullah II of Jordan, from Black Flags: The Rise of ISIS by Joby Warrick

Banyak buku yang bicara soal Islamic State, terlalu banyak malah, sampai kita bingung sendiri soal cerita siapa yang benar. Black Flags karya Joby Warrick adalah satu dari sekian yang berusaha menelusuri jejak IS dari awal kemunculannya, sebuah karya jurnalistik yang memenangkan hadiah Pulitzer tahun lalu.

Continue reading